Membincang Musik dan Gaya Hidup 70’an


Membincang Musik dan Gaya Hidup 70’an
Penulis: Algo YP
Sabtu, 30 September 2016, terdapat dua kegiatan yang mengangkat musik 70’an di Kota Bandung. Bagi yang ingin berjoget riang dan bernostalgia dengan musik 70’an, bisa langsung pergi ke gelaran gigs di jalan Abdul Soleh. Sedangkan bagi yang haus akan informasi seputar musik 70’an, sila hadir ke acara diskusi terbuka, yang bertempat kedai kopi Los Tjihapit milik Om Bayu. 
Sore itu, saya memilih untuk datang ke kedai kopi tersebut. Dari semenjak tiba hingga pulang saat malam telah larut, saya masih terpukau oleh keberadaan kedai kopi tersebut. Siapa yang mengira, di dalam sebuah pasar tradisional terdapat sebuah warung kopi sederhana, yang memberikan ruang diskusi terbuka.
Jangan menyangka letak kedai ini berada di luar sekitar pasar. Kedai kopi Los ini tepat berada di jantung hiruk pikuk pasar. Menurut keterangan sang pemilik, kedai ini mulai beroperasi seperti pedagang pasar pada umumnya yakni pukul 05.00 - 17.00.
Diskusi musik ini diselenggarakan oleh Om Tobing dan teman-teman komunitas “Layar Kita.” Tujuannya berbagi informasi terkait musik 70’an, dan yang lebih penting, tentu saja, mengenang kembali lewat obrolan hangat bagi orang-orang yang hidup di masa tersebut.
Seperti yang dikatakan Om Tobing sendiri, bahwa tidak ada target khusus dari acara ini. Perbincangan mengenai musik era 70’an, diselenggarakan dengan maksud mengenang kembali babakan penting dalam sejarah permusikan tanah air. Yang mengalami era musik ini bisa berziarah ke masa lalu, dan membagikan pengalamannya kepada mereka yang hadir dan tidak mengalami era tersebut. Sebuah era yang menurut Om Tobing, sangat memengaruhi perkembangan musik selanjutnya.
Kios atau kedai yang berukuran 4x6 ini, tidak disulapnya secara khusus untuk kegiatan disksui. Kondisi ruangan di biarkan apa adanya. Toh ngopi memang selalu dibarengi dengan diskusi, selorohnya.
Iya, berdesakan memang. Tapi itu yang membuatnya menarik. Tidak ada jarak antara pengunjung dan narasumber. Beberapa kursi meja sederhana ditambah pencahayaan berwarna kuning, menambah kesan obrolan semakin hangat. Dan secangkir kopi semakin menambah kenikmatan tersendiri, mengingat di luar hujan turun dengan derasnya.
Meski tanpa konsep yang rumit dan gelaran acara sederhana, diskusi ini sanggup menghadirkan dua narasumber yang kompeten dan bergelut langsung dengan era musik 70’an. 
Pertama ada Bang Ismail Reza, penulis media yang konsen di musik 70’an. Abang kelahiran akhir Orde lama ini, juga kolektor pringan hitam. Yang satu lagi ada Om Handi Pramono, penyiar Radio Sonara khusus di program acara Blues, yang banyak memberi materi berdasarkan pengalamannya puluhan tahun menulis musik di media cetak konvensional. Khusus untuk tahun 70’an, blio paham betul karena tak jarang bersentuhan dan bergelut langsung di tengah lapangan.
Berbagai hal terkait musik hingga gaya hidup di tahun 70’an, perlahan dikupas dalam diskusi ini. Membicarakan Kota Bandung menjadi pematik yang membuka perbincangan sore itu, sebab Bandung, dianggap sebagai salah satu kota yang turut andil dalam membentuk perkembangan musik tanah air.
Selanjutnya diskusi mulai mengalir dengan sendirinya. Kisah legenda besar dunia The Beatles, Frank Zappa, Deep Purple, Led Zeppelin hingga musisi lokal macam The Rollies, Beny Soebagja, Tarantula, dan Rhoma Irama mengalir dalam diskusi tersebut.
Satu hal yang tidak kalah menarik dibicarakan pada sore itu ialah, saat menyinggung mengenai peran media yang turut membagikan informasi seputar musik. Salah satunya adalah majalah Aktuil, yang digawangi B. Juyanto dan Toto Rahardjo. Majalah musik yang tak melulu bicara “musik” ini, tercatat pernah mendatangkan Deep Purple di tahun 1975. Melalui media asal Bandung inilah, berbagai hal mengenai informasi musik dan gaya hidup pada zamannya dapat diakses.
Beberapa pengunjung yang dapat dibilang tidak mengalami jaman tersebut, begitu khidmat dalam menyimak. Dan di ujung diskusi, pemandangan para pedagang yang sedang mengemasi dagangannya, serta pertunjukan musik dari salah satu peserta diskusi, menandai bahwa nostalgia sore itu telah berakhir.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel