Mencintai Kambing Bukanlah Hal yang Mudah


Mencintai Kambing Bukanlah Hal yang Mudah
Sumber Foto: sejutabuku.com

Kenapa manusia harus mencintai kambing? Atau minimal belajar mencintainya? Apa keistimewaan dari hewan yang berjenggot satu ini? Selain baunya yang amis, dan tahinya yang seperti biji pepaya, hewan ini termasuk tipikal hewan yang sembarang. Lantas, kok yo repot-repot kita dianjurkan mencintai kambing oleh Mahfud Ikhwan.

Buku karya Mahfud Ikhwan ini, adalah angkasa imajinasi pertamanya dalam bentuk kumpulan cerpen (kumcer). Bagi saya pribadi, buku kumcer yang semacam ini, memang sulit jika dibandingkan dengan satu buku utuh lain yang pernah ditulis olehnya. Buku ini, memang tidak sedahsyat buku Dawuk. Namun, buku ini juga tidak kalah baik dalam mewakili ciri khas seorang Mahfud Ikhwan.

Buku yang diterbitkan kembali oleh penerbit Pojok Cerpen ini, punya nilai tawar yang tentu tidak bisa kita remehkan. Entah mengapa, pembuka buku ini diawali oleh cerpen yang berjudul Moh. Anas Abdullah dan Mesin Ketiknya. Mahfud, dalam cerpen ini, saya kira terlalu jujur. Ia benar-benar berani, untuk membuka kendala seorang penulis (seperti dirinya) ketika menyelesaikan sebuah tulisan

Cerpen pembuka ini sebenarnya adalah gambaran nyata tentang kondisi kebanyakan yang dialami oleh penulis. Dari gangguan kecil sampe gangguan yang paling besar, tentu setiap penulis pernah mengalaminya. Hal tersebutlah yang sebenarnya ingin ditegaskan Mahfud dalam cerpen ini. Cerpen yang selesai ditulis 20 tahun lalu ini—di mana waktu itu PC dan laptop menjadi barang yang mewah—membawa kita bernostalgia dengan kondisi para penulis di zaman itu.

Cerpen selanjutnya adalah kelanjutan puzzle dari sebuah kumpulan kisah, yang coba Mahfud bagi untuk para pembaca karyanya. Cerpen yang berjudul Jeritan Tengah Malam ini, ibarat racun yang daya sebarnya begitu cepat. Para pembaca, bisa dipastikan akan diaduk-aduk perasaannya oleh cerpen yang satu ini. Cerpen yang menceritakan kisah perburuan manusia terhadap monyet ini, seakan menampar muka orang yang mudah sekali menyimpulkan sesuatu.

Bagaimana tidak, diceritakan dalam cerpen ini, monyet menjadi binatang yang bersalah atas kerusakan ladang dari para petani. Sosok aku dalam cerpen ini, membawa para pembaca mengimajinasikan berada pada saat kejadian tersebut berlangsung. Tidak hanya itu, rasa penyesalan yang seharusnya selesai di tokoh cerita, saya rasa ikut menjangkiti pembaca cerpen ini.

Mulai di titik ini, saya merasa kesal dengan sosok Mahfud. Dengan begitu pandainya ia membuat para pembaca berpikir sedemikian rupa. Tidak lupa para pembaca dibuatnya menafsirkan dengan sebebas mungkin. Di akhir cerita, kita masih harus menanggung nelangsa yang membuat kita mengangkasa berupa-rupa.

Cerpen ketiga yang berjudul Melati, membawa kita untuk menafsirkan ulang rasa sayang kepada binatang. Binatang yang dimaksud adalah kucing. Binatang yang menjadi salah satu favorit dari para pecinta binatang ini, disadur Mahfud menjadi sosok yang begitu hidup. 

Bukan saja kucing yang direkayasa Mahfud, sehingga membutakan manusia untuk mencintainya. Sosok kucing dalam cerpen ini, pada akhirnya menjadi tidak tergantikan. Kematian sang kucing, lantas membuat Pak Wi—tokoh utama cerita—merasa kehilangan separuh hidupnya. Upaya yang dilakukan para tetangga untuk menghiburnya, berakhir dengan sia-sia belaka.

Cerpen keempat adalah kebalikan cerpen yang sebelumnya. Digambarkan, tokoh Mufsidin begitu ganas mengkonsumsi kucing. Hal itu dilakukannya agar ia bisa sembuh dari penyakit gilanya. Setelah sembuh, Mufsidin pun berganti nama menjadi Mursyidin. Pergantian nama ini pun menghasilkan banyak perbalahan. Hingga akhirnya menghasilkan spekulasi tentang kematian Mufsidin.

Kematian Mufsidin dianggap banyak orang sebagai sebuah karma. Karma karena pernah memakan kucing. Yang menghantarkan ia mati dengan cara diterkam Harimau, di perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. Kematian Mufsidin ditutup-tutupi oleh teman seperantauannya, agar anaknya tidak mengetahui hal tersebut. Dan selanjutnya terjadilah sebuah kebohongan yang direncanakan.

Jin-jin Itu Tak Lagi Sekolah, adalah cerpen yang menggelitik sekaligus cerpen yang membuat kita menerka-nerka. Kita dibuat berpikir keras untuk memahami pola pikir bangsa jin. Di posisi ini, saya kira Mahfud adalah konseptor yang handal. Unsur spiritualitas seorang Kiai dipadukan Mahfud dengan hal yang tak kasat mata. Tentu kita akan mengamini hal tersebut, akan tetapi, hal yang menariknya Mahfud mampu mengacak-acak kepakeman relasi dua hal tersebut.

Digambarkan kalau ada saling lobi antara Pak Kiai dan bangsa Jin. Saling lobi ini tidak mirip seperti yang ada di film-film. Namun terkesan lebih santai, dan ibarat kisahnya dua karib yang bertemu kembali karena suatu keperluan.

Selanjutnya cerpen Belajar Mencintai Kambing, yang menjadi judul buku ini sendiri. Hal yang paling saya ingat adalah, bahwa mencintai hewan (kambing) itu tidak sesederhana biasanya. Jika dicermati betul-betul, cerpen ini mengajarkan tentang kedewasaan dan arti sebuah pengorbanan. Keinginan yang kita punya, pada akhirnya bisa kalah dengan rasa cinta karena telah banyak pengorbanan yang telah ditorehkan.

Cerpen-cerpen sisanya, adalah semesta imajinasi Mahfud yang tidak kalah bagus dengan cerpen-cerpen sebelumnya. Buku ini ibarat mata rantai yang berjalin kelindan. Akan sulit jika kita mencari awal dan ujungnya. Yang jelas, Mahfud ingin membuat pembacanya tidak hanya sekedar penasran. Akan tetapi, para pembaca yang budiman diberikan kebebasan yang seluas-luasnya dalam memaknai dan menafsirkan semua cerpen yang ada.

Pada akhirnya, semesta imajiasi Mahfud, ibarat kambing itu sendiri. Dianggap jelek dan hina jika tidak dikenal lebih dalam, dan akan menjadi kesayangan jika pernah menghabiskan waktu bersama. Ibarat penggembala, Mahfud menggiring kambing-kambingnya agar tidak tersesat, sekaligus bisa kenyang ketika mencari makanan di luar.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel