Kesaksianku (2)


Kesaksianku (2)


Setelah Bapak dikuburkan, keadaan persis seperti perkataan Ibu tempo hari, yang sempat tak ku percaya. Uwa Jajang menjadi satu-satunya orang yang mengantikan Bapak. Menjadi pemilik tunggal pesantren.

***

Sejak semula Ibu sudah keberatan dengan kehadiran Uwa Jajang di pesantren. Sejak Bapak memintanya mengajar. Ibu sudah merasakan rencana busuk Uwa Jajang. Ia pengin menjadi satu-satunya orang yang memiliki pesantren. Dan akan menyingkirkan orang lain yang akan berusaha memilikinya selain ia sendiri.

****

Ibu menerima dan sebetulnya bukan soal pesantren yang Ibu beratkan. Melainkan Kematian Kak Niskala dan Bapak.

“Kau membunuh anakku, kini suamiku.” Tuduhan Ibu ketika Bapak menghembuskan nafas terakhirnya, setelah Mengimami shalat Jum’at. Masih dapat ku dengar dengan jelas.

Santri-santri putra maupun putri, terkaget-kaget ketika Ibu mengucapkan tuduhan itu. Termasuk orang-orang yang baru selesai jum’atan ketika itu.

Sebaliknya Uwa Jajang menganggap tuduhan Ibu hanya sebagai reaksi pada kenyataan yang tak bisa diterimanya. Tuduhan pembunuh Bapak bisa berlaku pada siapa saja dan oleh siapa saja. Mungkin Uwa Jajang punya siasat lain, ia bisa saja membalikan perkataan Ibu; kau sendiri yang membunuh anak dan suamimu. Atau bisa saja ia menuduhku, sebab aku yang paling mungkin menjadi pengganti Bapak.

***

Uwa Jajang terlihat tenang seperti biasanya. Dalam tuduhan Ibu sekali pun, ia masih tersenyum. Dan malah berusaha menenangkan Ibu dengan berkata. “Kayat, tenangkan dirimu. kullu nafsin dzaiqotul maut, setiap yang bernyawa pasti mati. Tidak bisa tidak. Termasuk aku, kamu, dan semua orang yang ada di sini. Perkara mati hanya waktu dan caranya saja, yang tak diketahui manusia. Ikhlaskan lah.”
Ketika itu Ibu menatap tajam muka Uwa Jajang yang tenang. Aku di belakang Ibu, tak bisa berbuat apa-apa selain mengelus pundak Ibu. Memastikan agar Ibu tak terbawa emosi.  

***

Yasinan digelar; malam pertama, kedua, ketujuh hingga ke seratus.

Uwa Jajang semakin giat di pesantren, mengajar, mengisi ceramah di majelis, dan tentu saja mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan administrasi pesantren.

Sejak kematian Bapak, Ibu jarang keluar rumah. Tapi, setelah segala ritus peringatan kematian bapak selesai digelar, suatu malam, Ibu berkata padakku:

“Niskala datang padaku melalui cermin. Dengan wajah penuh lebam seperti saat mayatnya ditemukan. Ibu tahu, ia juga datang padamu dengan cara yang sama ia datang pada Ibu, Nik. Ibu yakin ia juga memberitahu hal sama kepadamu, sebagaimana ia memberitahu pada Ibu: Uwa Jajang yang membunuh Niskala, kemudian membunuh bapak.”

***

Ibu mengajakku melaporkan pembunuhan itu ke kantor polisi. Aku bertanya balik pada Ibu. 

“Bagaimana kita membuktikan kalau Uwa Jajang yang membunuh Kak Niskala dan Bapak?” Saat itu Ibu terdiam kemudian kembali bicara. “Biar Niskala yang menerangkannya langsung. Ya, biar ia yang menjelaskan bagaimana ia dibunuh.”

“Melalui cermin, seperti setiap malam ia pernah datang pada Ibu dan Aku?”

“Ya! Ya! Begitu, kau memang cerdas, Nik.”

“Bu, Kak Niskala sudah meninggal. Ia datang pada Ibu dan Aku untuk megadukan penyebab kematiannya. Tapi ia tidak berkata sedikitpun soal melapor ke kantor polisi. Bagaimana membuat kesaksian hantu? Agama juga menjelaskan orang yang sudah mati tidak bisa berhubungan dengan yang masih hidup. Seseorang di cermin yang menjumpai Ibu dan Aku, mungkin saja mirip Kak Niskala, tapi siapa tahu jika sebenarnya ia jin, setan, atau dedemit nakal, yang suka memindahkan santri nakal ke dalam bedug saat mereka tidur di masjid.”

Ibu ambruk ke kursi di samping ranjang biasa ia tidur. Ibu menangis dan aku berdiri di depannya, mematung tak berguna.

“Gusti Pangeran! Niskala mati juga bapaknya, pembunuhnya ada di sekitar kami. Apa yang harus aku perbuat, Gusti!”

Perasaan aneh menyelubungi dadaku. Semula hangat kemudian menjadi panas. “Demi Kak Niskala, Bapak, dan Abah yang sudah mendirikan pesantren ini dengan susah payah! Bu, Uwa Jajang akan mendapat ganjaran yang setimpal.” Aku mengusap air mata Ibu, lalu memeluknya.

***

Malam itu aku terbangun dari tidurku. Sebuah mimpi berhasil membangunkanku. Aku putuskan untuk mengambil wudhu. Ketika aku kembali ke kamar dan melihat cermin, aku tak menemukan pantulan diriku di cermin itu.  Tapi ada orang lain di cermin itu: Kak Niskala. Air mataku meleleh, ku raba-raba cermin itu. Kak Niskala dengan lebam di wajahnya, mengenakan peci di kepala, dan kemeja yang sama saat ia ditemukan dalam keadaan mayat.

Aku sempat memanggilnya. “Kak, Kakak. Bagaimana kabarmu di sana?”

Kak Niskala menggeleng pelan, ku anggap itu sebagai jawaban kalau ia tidak baik-baik saja. Saat ku raba-raba lagi cermin itu, Kak Niskala lenyap. Muncul gambaran baru. Aku tahu  tempat yang muncul di cermin itu. Belakang pondok asrama putra, tapi penampakan yang muncul dicermin itu saat malam. Gelap. Sepi.

Uwa Jajang bersembunyi di balik pohon rambutan, Kak Niskala berjalan dari rumah dan akan melewati pohon rambutan itu. Uwa Jajang melepaskan bogem dan berhasil mengenai muka Kak Niskala. Kak Niskala terpental, tapi kemudian menahan dengan satu kakinya.

“Kalau Uwa mau memiliki pesantren untuk diri Uwa sendiri, silakan. Tapi Jangan usik Ibu dan Bapak.”

“Bocah Kampret! Tahu apa kamu? Justru Bapakmu lah biang kakekmu tak memilihku.”

“Bukan Bapak, tapi Uwa sendiri. Uwa malah menikah tanpa memberitahu dan meminta restu kakek terlebih dahulu.”

“Bocah tegik! Malah sok ceramahi aku rupanya. Cuih..!”

Uwa Jajang meloncat, melesat ke udara melampaui tinggingnya pohon rambutan. Kak Niskala berdiri melihat Uwa Jajang, yang kini melesat ke arahnya.  Uwa Jajang menerjang, Kak Niskala menahan terjangan Uwa Jajang dengan kedua tangannya. Mereka beradu kekuatan. Kak Niskala komat-kamit dan sejak saat itu, ia seperti mendapat kekuatan baru. Ka Niskala memutar-mutar Uwa Jajang, ia sempat berucap.

“Mampus kau! Tua bangka! Tengik!” lalu membanting Uwa Jajang ke langit.

***

Dinihari menjelang shubuh Ibu mengendap-endap masuk ke rumah Uwa Jajang. Setelah berhasil masuk melalui pintu depan tanpa bunyi dan tanpa ketahuan. Ibu segera mencari-cari kamar Uwa Jajang. Ceu Edeh, melihat Ibu yang berjalan hati-hati sekali. “Bi Kayat, mau apa malam-malam kemari? Bi, masuk lewat mana..?” Dengan gesit Ibu menotok bagian leher kiri dan kanan Ceu Edeh. Ceu Edeh pingsan, mungkin tak akan lama. Kini Ibu tahu di mana Kamar Uwa Jajang. Tepat dari balik pintu kamar, tempat ketika Ceu Edeh keluar lalu menyalakan saklar lampu dan memergoki Ibu.

***

“Sebelum kamu, Nik. Biar Ibu yang membalasnya.”

“Jangan Bu, Uwa Jajang itu kuat. Kak Niskala saja dibunuhnya.”

“Naramanik, anakku, dengarkan baik-baik.” Ibu sambil mengusap-usap rambutku, kebiasaan yang sering dilakukannya saat aku kecil.

“Jangan Lupa. Di dalam darahmu dan darah Ibu, serta almarhum Kakakmu mewaris darah dan jalan hidup seorang jawara. Tentu seharusnya kamu tidak lupa, kisah kakekmu yang dulu Ibu sering ceritakan. Sekali waktu, sorang lelaki suruhan Tentara Republik datang pada kakekmu, meminta kakekmu untuk membantu mereka menumpas gerombolan Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo di Garut, Tasik, dan Bandung. Kakekmu tak gentar, dan berhasil membantu Tentara Republik meringkus Kartosuwiryo.” Aku tersedu-sedan mendengarnya. Ibu melanjutkan perkataannya.

“Jika terjadi sesuatu pada Ibu, atau jika Ibu mati. Pergilah ke Purwakarta, bukankah kamu menyukai Nirmala? Temui Kang Hiber dan mintailah bantuannya.”

***

Kak Niskala melesat ke langit menyusuli Uwa Jajang. Mereka bertarung di sana. Di udara. Sebelum Kak Niskala benar-benar sampai, Uwa Jajang melemparkan sesuatu ke arah Kak Niskala. Kak Niskala dari bawah melesat bagai peluru, melihat benda bercahaya berlawanan arah menujunya. Ia menghindar dengan memutar tubuhnya. Uwa Jajang segera mengacungkan tangannya ke langit, untuk yang kedua kalinya benda yang sempat dilemparkan, kembali keluar dari tangannya. Kini Kak Niskala berdiri melayang sejajar dengan Uwa Jajang.

“Mati Kau Bocah Tengik!”

***

“Jawara dari Tasik memang luar biasa hebat. Tapi, tentu saja kau bukan apa-apa jika dibandingkan aku, Kayat!.”

***

Ibu menemukan Uwa Jajang tengah tidur terbaring menyamping ke kiri. Ceu Edeh masih tergeletak pingsan. Ibu jalan perlahan ke tempat Uwa Jajang tidur. Ibu mengambil pisau dari sarung di pinggangnya. “Mati kau Jajang!”

***

“Aku sudah menemui Kang Hiber, satu tahun sebelum lulus dari Karawang, Bu. Aku sudah..”

“Ibu sudah tahu, kamu melihat kematian bapakmu, bukan? Sebulan setelah Kakakmu tiba dari Purwakarta, dari masa bergurunya pada Kang Hiber. Ia menceritakan apa yang di lihatnya; kematian bapakmu. Tapi ia tak menceritakan kematian dirinya sendiri. Satu malam, ia tantang berkelahi Uwa Jajang, tanpa sepengetahuan Ibu dan bapakmu. Niskala berusaha menghentikan Uwa Jajang, agar tidak membunuh bapakmu kelak. Meski Niskala sudah tahu jika umurnya akan berakhir di tangan Uwa Jajang. Makanya kamu tidak terkejut saat bapakmu meninggal, kan? Kamu sudah tahu sebelumnya, dan Ibu tahu semuanya sebelum kamu, Nik.”

***

Setelah tombak cahaya menghujam dada tanpa merobek kulit dan dagingnya. Cermin itu menunjukan saat Kak Niskala melayang jatuh, dan mendarat dibawah pohon rambutan. Ia mati. Dan mayatnya baru ditemukan sore hari oleh santri nakal, yang hendak mencari tempat bersembunyi demi lari dari waktu sorogan.

Aku tak kuat melihat rentetan kejadian itu. Ku pukul cermin di kamarku. Aku ingin memberitahu Bapak, tapi ku urungkan. Kak Niskala muncul sekali lagi di cermin itu, ia seolah menangkap niatanku, dan ia menggeleng, kemudian tersenyum, dan lenyap. Ku benamkan mukaku ke bantal, berusaha untuk kembali tidur. Tapi tak bisa.

Sebelum adzan shubuh berkumandang, Aku segera pergi keluar dari kamarku. Berlari menuju pohon rambutan. Tiba di sana, Aku menangis meraba-raba tanah, ku endus tanah bekas mayat kakakku terakhir ditemukan tak bernyawa.

“Aku akan membalasnya!”

***

Ibu mengganti pakaiannya. Kini ia mengenakan pakaian serba hitam, dengan sabuk hijau besar terikat di pinggangnya. Ibu membuka lemari dan mengambil sebilah pisau kecil lengkap dengan sarungnya. Lalu Ibu meraih tanganku, dan meletakkan sebuah batu akik berwarna hijau pekat.

“Kau akan melihat Ibu dari batu itu. Itu milik kakekmu dulu. Ia menggunakannya saat pergi bersama Tentara Republik untuk memburu Kartosuwiryo dan gerombolannya. Ibu melihat kakekmu berkelahi melawan gerombolan Darul Islam, melalui batu itu. Kini kamu akan melihat Ibumu berkelahi melawan Uwa Jajang melalui batu itu. Jika bukan Uwa Jajang yang mati, kau akan melihat Ibu yang mati, Nik.”

***

Tiba di depan pintu rumah Uwa Jajang, Ibu menyilang tangannya sambil membaca sesuatu, dan dengan sendirinya Ibu bergerak masuk menembus pintu, tanpa memijak tanah, tanpa melangkahkan kakinya.

Di dalam rumah Uwa Jajang, Ceu Edeh keluar dari kamarnya, mungkin hendak ke kamar mandi untuk kencing. Ia menyalakan lampu, dan kaget melihat Ibu ada di ruang tengah. Padahal seingatnya pintu telah ia kunci setelah isya. Ia bertanya bagaimana ibu bisa masuk.

Ibu melesat, berdiri berhadapan satu depa dengan Ceu Edeh, lalu menotok lehernya dari dua arah; kanan dan kiri. Ceu Edeh ambruk. Ibu segera masuk ke tempat Uwa Jajang tidur.

***

Pisau yang semula disarungkan dipinggangnya, ia keluarkan, lalu dihujamkannya ke arah jantung Uwa Jajang. Tapi sebuah tangan menangkisnya. Uwa Jajang tidak benar-benar tidur. Ia memites tangan Ibu, sebelah tangannya mencekik Ibu; membenturkan kepala Ibu, darah segar muncrat dari kepala Ibu. Ibu terkulai lemas. Uwa Jajang meloncat dari ranjangnya.

“Jawara dari Tasik memang luar biasa hebat. Tapi, tentu saja kau bukan apa-apa jika dibandingkan aku, Kayat!.”

***

Ceu Edeh bangun dari pingsannya. Dengan tenaga yang belum pulih, ia mengesot, menarik kaki Uwa Jajang.

“Jangan, Kang! Bi Kayat, Isteri Kang Ahmad, Kakakmu. Jangan bunuh Bi Kayat!”

“Edeh, aku takkan membunuh perempuan ini. Tapi, tentu saja, ia akan ku buat hidup sengsara."

Uwa Jajang menjambak rambut Ibu, membenturkannya lagi. Kini ia menjambak kerah baju Ibu, menatapnya tajam. Sepasang bola mata Uwa Jajang memerah. Ibu meringkik dengan darah mengucur dari kepalanya. Satu kedipan mata Uwa Jajang, dan Ibu memekik, lalu pingsan.

“Kau akan tetap hidup. Hidup sebagai perempuan gila! Cuih..!”

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel