Istilah “Gantung Buku” dan Literasi Kita


Istilah “Gantung Buku” dan Literasi Kita

Pada satu waktu, saya menghadiri acara launching web yang diselenggarakan di dekat tempat saya kuliah. Web yang dilaunching hari itu, masih terbilang baru dan masih seumur jagung. Tempat launchingnya pun terbilang kecil dan amat sederhana. Tentu saja bagi ukuran orang-orang yang hadir di hari itu.

Menariknya, launching web pada hari itu juga diisi dengan semacam diskusi. Yang tentu saja ada pemateri di situ. Pematerinya pun tidak tanggung-tanggung, yaitu redaktur salah satu web Islam papan atas di Indonesia. Dan satunya lagi penulis beken, yang sedang beranjak menjadi sastrawan nasional.

Di penghujung diskusi, salah satu peserta ada yang bertanya dengan durasi waktu yang lumayan lama. Entah ingin menunjukkan kapasitasnya, atau karena moderatornya tidak enak untuk menyela peserta tersebut, saya juga kurang tahu. Yang saya ingat, peserta tersebut banyak sekali menyampaikan mukadimmah, dan membuat forum menjadi sedikit membosankan.

Pertanyaan yang diajukan sebenarnya tidak tunggal, dan tertuju kepada dua pemateri yang ada. Uniknya, ada satu pertanyaan dari penanya tadi yang sebenarnya membuat saya tercengang. Penanya tersebut bertanya lebih tertuju kepada forum, perihal buku yang digantung di lokasi acara tersebut berlangsung. Penanya tadi menambahkan, apakah kita tidak resah dengan keadaan buku yang digantung seperti itu?

Saya yang awalnya menganggap kalo pemandangan itu biasa-biasa saja, tak urung ikut memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut. Jika dibilang resah, sebenarnya tidak sama sekali. Karena saya pribadi masih menganggap itu adalah bentuk seni dan konsepan yang ditonjolkan dari tempat tersebut. Akan tetapi, jika dipikir ulang, saya juga ikut bertanya-tanya, kenapa buku yang mesti digantung? Begitu pentingnya-kah sampai buku yang harus digantung?

Oke, saya akan coba mendedah hal ini, dan semoga saja nanti ada manfaat yang bisa diambil.

Pertama, memang cukup hubungan asmara saja lah ya yang digantung, kalau bisa hubungan pertemanan jangan. Oke saya bercanda barusan. Maksud saya begini, kita pasti sudah sering mendengar istilah “gantung” identik dengan yang namanya “mengakhiri.” Akan tetapi, mengakhiri yang dimaksud di sini bisa saja karena memang sudah waktunya, atau lebih kepada dipaksakan.

Contohnya gantung diri. Kasus gantung diri bisa diartikan sebagai sebuah keputusasaan. Tentunya keputusasaan terhadap kondisi hidup yang sedang dijalani. Akan tetapi beda halnya dengan penghukuman yang memakai cara gantung diri ya....

Yang jelas, kasus gantung diri lebih kepada hal yang negatif, ketimbang positifnya.

Kedua, “gantung sepatu.” Istilah ini kerap kita dengar jika ada pemain sepak bola yang pensiun. Entah itu pensiun karena faktor umur yang tidak lagi muda, faktor kecelakaan yang menimpa dirinya, ataupun faktor-faktor lainnya. Tentunya istilah yang kedua ini lebih baik ketimbang yang sebelumnya. Walaupun akhirnya sama saja; sama-sama mengakhiri.

Ketiga “gantung raket.” Istilah ini bisa kita temukan pada atlet yang menekuni cabang olahraga yang menggunakan raket. Walau sama-sama dari cabang olahraga, gantung raket terkadang memang terkesan lebih sendu ketimbang gantung sepatu. Pasalnya, kondisi dari orang-orang yang gantung raket, biasanya mayoritas tidak sebaik orang yang gantung sepatu. Oke tidak perlu lebih jauh, gantung raket pastinya juga soal mengakhiri.

Namun, akrabkah kita dengan istilah gantung pena? Mungkin sebelumnya sudah ada yang pernah mendengar istilah tersebut, dan mengetahui maknanya. Akan tetapi, istilah ini sangat jarang untuk kita temui. karena secara tidak langsung, istilah ini lebih ditujukan kepada penulis. Dan dalam lingkaran para penulis sendiri, istilah ini jarang sekali dipakai. Mungkin akan dipakai jika memang konteksnya sangat berkenaan dengan kondisi yang terjadi.

Nah, kembali lagi pada topik awal yang sebelumnya saya singgung. Pernah gak kira-kira kita menemukan istilah “gantung buku” dipakai dalam keseharian? Saya rasa mungkin pernah, tapi perbandingannya satu berbanding dengan seribu lah ya. Saya kira akan menjadi pekerjaan yang membuang-buang tenaga, jika kita repot-repot menggantung tenaga. Kecuali kalau memang kita ingin menyelenggarkan pameran yang memakai konsep gantung buku, itu lain hal.

Ada kisah menarik datang dari negeri kincir angin. Iya negeri yang pernah menjajah kita itu, Belanda. Di Belanda, ada tradisi menggantung buku yang berlaku bagi siswa-siswa yang baru lulus dari sekolah menengah ke atas. Tradisi gantung buku ini, dijadikan simbol perayaan di sana. Akan tetapi, hal ini bukan berarti siswa-siswa yang telah lulus tadi berhenti membaca. Digantungnya buku—yang biasanya dengan bendera dan sepatu—menandakan kebahagiaan mereka karena telah melewati satu fase pendidikan formal.

Di Indonesia sendiri, buku adalah hal yang kompleks dan sarat makna. Tidak hanya itu, buku sering kali dijadikan barang keramat yang dijaga dengan sepenuh hati. Mohammad Hatta sudah mencontohkan hal itu. Tentang bagaimana sayangnya ia terhadap buku. Dari kisahnya Hatta ini, menjadi hal yang wajar kalau penanya yang saya sebutkan di awal tadi, terkesan lebih kepada protes ketika melihat buku—dan juga majalah—yang digantung.

Husnudzon saya, penanya tersebut memang terilhami dari kisahnya Hatta dalam merawat buku-bukunya. Akan tetapi, kasus gantung buku yang saya singgung ini juga sebenarnya sarat makna. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan kalau tuan rumah lokasi acara launching web itu sengaja ingin merusak buku—dengan cara menggantungnya.

Positif saya, tuan rumah lokasi memang ingin menawarkan konsep rak buku yang berbeda. Karena jarang sekali kita temui tempat menaruh buku yang semacam itu. Yang bisa dibilang, konsep gantung buku ini sedikit mirip-mirip kuburan gantung!

Lah, berarti bisa disimpulkan kalau gantung buku itu sebagai pemakaman buku? Oh ya gak begitu juga sih. Positifnya saya lagi, menggantung buku semacam ini memang dijadikan sebagai bentuk perlawanan simbolik. Lhooo... kok yo malah abot gini?

Pasalnya, dengan menggantung buku semacam ini, bisa diartikan tamparan kepada kita yang terkadang masih menganggap remeh buku. Terlebih, kondisi pembaca buku cetak pun memang tidak sebanyak dulu. Pada akhirnya, saya menganggap bahwa buku yang digantung ini menjadi bagian keunikan kita dalam melihat dan menilai buku. Sekaligus cara kita untuk mengabadikan buku cetak.

Ini semua bukan karena saya tidak setuju dengan adanya buku elektronik. Akan tetapi, karena cara pandang kita dalam melihat dan menilai sesuatu tidak bisa diseragamkan. Yang akhirnya, pilihan untuk lebih membaca buku cetak atau buku elektronik dikembalikan lagi kepada pembaca. Tergantung kenyamanan yang diperoleh dan kenikamtan yang didapat. Semilir angin mengatakan; “Yang terpenting bukan kita membaca buku apa, dan bentuk yang buku apa yang kita baca (cetak atau elektronik). Tapi yang terpenting adalah jangan sampai kita berhenti membaca!”

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel