Harapanku Tak Akan Bisa Dibunuh!

Harapanku Tak Akan Bisa Dibunuh!
Penulis : Eka Desi Susanti

Judul                           : Hope
Sutradara                    : Lee Joon Ik
Produser                     : Byun Bong-hyun, Seoang Chang-yeon, Kim Yong-dae
Pemeran                     : Sol Kyung-gu, Uhm Ji-won, Lee Re
Durasi                         : 2 jam 2 menit
Tanggal Rilis               : 02 Oktober 2013

“Sewaktu ia memintaku membagi payung dengannya, aku sempat ragu. Aku tahu dia termasuk orang asing, bahkan aku sudah terlambat masuk ke sekolah, tapi dia basah kehujanan. Jadi akupun membaginya. Semua orang menyalahkanku. Meskipun aku berusaha berbuat baik” – Im Soo.

Ucapan Im Soo tersebut, terlontar dan didengar oleh seorang wanita paruh baya yang kini hanya bisa duduk di atas kursi roda. Ia adalah seorang ahli terapis anak. Pada bagian ini lah, yang biasanya membuat para pecinta film Korea menangis pecah saat menonton film Hope.

Film Hope merupakan salah satu film yang mendulang sukses dan terus mendapat apresiasi, bahkan bisa dibilang hampir di seluruh penjuru dunia. Bagaimana tidak, saat film Korea lain kebanyakan menyuguhkan adegan cinta romantis dan persoalan harta, film Hope coba mengangkat sisi lain dari negara yang tersohor karena K-Popnya.

Film Hope merupakan film yang diangkat dari kisah nyata seorang gadis berumur 8 tahun. Kisahnya terjadi di negeri Ginseng, Korea Selatan pada tahun 2008. Film ini menceritakan seorang anak perempuan yang mendapat nasib buruk, dan kejadian tersebut seolah-olah menjadi malapetaka bagi dirinya dan keluarga.

Film Hope tidak lain adalah kisah tentang korban kekerasan seksual (pedofil), yang dialami seorang anak perempuan oleh seorang laki-laki tua, saat ia hendak berangkat ke sekolah. Lee Joon Ik mampu mengemas kisah nyata ini secara apik, dan seolah-olah ia ingin mengajak seluruh penonton, terutama para orang tua, untuk lebih melek bahwa kasus ini bisa terjadi kapan pun dan di mana pun.

Cerita ini diawali oleh Lee Joon Ik (sutradara), dengan diperlihatkan bahwa Im Soo (Lee Re) berasal dari keluarga yang rukun, tentram dan bahagia. Im Soo merupakan anak semata wayang dari ayah dan ibunya, yang diperankan oleh Sol Kyung-gu dan Uhm Ji-won. Im Soo adalah gadis yang pintar menyanyi, ceria, dan begitu disukai bahkan oleh teman laki-lakinya.

Kelemahannya hanya satu, ia tak begitu menyukai pelajaran matematika. Pada suatu hari, saat ia hendak pergi ke sekolah, hujan turun begitu deras hingga membuat Im Soo sedikit berleha-leha saat hendak berangkat sekolah. Di sini lah awal mula malapetaka menghampiri dirinya dan keluarga.

Ketika ia hendak berangkat ke sekolah, Im Soo terpaksa berjalan sendirian dengan membawa payung kuning di tangannya. Karena ia tahu pasti, bahwa teman-temannya yang lain sudah lebih dulu berangkat ke sekolah dan ayahnya akan pergi bekerja. Ibunya pun selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai penjual di toko rumahnya, dan kemungkinan besar tidak akan bisa mengantarkannya ke sekolah.

Ketika dalam perjalanan pergi ke sekolah, ia selalu mengingat pesan ibunya untuk melewati jalan yang ramai dan menghindari jalan atau gang yang sempit. Im Soo terlihat seolah begitu  memahami apa yang dimaksud oleh ibunya. Namun, siapa sangka nasib buruk akan menimpa meskipun kita sudah berusaha waspada. Siapa pun tidak ada yang bisa memprediksi kapan nasib buruk akan datang.

Ketika dalam perjalanan, Im Soo bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya yang sedang kehujanan, dan terlihat sempoyongan. Laki-laki itu menghampiri Im Soo yang saat itu sudah hampir melintasi pagar sekolahnya, dan meminta Im Soo berbagi payung dengannya. saat itu Im Soo memang sudah sempat ragu, tapi akhirnya dia membagi payung dengan laki-laki tersebut karena merasa kasihan.

Laki-laki paruh baya tersebut sedari awal memang sudah menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan, tapi Im Soo belum menyadarinya. Selanjutnya, setelah Im Soo membagi payung dengannya, laki-laki tersebut melakukan tindakan bejat yang sudah ia rencanakan terhadap Im Soo. Hingga saat pergantian babak, Im Soo ditemukan di sebuah tempat yang kotor dan tak terawat, tubuhnya hampir tidak dikenali karena berlumur darah.

Mengetahui kejadian tersebut, seketika ayah dan ibu Im Soo pun menangis dan pucat pasi. Bahkan, seluruh penonton film ini akan dibuat gemetar mendengar kabar keadaan Im Soo yang hampir mati, dan didiagnosa memiliki banyak luka koyakan, dari rektum sampai ke usus besarnya, hingga harus dioperasi untuk memotong sebagian dari usus besar dan usus kecilnya.

Ditambah lagi, dengan keadaan tubuh Im Soo yang babak belur karena siksaan dan pukulan keras yang didapat dari pelaku tersebut, membuat siapa pun yang melihatnya, tanpa berfikir panjang akan sangat geram, dan segera ingin menemukan dalang di balik nasib yang menimpa gadis mungil tersebut.

Hal ini juga mirip dengan yang dirasakan oleh ayah dan ibu Im Soo. Sebagai orang tua, mendengar kejadian yang menimpa anaknya, seakan-akan sebagian hidupnya pun runtuh, merasakan sebuah penyesalan yang begitu dalam. Bahwa ternyata, waktu dan canda tawa bersama buah hati begitu hampir tidak terasa, upaya untuk meredam penyesalan itu lagi-lagi pun hanya melalui tangisan.

Permasalahan ternyata tidak cukup sampai disitu. Berita yang menimpa Im Soo mulai terdengar oleh seluruh masyarakat sekitar, sehingga media massa pun dibuat berlomba-lomba untuk mendapatkan informasi detail mengenai kasus yang menimpa keluarga tersebut. Hal itu membuat ayah dan ibu Im Soo harus memindahkan dirinya di ruangan yang lebih tertutup.

Ada satu adegan menarik yang bisa kita lihat, yaitu pada saat ayah Im Soo dilanda kepanikan ketika mengetahui kantong perut Im Soo mengalami kebocoran. Dengan tanpa pikir panjang, ayahnya pun berusaha membantu menahan cairan yang keluar dari dalam tubuh Im Soo. Namun waktu itu, Im Soo menolak dan meronta.

Semula ayahnya tak menyadari bahwa Im Soo mengalami trauma yang begitu berat, ketika melihat laki-laki di dekatnya. Im Soo menganggap bahwa ayahnya sama dengan penjahat yang melakukan tindakan menjijikkan kepada dirinya. Hal tersebut kemudian memperparah rasa bersalah ayah Im Soo terhadap dirinya.

Di sisi lain, kita akan diperlihatkan bagaimana kemudian perjuangan orang tua yang merasa putus asa karena melihat nasib buruk, dan rasa sakit yang tak terperi menimpa buah hatinya. Bahkan impian yang selama ini dibangun, lewat kerja keras pun tak lagi menjadi prioritas utama. Saat itulah kita dapat melihat rasa bersalah yang sangat dalam yang dirasakan oleh para orang tua, belajar dari kasus ayah dan ibu Im Soo.

Bahwa apa yang dialami oleh anaknya saat itu adalah sebuah kelalaian fatal, dalam memberikan rasa pengawasan dan keamanan terhadap anak. Beragam penyesalan terus menerus berkemelut di dalam diri ayah dan ibu Im Soo. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti dari rasa saling menyalahkan yang seolah-olah semakin memperburuk suasana.

Kedua orang tua Im Soo pun mengerahkan segala cara untuk membuatnya pulih dari trauma, dan agar dapat menjalani aktivitas kesehariannya, dengan tetap menjadi gadis yang ceria. Dimulai dari menghadirkan seorang ahli terapis anak yang setiap harinya terus memberikan sugesti positif terhadap Im Soo, mengajaknya berinteraksi lewat hal-hal yang disukainya.

Hingga suatu hari, Im Soo dengan nada pelannya mengatakan bahwa ia berharap ketika ia membuka mata dan bangun dari tidurnya semua keadaan kembali seperti semula, tidak ada lagi rasa takut didalam dirinya bertemu dengan teman-teman sekolah, tidak perlu lagi ia minum banyak obat, tidak lagi ia merasakan sakit ketika ia harus mengganti kantong kotoran diperutnya. Pernyataan ini pun kemudian yang menjadi usaha orang tua Im Soo agar ia kembali bersemangat dalam menjalani hidupnya kedepan.

Tak cukup di situ, seorang laki-laki yang begitu menyimpan dendam di matanya—yang tak lain adalah ayah Im Soo—terus berjuang dalam proses sidang pengadilan yang tak kunjung selesai. Akan tetapi, lagi dan lagi semesta seolah-olah tidak mendukung baik keluarga tersebut.

Meskipun Im Soo telah bersaksi, sidang pengadilan terakhir memutuskan bahwa secara brutal tersangka menyerang seorang anak perempuan. Akibat dari penyerangan tersebut, korban terluka dan mengalami cacat permanen. Dia seharusnya dihukum berat, namun karena tersangka mabuk dan tidak sadar, berdasarkan UU Kasus Khusus yang berlaku di negeri Ginseng tersebut tentang Kekerasan Seksual pasal 9, pasal 7, dan pasal 14 tersangka hanya dihukum selama 12 tahun.

Keputusan ini pun banyak menuai protes, terutama keluarga dan kerabat Im Soo. Bagaimana tidak, kita pun sebagai penonton akan dibuat kebingungan akan hal ini. Permintaan keluarga korban untuk pemberian hukuman berat tertolak hanya karena terdakwa mengatakan dirinya tak bersalah. Sebab tak melakukan apapun dengan alasan mabuk dan tak mengingat apapun. Padahal, semua bukti telah menyorot kepadanya. 

Kasus utama dalam film ini, seolah-olah menjadi kasus sepele. Seperti hukuman bagi penyetir kendaraan yang tertangkap karena mabuk.

Di akhir kisah film ini, kita akan dibuat menangis haru karena rasa kecewa yang didapat oleh keluarga tersebut. Terlebih, di adegan akhir Im Soo yang menatap mata ayahnya yang merasakan bahwa ada dendam tak terbendung yang disimpan ayahnya. Ia pun sontak langsung berlutut di kaki ayahnya, ketika ayahnya hendak berusaha melukai tersangka. Dan sudah bisa ditebak, hati seorang ayah pun langsung seketika cair melihat anaknya berlutut berusaha menahannya. Sehingga ayahnya pun keluar dari ruang sidang tersebut dengan tangis sembari membopong anak kesayangannya tersebut.

Semenjak hari itu, keluarga Im Soo tidak lagi terpaku dengan kesedihan yang berlarut-larut. Im Soo yang sudah berani pergi ke sekolah dan bermain bersama teman-temannya tak lagi merasa khawatir, meski dalam dirinya masih menyimpan memori perih itu. Ia tidak ingin hal tersebut menjadi benalu yang tak  berkesudahan. Bersama keluarga, guru, teman yang terus memberikan support sytem yang baik terhadapnya, kini ia tak perlu lagi khawatir dengan kantong yang ada di perutnya.

Film ini merupakan sebuah bentuk dedikasi untuk anak korban kekerasan, baik secara fisik, mental serta kekerasan seksual. Film ini juga dapat dijadikan sebagai edukasi terhadap orang tua di mana pun berada. Tentang bagaimana penanganan orang dewasa terhadap anak yang mengalami kasus pedofilia, dan kritik terhadap perlindungan anak baik masyarakat maupun hukum.

Film ini juga layak direkomendasikan sebagai bahan diskusi awal terhadap komunitas yang peduli dan bergerak di bidang perlindungan anak. Guna memberikan identifikasi dan pemetaan terhadap dampak, dan ancaman yang terjadi pada anak kasus pedofilia.


Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

UIN Sunan Kaljaga Jogja
Kader PMII Rayon Pondok Syahadat

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel