Decak Sang Rakyat dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]


Decak Sang Rakyat dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]
Sumber Foto: pedomanbengkulu.com

Penulis : Hilmi Mudrikah

Sendu Perih

Embun berbisik dan mengusikku
Meramu sesak hati yang enggan lagi aku tempuh
Perihal rasa yang ku tuduh
Yang ku duga, akan enyah oleh waktu
Namun sayang, hatiku tetap menganut dan jatuh lebih sendu

Bersama suara percikan air itu,
Membawaku terjerumus ke jurang masa lalu
Bersamamu lagi, seperti saat itu
Bodohnya, air mataku  berlari menuju hulu dan terjatuh
Tuan, apa kabar?

Sejak saat itu, langit biru tak lagi berpihak kepadaku
Dan bahkan sampai saat ini
Kebodohanku masih saja menantimu
Tanpa meragu dan percaya
Bahwa dirimu juga menantiku

Tuan, apa kabar di sana?
Kisah kita, yang kian lama terbengkalai
Kini menjadi potret usang menyesakkan
Menatap dirimu yang tak lagi nyata
Menghilang dan tak mampu aku hentikan

Tuan, bisakah kau hadir sejenak?
Ada pesan dariku, perempuanmu
Setelah itu, tak apa kau tinggalkan
Tuan, aku sangat meridukanmu
Merindu dari dimensi yang berbeda

Tapi, lagi lagi itu kebodohanku
Tersenyum lalu kembali menangis

Yogayakarta, 24 Juli 2019


Maksud Sang Ibu


Di alur ini tak jarang aku bertanya
Bagaimana aku kelak?
Dapatkah aku terbang bak bunga Dandelion, melayang bersama angin lalu tumbuh subur di tanah berlabuh?
Ibuku menjawab: “kamu pasti bisa”

Aku bertanya lagi, bagaimana aku kelak?
Bisakah aku menjadi lampu di tengah gelapnya alur dunia?
Ibuku menjawab: “kamu pasti bisa”

Aku bertanya lagi,
Ibu, bolehkah aku terbang ke manapun aku mau?
Ibuku menjawab: “terbanglah sesukamu, lalu pulanglah untuk ibu”
Ibu, baladamu sering terdengar membanggakan
Tentang hijau dan biru yang luas terbentangkan
Tentang matahari dan hujan yang terus dinantikan
Sungguh benar menakjubkan

Namun, siapa saja yang mengerti hitam putihmu?
Alammu yang mulai bosan untuk tentram
Jeritan laramu yang tak pernah usai
Banyak yang berlari, terjatuh, merangkak demi sesuap nasi
Sekejam inikah keadaanmu, ibu?

Mereka bilang akan terus menjunjung paham toleransi
Namun tak pernah usai dalam menghargai
Mereka bilang akan terus memperjuangkan keadilan
Namun nyatanya tak bernilai kerakyatan
Warna-warni kilaumu mulai pudar, ulah siapa ini?

Mereka yang datang ke negeriku tanpa permisi
Menaruh api di tengah birunya samudra
Menanam teratai di tengah luasnya padang pasir
Lalu berteriak atas tindakanmu yang engkau anggap benar namun nyatanya memilukan
Kebenaran apa yang engkau maksud?
Begitu mudahnya mengkafirkan yang tak sejalan
Begitu angkuhnya mengintimidasi negara beralasan ketuhanan.

Apa yang kau tau tentang negeriku?
Berani menghadap pertiwi untuk  mendengar teriakanmu yang tak tau diri
Lalu melupa, bahwa tak hanya satu warna darah yang bercucuran demi seutas kesatuan negeri.

Ada apa ini?
Ibu,
Sekarang aku mengerti, maksud ibu membiarkanku terbang dan menyuruhku pulang
Terima kasih Ibu Pertiwi.

Yogyakarta, 13 Juni 2019


Decak Sang Rakyat

Sajak lirih
Bergemuruh perih
Terbelenggu paksa
Memecah rasa

Berlarian tertatih
Berteriak tak henti
Namun, sang tuan menuli
Bersikap tak tau diri

Ada apa ini?
Balada pertiwi terasingkan
Titah raja terabaikan
Tangisan rakyat berserakkan

Rakyat menjerit kemiskinan
Anak bangsa merintih kelaparan
Berselimut langit, beralas tanah
Tapaki hidup tanpa hak peran

Ada apa ini?
Kedamaian mudah terpantang
Keadilan telah usang
Sedang kekonyolan terpajang

Menyeruh demokrasi
Adanya decakan basa-basi
Berjanji transformasi
Nyatanya sebatas eksistensi

Masihkah negeri bersahaja?
Mengadu, namun tak didengar
Menulis, namun tak dibaca
Meminta, kata tuan tak ada kuasa

Alam membentang
Hutan hancur tertebang
Lautan terhampar
Kehidupan terdampar

Indonesia! Jiwamu sedang terancam
Oleh suara yang mengecam
Permaimu sedang terusik
Oleh hasud yang berbisik

Mari kembali bangkit!
Senyapkan hiruk, cuatkan asa
Mari lebih bangkit!
Satukan arah, leburkan lara

Tinggalkan keegoisan
Tuangkan harapan
Pangkas ketertindasan
Junjung kemanusiaan

Bersikap siap tanpa tapi
Berjuang pasti tanpa pamri
Untuk tegak berdiri
Untuk bangsa berdikari

Indonesia!
Sentosa!
Indonesia!
Merdeka!

Yogayakarta, 14 Oktober 2019



"Terima kasih 'Duka', hadirmu membuatku candu menulis. Terima kasih 'Cita', berkatmu ceritaku terasa manis."

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel