Melawan Ujaran Kebencian

Melawan Ujaran Kebencian
Sumber Foto: ksp.go.id
Setelah menonton sebuah video, ingatan saya seperti dilempar ke masa lalu. Saya ingat tiap selasa sore, bersama adik dan kakak sepupu, sudah bersiap diri untuk menonton Kesatria Baja Hitam Rx, di rumah tetangga yang memiliki parabola.

Harap dimengerti, bagi kami yang tinggal di Cirebon, untuk bisa mendapatkan saluran televisi swasta macam RCTI dan SCTV, hanya bisa melalui parabola. Itu kisaran tahun 1994 atau 1995, saat junta militer masih berdiri di republik ini.

Nah, saya mau cerita sedikit soal tetangga saya yang punya parabola ini. Jadi, beliau itu warga keturunan Tionghoa. Rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah saya. Dan beliau adalah satu-satunya keturunan Tionghoa di kampung kami.

Saya biasa memanggil dia Oo, diambil dari kata Koko. Dan memanggil istrinya dengan sebutan Taci, diambil dari Cici. Saya lupa nama asli Oo dan Taci tersebut. Tapi saya ingat, putri sulungnya bernama Anita, dan yang bungsu bernama Vivi. Keduanya bersekolah di SD dan SMP Santa Maria.

Oo tadi membuka usaha toko kelontong, yang terletak di depan rumahnya. Orangnya humoris. Suka ngasih permen, dan becandain saya sampe mewek, haha. Kebetulan si Vivi tadi sebaya dengan saya dan temen masa kecil.

For your information, sekitar lima tahun lalu di satu malam lebaran, saya bertemu kembali dengan Vivi. Setelah sebelumnya hilang kontak hampir dua puluh tahun lebih, tepat ketika dia pindahan rumah. Gila men, dia bening banget, udah mirip air mineral haha.

Intinya, kami bergaul dan bertetangga dengan baik. Kami juga sering saling berkirim makanan. Bahkan ibu biasa membetulkan setrika atau radionya yang rusak ke Oo tadi. Namun, sejujurnya ada satu peristiwa di masa kecil, yang setelah saya dewasa, sadar bahwa tindakan tersebut sangat keji dan menjijikkan.

Jadi, siang sepulang sekolah saya biasa bermain di sungai belakang rumah. Biasanya sambil mencari buah kersem bersama para kakak sepupu, yang sebenarnya usia kami tak terpaut terlalu jauh.

Nah saat mencari kersem tadi, tiba-tiba kakak kakak saya, sambil menghadap ke belakang rumah si Vivi, mereka berteriak sekeras mungkin dari kejauhan "Cinaaaaa Geseeeek" sambil lari dan tertawa. Dan saya pun latah mengikuti kelakuan para sepupu tadi..

Sungguh saya menyesal. Sungguh keluarga Oo tadi orang baik. Bahkan waktu itu, tiap Selasa sore saya masih menonton dengan nyaman. Bahkan mereka tak menyinggung sedikitpun ulah saya dan para sepupu. Saya pribadi yakin betul, tidak mungkin jika mereka tidak mendengar teriakan kami. Mungkin mereka memaklumi kami yang masih anak-anak.

Yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan saya, dari mana dan bagaimana kakak sepupu saya bisa berucap seperti itu? Apa cuma ikut-ikutan seperti saya yang latah meniru perilaku kakak sepupu? Jika iya, mereka mengikuti siapa? Orang tua, materi pelajaran dan guru sekolah? Dari televisi? Atau dari siapa?

Saya berharap, mata rantai kebencian, dosa sejarah, dan sentimen primordial tak lagi diwariskan ke generasi selanjutnya. Biarkan tunas itu tumbuh bebas tanpa harus tercemar polusi. Dan saya bersyahadat, tetangga lama yang tak lagi di ketahui kabarnya itu, adalah orang baik dan besar jiwanya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel