Gubuk Tua

Gubuk Tua
Foto: cerpin.com

Sore itu, kami sedang asik rebahan di ruangan tengah kontrakan. Aku, Dayat, dan Fajar, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sore adalah waktu kami berkumpul kalau dari masing-masing tidak ada agenda melipir sepulang kerja. Ditengah obrolan itu, kami sepakat berlibur setelah sebulan di genjot kerja. Kebetulan, jadwal libur kerja kami bebarengan. Si Fajar mengusulkan untuk pergi mendaki. Katanya, berlibur ke alam adalah tempat yang tepat untuk menyegarkan pikiran dari kerjaan yang begitu melelahkan. Sebenarnya, aku sendiri ingin menikmati alam, tapi tidak mendaki, ke pantai, inginku. Karena Dayat juga sepakat ingin mendaki. Akhirnya aku ikut suara mayoritas.

“Ok fix, besok kita berangkat mendaki” Ucap Dayat.

Keesokan harinya setelah segala peralatan sudah dipersiapkan, kami bertiga berangkat. Di dalam bus, kami sibuk bercanda. Dayat dengan semangat membayangkan apa saja yang akan ia lakukan di puncak nanti. Rupanya, dia sudah list apa saja yang akan dia lakukan di selembar kertas di sakunya.

“Jangan sesumbar dulu kamu yat. Paling juga nanti gak kuat sampe puncak” Ledek Fajar, dengan muka ngece.

“Apa sih kamu Jar” Timpal Dayat dengan muka kesal.

Fajar memang suka sekali mengejek Dayat. Di kontrakan, setiap kali kami bertiga kumpul di ruang tengah. Dayat selalu menjadi bulan-bulanan bullyan. Kadang aku sendiri merasa kasihan. Tapi dengan muka slengean Dayat, aku juga tak segan-segan ikut-ikutan bully dia. Mungkin karena sudah biasa di bully, Dayat biasa saja menanggapinya. Kadang sesekali menimpali dengan nada kesal, tapi tak sampai marah-marah. Seperti saat itu. Setelah pasang muka kesal, malah ia tertawa terbahak. katanya, kalau saja dia berhasil naik sampai puncak. Dia bakalan poto telanjang di atas puncak. Kami selalu tertawa karena tingkah konyolnya.

Wajar saja, Dayat baru pertama kali mendaki. Dulu memang kami beberapakali merencanakan pergi mendaki. Tapi tak pernah terwujud karena waktu libur kami yang gak bersamaan. Barulah sekarang kami kompak libur kerja.

“Dek, mau pergi kemana. Kok tasnya gede-gede gitu” Tanya bapak tua di samping kursi duduk kami.

Bapak itu terlihat sangat renta. Dia duduk sendirian. Memakai baju putih, celana congkrang hitam selutut. Terlihat kusut, macam petani yang pulang sehabis selesai mencangkul di sawah. Kulitnya keriput. Kantung matanya luber, seolah tak kuasa menahan berat bola mata hitamnya itu. Giginya tinggal beberapa gelintir. 

“Mau mendaki kek” jawabku.

“Coba kau tanya, mau kemana bapak tua itu” Bisik Fajar dengan wajah yang begitu heran.

“Mau ke hutan. Hati-hati kalian” Celetus bapak tua mengingatkan kami, seolah mendengar bisikan Fajar.

Aku hanya menganggukkan kepala saat itu. Fajar masih diliputi rasa heran. Kami berdua terdiam, bertatap muka sambil komat kamit saling bertanya dan berkira-kira. Siapa bapak itu, dari mana dia.

“Woy. Ini lihat vidio anak SMP mesum di gubuk. Mainnya lucu, hahaha”

Dalam keheningan itu. Dayat menggaplok pundakku, ia menunjukkan vidio yang ia tonton. Ia tertawa terbahak, suaranya begitu kencang, membuat penumpang seisi bus menoleh ke arah kami. Dasar otak cabul. Sempat-sempatnya buka situs bokep di dalam bus, batinku.

“Bocah mesum, kecilin suaranya cuk. Malu didengar orang se-bus” Ucap Fajar, kesal.

“Iya. Iya..” Jawab Dayat, tertawa.

Saat kami sibuk menanggapi tingkah konyol Dayat. Tiba-tiba saja kursi yang sedari tadi diduduki bapak tua itu sudah kosong. Kami keheranan kemana bapak itu pergi.

“Mungkin pindah kursi gegara Dayat itu berisik nonton bokep” Kata Fajar.

“Bapak yang mana sih?” Tanya Dayat yang sedari tadi sibuk mainan HP.

“Mangkannya kamu jangan sibuk sendiri, malah nonton bokep” Kataku, menggaplok kepalanya.

Kami sibuk mencari-cari kemana bapak itu pindah kursi. Kami pandangi satu persatu tiap  seat kursi dari depan sampai ke belakang. Fajar keheranan, ia terus memperhatikan penumpang bus itu. Aku sudah berkali-kali mencari bapak itu dari depan sampai belakang. Belum juga ketemu. Apakah mungkin bapak itu sudah turun. Tapi bus belum juga berhenti, belum ada penumpang yang turun, dalam hatiku heran.

“Ah, mungkin bus tadi berhenti saat kita sibuk ngobrolin Dayat” Jelas Fajar.

“Iya sih, tapi perasaan dari tadi, bus belum berhenti. Tapi..”

“Sudahlah. Positif aja” Sela Fajar memotong omonganku. Berusaha menenangkan diri.
***


Setelah turun dari bus kami berjalan melewati pemukiman warga. Aku heran, rumah-rumah panggung itu sepi tanpa penghuni. Kemanakah para warganya. Awalnya kami berpikiran akan ada tumpangan untuk sampai pada pos awal pendakian. Tapi, selama kami berjalan sama sekali tidak ada kendaraan yang lewat. Setelah setengah jam berjalan, terlihat dari kejauhan truk besar datang. Dengan perasaan senang kami langsung menghadang jalan untuk meminta tumpangan.

Akhirnya kami mendapat tumpangan dari truk itu. di atas truk itu terlihat tambang-tambang besar dan beberapa gompelan kulit batang pohon. Aku diajak duduk didepan bersama supir dan satu orang berpakaian loreng hijau. Fajar dan Dayat duduk di belakang truk. Kepada orang yang berpakaian hijau itu aku bertanya, mengapa rumah-rumah adat itu kosong tak berpenghuni. Kemana warganya. Beliau menuturkan, bahwa wilayah itu adalah lahan konservasi. Dilindungi untuk menjaga kualitas karbon di dunia. Kan akhir-akhir ini cuaca sangat panas, mangkannya konservasi wilayah  hutan sangat penting.

Tak lama akhirnya kami sampai pada pos pendakian awal. Daerah yang cukup tinggi. Gunung kelinci terlihat begitu indah dari situ. Di bawah puncaknya terlihat bebukitan yang begitu hijau, terlihat hutan yang begitu lebat. Kami turun, bapak berbaju loreng itu belum  menjelaskan kemana warga itu pergi. Truk itu melaju kembali setelah mengarahkan kami jalan menuju pendakian.
***


Kami memulai mendaki  setelah kami membaca ritual doa. Jalan yang kami daki cukup terjal bebatuan. Setelah melewati  jalur yang cukup curam, kami sampai pada pertengahan jalan menuju pos tiga. Jalannya datar, Dayat yang membawa  dua tas Carrier itu meminta istirahat. Wajahnya begitu lelah, bajunya basah, terlihat keringat yang mengucur di badannya. Aku dan Fajar yang merasa masih cukup tenaga untuk melanjutkan perjalanan harus mengalah, aku ajak yang lain istirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami sepakat mencari tempat yang cukup luas, tempat  yang cukup nyaman untuk selonjoran. 

Hutan ini begitu lebat. Pohonnya besar-besar, hanya sekelibat saja sinar matahari yang masuk, sinar itu masuk lewat celah dedaunan yang sedikit terbuka karena hempasan angin.  Jam menunjuk pukul empat sore, tapi suasana di hutan begitu gelap. “Nyalain senternya” Ujar Fajar.

Semak belukar tumbuh subur. Hanya jalan setapak ini yang tidak tumbuh rumput sedikitpun. Mungkin karena sering dilalui para pendaki. Jalannya hanya cukup dilewati satu orang. Di kanan dan kirinya semak belukar tumbuh setinggi dada. Kami melangkah pelan sambil menyorot senter ke kanan kiri, barangkali ada tempat yang cocok untuk istirahat.

Di jalan yang semaknya lebat ini kami harus tetap waspada. Ular, kalajengking, kelabang atau binatang melata lainnya bisa saja sewaktu-waktu menyerang. Pelan-pelan kami langkahkan kaki, tangan kami sibuk menyibak semak yang menghalangi jalan. Suara makhluk hutan begitu riuh. Derikan jangkrik, ciutan burung, ringkik suara kera, kelepekan burung terbang. Sewuwungan suara angin mengiringi perjalanan kami. Sesekali gemuruh geledeg terdengar menggema di dalam hutan. Di tengah pepohonan raksasa ini kami semacam liliput. Kadang, pohon-pohon itu juga mengeluarkan bunyi yang cukup membuat bulu merinding.

“Jar. Aku ditengah dong” Pinta Dayat dari belakang ketakutan.

“Yaudah sini yat” Jawab Fajar.

“Sini tasnya gantian aku bawa” Pintaku, melihat dayat yang terlihat sudah gak kuat membawanya.

Setelah Dayat dan Fajar, sekarang giliranku yang membawanya. Tas itu berisi peralatan bersama. Barang-barang pribadi, kami bawa masing-masing. Kami melanjutkan perjalanan, aku mengambil  posisi di depan, Fajar di belakang dan Dayat di tengah.

***


Di tengah jalan setapak itu, Dayat yang berjalan di posisi tengah, tetap saja ketakutan. Ia beberapakali memberitahu kami, seolah ada sekelibet suara yang memanggil-manggil namanya. Kerapkali ia melabrakku, memeluk tubuhku dari belakang. Selama perjalanan, kepalanya ia sembunyikan di punggungku. Kataku, mungkin perasaanmu saja. Atau mungkin itu suara cekikan kera. Begitupun Fajar menanggapi Dayat yang ketakutan. Kami berusaha untuk selalu tenang dan berfikir positif.

Aku selalu ingat perkataan orang tua. Kalau di tempat-tempat kayak hutan ini jangan berpikir macem-macem. Apalagi kalau berkata jorok. Itu sangat dihindari. Semacam pantangan, khususnya bagi para pendaki. Soalnya, hutan adalah tempat dari segala makhluk. Bila ingin aman, janganlah sesekali mengusik dengan melakukan hal yang tidak sopan. Kami berusaha saling mengingatkan untuk menjaga pantangan itu. Sejauh ini, dari pintu pendakian awal, belum ada dari kami yang melanggar.

“Heh. Itu coba lihat. Kayaknya tempat itu nyaman buat istirahat” Dayat meminta istirahat, menunjuk tanah agak lapang di bawah pohon besar yang akarnya begitu kuat mencengkram tanah.

“Boleh itu” Timpalku.

Akhirnya kami keluar dari jalan setapak itu. Seolah menemukan taman terbuka setelah melewati lorong panjang. Rasanya tubuh kami begitu segar, tiba-tiba saja datang energi tambahan, dengan penuh semangat kami bergegas menuju tempat itu. Tidak sabar kami ingin segera merebahkan badan. Dayat yang sedari tadi ketakutan, ia terlihat begitu ceria, ditariknya badanku, ia berlari mendahuluiku, semangat betul.

“Akhirnya bisa istirahat” Ucap Dayat.

“Lemah kamu” Ejek Fajar.

“Apa sih..”

“Udah. Udah..” Sergahku.

Dayat sudah tergeletak, berbantalkan tas, ia rebahan dengan santainya. Aku dan Fajar masih berdiri. Memandangi sekeliling tempat itu. Tas kami disenderkan di batang pohon itu. Pohon itu begitu besar, akarnya setinggi kepala kami.

“Dengan pohon sebesar ini, rasanya bisa bikin lima rumah panggung” Celetus Fajar dengan takjub.

“Sungguh besar” Gumamku.

Hari sudah begitu gelap. Hanya dengan bantuan sinar senter kita bisa melihat sekeliling tempat itu. Tanah agak lapang kurang lebih seluas enam meter persegi. Selebihnya pohon-pohon besar menjulang tinggi berdiri dengan rapih. Udara di hutan itu begitu dingin, merasuk hingga sum-sum tulang. Suara-suara makhluk seisi hutan tanpa henti berirama.

Aku sempat terdiam, barang lima menit, sekedar memandangi batang-batang pohon itu dengan senter yang kusorotkan. Tangkainya sama saja dengan satu batang pohon manga yang tumbuh di belakang kontrakan. Semakin lama aku pandangi seisi hutan itu, semakin bulu leherku merinding. Pohon-pohon itu seolah sedang mengamati kami. Suaranya begitu menggelora ketika angin menggerakkan pucuknya. Aku sudahi memandangi pohon itu. Berusaha menghilangkan prasangka buruk. Aku alihkan pikiranku dengan membuka tas, menyiapkan beberapa peralatan untuk mendirikan tenda.

Dingin semakin menusuk, gaungan suara angin semakin riuh. Sesekali serigala mengaung dengan nada yang begitu sedih, persis mirip bayi menangis. Derikan jangkrik yang saling berbalas bunyi. Semakin malam hutan semakin menampakkan kehidupan. Dalam keramaian bebunyian itu, suasana tetap saja terasa sunyi sepi.

Selagi aku dan Fajar sibuk mempersiapkan peralatan mendirikan tenda. Dayat yang sedang rebahan di sebelah kami tiba-tiba saja menghilang. Hanya terlihat tas yang tadi ia jadikan bantal.

“Dayat kemana?” Tanya Fajar, khawatir.

“Loh. Tadi kan rebahan di sampingmu” Jawabku.

Tiba-tiba saja Dayat datang dari belakang. Wajahnya terlihat begitu kebingungan, mulutnya terbata-bata ingin menyampaikan sesuatu. Matanya merem melek, badannya menggigil.

“Kenapa kamu Yat. Ada apa?” Tanyaku

“Di.. Di di” Dayat begitu gelagapan.

“Tenang dulu yat. Duduk dulu. Duduk” Ajak Fajar menenangkan Dayat, merangkulnya dan mengajaknya duduk.

Dayat menunjuk arah belakang pohon. Katanya disitu ada gubug, ia kebingungan, masalahnya, siapa yang berani tinggal di tengah hutan yang begitu menyeramkan itu. Ia begitu ketakutan, setelah ia memeriksa gubug itu. Dibelakangnya ada seorang bapak tua berjalan masuk ke dalam semak hutan yang begitu rimbun. Ia berjalan pelan kemudian hilang.

“Bapak tua itu berbaju putih, celananya hitam cingkrang selutu” Begitu Dayat bercerita.
Fajar dan aku saling bertatap. Terdiam agak lama, kami diingatkan oleh bapak tua yang duduk di samping bus kami saat di perjalanan.

“Masa sih bapak itu?” Tanya Fajar, keheranan.

“Ayo kita pulang “ Pinta Dayat ketakutan. 

Saat kami berjalan menuju tempat yang ditunjuk Dayat itu. Tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh. Seolah ada benda besar yang jatuh dari pohon.

Gubrak..

Suara itu mengagetkan kami. Sontak kami bertiga berkumpul saling berjaga, mencari-cari dari mana asal suara itu. Hutan terasa begitu sunyi, suara auman serigala berubah seperti bunyi tangisan perempuan yang begitu pedih. Derikan jangkrik tak begitu ramai seperti sebelumnya. Berbunyi selang satu menit.

Kami lanjut berjalan, selang berapa langkah, kami dikagetkan oleh tas Carrier yang jatuh tepat di depan kami. kami bertiga melongo. Saling bertatap penuh tanya, keheranan, ketakutan. Sesaat kemudian kami kompak membalikkan badan, melihat posisi awal tas itu di letakkan. Saat kami membalikkan badan..

Baaaa… Sesosok bapak tua nampak berdiri didepan kami.

Bapak tua itu berdiam diri dengan muka yang amat melas. Badan kami gemetar, saling memeluk, memejamkan mata, melungkupkan kepala. Selang berapa menit, kami membuka mata. Bapak itu sudah tidak ada.

Kami diliputi rasa penasaran yang begitu tinggi. Bapak itu mirip betul sama orang yang di bus, yang duduk di samping tempat duduk kami. Kami lanjut berjalan, tas itu tergeletak persis di depan gubuk. Mengapa tas itu di lempar tepat persis didepan gubuk itu, pikirku. Kami melangkah pelan waspada menuju gubuk itu. Fajar mengambil tas yang tergeletak itu. Kami bersama-sama masuk bebarengan ke dalam gubuk itu. Gubuk itu seperti tempat peristirahatan, ada dipan kecil di dalamnya. Beberapa peralatan tani berjejer rapih di dalamnya. Ada cangkul, arit, golok dan lain-lain.

Di bawah dipan, kami lihat kerangka tulang bersender di dinding kayu, dari kerangkanya tengkorak itu seperti mayat laki-laki. Helai kain putih dan hitam masih utuh hanya beberapa bagiannya saja sudah robek. Kami merasa begitu takut. Setelah kami amati isi ruang gubuk itu, pandangan kami di alihkan oleh lukisan yang terpampang di dinding gubuk. Ada lukisan bapak-bapak yang membawa cangkul. Emak-emak yang memakai caping dan menggendong rempah-rempah. Gunungan hasil bumi yang disekelilingnya orang-orang ramai berebut. Lukisan itu berderet, dan di paling ujung, terdapat lukisan segerombolan orang berpakaian hijau loreng yang sedang menodong senapan di keramaian warga.

Aku terus memandangi satu persatu lukisan itu, ku amati dan mencoba untuk menerka-nerka, apa maksud dari lukisan itu. Lukisan rumah panggung itu mirip pemukiman warga yang ada di bawah. Apakah mayat itu yang melukisnya. Siapakah dia? Mengapa ia hidup sendiri ditengah hutan yang begitu sepi ini.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel