Menanam Waktu dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]


Menanam Waktu dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]
Sumber Foto: pxhere.com

Awal Pagi dan Senja Terakhir


Jalan itu bergelombang,

Lima langkah saja tidak akan bisa mencapai.

Apa yang ada di ujung pemberhentian.

Namun pilihannya adalah terus.

Bagaimanapun juga, keindahan senja,

Bukanlah suatu alasan langkah langkah itu menuju.



Habislah sore itu dalam kelabu.

Di mana angka lima menatap ujung sandaran

Dan aku menemukanmu di antara mega-mega

Saling bertukar kehangatan

Pada angin juga sang temaram

Yang memanggil kita tuk melangkah bersama

Karena langit selalu tahu,

Apa yang akan menjadi senja terakhir

Di mana awal pagi tergenggam senyum,

Dan tak akan terlepas,

Sebagai hadiah dari seorang teman.




Senyum dan Kejutan


Selamat datang mimpi,

Hal yang selama ini ku tunggu kehadirannya

Karena setetes tawa dalam suara

Mengetuk seluruh cahaya

Dan dengan senyuman, kita bersinar…



Kejutan untuk teman hari ini,

Adalah cinta…

Yang sepertinya menghapus luka

Serta memberi warna pada kata-kata

Sebait lagu untuk teman hari ini,

Adalah bernyanyi bersama,

Memeluk sejuta cerita,

Bahwa kita tak akan pernah berjalan sendiri

Ketika sang waktu telah selesai

Detik berputar tak pernah terhenti

Untuk menulis,

Sebuah puisi untuk semua hari ini

Yang tintanya sudah menghiasi putihnya awan.




Menanam Waktu


Di antara cahaya penghias pagi

Tak pernah biasnya berbincang tentang malam

Karna embun yang menangis,

Sepertinya berputar jam

Mencari tiga belas yang misteri

Entahlah.

Setidaknya, kau ada untuk mengetuk mimpi-mimpi



Kenangan yang kita cipta,

Saat matahari menghangatkan genggaman.

Dalam aliran air dan sentuhan.

Tatapanmu masihkah menyakitkan…?

Bunga,

Bisakah kau memberiku sebait pelukan?

Untuk menemani gelap gulita jalan

Untuk menampung kisah-kisah

Dan kau pun di sana.

Mendekapku sebagai teman

Menanam sebuah waktu untuk kita abadikan.

Melihat fajar yang lelah.

Dan kau pun di sana.

Menantiku datang tersesat jejak

Menyambut suaraku dalam nada-nada lagu kita

Walau kau tak bisa membawakanku purnama malam.

Tetaplah menjadi bintang-bintang,

Yang setiap kali kerlingnya tampak,

Aku menangis.

18 April 2014




Suara di Dalam Ruangan


Bercerita langit tentang hari

Di mana senyuman memulai cahaya

Dan langkah mengikuti tawa

Ketika matahari melepas siangnya,

Kita telah terbawa pada suara di dalam ruangan.

Yang lelahnya menunggu panas meratap

Dan lagu kita menari-nari pada nada

Sepahit apa pun awan kelabu,

Kita tetap bernyanyi menyambut jemari…



Lepaskan…

Berteriak gundah bersama tatapan

Dan teruslah singgah dalam kesejukan

Di matamu aku berteduh

Berteman secangkir bintang malam yang manis,

Di hatimu aku bersenandung.

Dan aku sanggup menjangkau setetes puisiku.

Ini hadiah untukmu

Sekuntum kata-kata yang ku buat dengan setetes tinta biasa

Hanya sepucuk cinta tanpa warna

Dan aku yakin kau akan terus mendekapnya

Tanpa harus membalasa…

02 Mei 2014

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel