Bung Karno Menerjemahkan Iqro'

Bung Karno Menerjemahkan Iqro'
Sumber Foto: mizanstore.com
Penulis: Guruh Aji Semeru

Identitas Buku
Judul : Bung Karno "Menerjemahkan" Al-Qur'an
Penulis : Mochamad Nur Arifin
Penerbit : Mizan IKAPI
Tebal : 271

"Aku dipuja layaknya dewa dan dikutuk layaknya bandit." Begitulah Bung Karno menggambarkan dirinya sendiri dalam auto-biografinya. Dengan kontroversi perilaku dan jasa besar serta jiwa pengabdiannya untuk tanah air Indonesia Raya, segala hal tentangnya menarik untuk diulas. Siapa yang memandang dia dari sudut gelap ataupun terang, pastilah akan sangat mudah mendapatkan perhatian. Yak, begitulah Sukarno.

Kau anak Indonesia? Kau pemuda Indonesia? Kau kenal Sukarno? Ya, Sukarno! Kau kenal? Apa yang kau kenal tentang sosoknya? Seperti apa sukarno yang kau kenal?
Aku mengenalnya sebagai seorang yang sentimental. Dia memikirkan hal-hal secara mendalam. Dan istimewanya dia, semua yang diolah di dalam otaknya, dia aduk-aduk di dalam hatinya. 

Terkadang dia susah-susah sendiri, gelisah-gelisah sendiri. Kegelisahan ini yang membawanya lari kesana kemari. Namun, setelah dilarikan kesana kemari oleh gundah-gelisahnya, kemudian sejurus jalan dia menemukan ilhamnya. Eureka! Ilham itu datang. Memberi pencerahan.

Di dalam Al-Qur'an, dijelaskan tentang bagaimana cara mengajarkan manusia untuk mengetahui secara mendalam berbagai hal. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yanh Maha Pemurah. Dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya. (QS AL-'Alaq [96]: 1-5)

(Husain Haekal, 1993:79)

Apa yang dibaca Nabi Muhammad saw.? Secara tekstual adalah ayat suci Al-Qur'an. Namun, secara kontekstual yang dibaca Nabi Muhammad saw adalah fenomena. Fenomena itulah yang menjadi objek misi kenabian.

Menciptakan fenomena baru yang penuh harap, sebagai pengganti dari fenomena lama yang penuh dengan durjana. Merobohkan tiang-tiang diskriminasi sosial, ketidakadilan ekonomi, dan hegemoni politik. Untuk menegakkan tiang-tiang kesederajatan sosial, keadilan ekonomi, dan kebijaksanaan politik. Itulah misi kenabian Muhammad saw. Yang diderivasi dari proses Iqra' pada wahyu pertama.

Membaca adalah sebuah keharusan bagi sang pemuda, sebab dengan membaca kita bisa mengetahui apa yang belum diketahuinya. Yak, membaca realitas. Bung Karno seorang yang sangat gemar membaca. Dia menjalankan tugas Iqra' dengan senang hati. Yang saya maksud adalah membaca realitas itu sendiri.

Bung Karno juga gemar dalam hal refleksi. Dengan kegelisahannya, dia melakukan refleksi diri untuk membaca realitas bangsa Indonesia. Bung Karno suka membaca dengan artian denotatif, yaitu membaca teks buku. Bung Karno, di dalam buku ini mengisahkan, bahwa awal kesadarannya tumbuh dari proses membaca ketika Tjokroaminoto, gurunya, memberikan banyak buku pada bung besar ini.

Begitulah potret awal dari Sukarno. Seseorang yang reflektif. Percaya pada kekuatan ilham yang ditunjukkan Tuhan. Dan yakin pada masa depan nasib bangsanya. Sukarno belajar sepenuhnya dari jalan hidup Nabi Muhammad saw. Sosok yang paling dikaguminya. Sampai Bung Karno waktu itu mengunjungi makam Nabi Muhammad saw. di Makkah, Sukarno melepas seluruh atribut kenegaraan yang melekat di dirinya.

Kenapa hal itu terjadi? Sebab, bagi bung Karno dan bahkan seluruh umat manusia, Nabi Muhammad saw. lah yang memiliki pangkat tertinggi di jagat kehidupan manusia. Pangkat Nabi Muhammad saw. lebih dari siapa pun. Sukarno merasa sangat tidak elok mengenakan pangkat di depan makam manusia paling berpangkat di jagat raya. Begitulah Bung Karno mengamalkan ayat, Bacalah!!!

Kader PMII Rayon Pondok Syahadat (RPS)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel