Bulan yang Lain dan Puisi Lainnya [Puisi]


Bulan yang Lain dan Puisi Lainnya [Puisi]
Sumber Foto: pixabay.com

Sentuhan Jendela

Sentuhan jendela mewarnai tulisan
Lagi-lagi huruf kedua
Matahari saja enggan mengeja
Namanya pada langit kebiruan
Juga dindingnya yang memantulkan sebuah ribu
Menyusup, meninggalkan luka.

Sangat rindu ku ingin rinai gerimis meratap
Sang panas mentari mengiris ingatan
Jam itu, menulis bukanlah pada nama
Tetapi siang telah membuktikan bahwa kita,
Tak selamanya menyentuh jendela
Dan melirik ribuan angin
Dan mengerling sejenak  sejuknya hujan
Dan kitalah di sana,
Menggumam jarak yang terlampau gelap.

Hari ini hitam
Mengantuk, melintasi kurva angka-angka
Tak sedikit pun menoleh tanpa senyuman
Seperti dulu,
Dua yang seperti biasa bersama
13 September 2014


Untuk Mengenalmu

Aku menatap diammu
Tidak bisakah sedikit saja tersenyum mewarnai angin,
Yang selalu melewatkan hari-hari kita
Tanpa sinar pagi dan cahaya tawa
Menyimpan rahasia rasa pada bunga
Meratap, mengharapkan kebaikan jemari berbisik
Dan malam pun menjawab,
Segala yang ku tanyakan pada gulita
Tak ada bertanya mengapa bersemu merah?
Karena di antara kita adalah detik diam

Halaman belakang ku sentuh dengan hitam
Yang sejak dulu kau tinggalkan di bingkai jendela
Biarkan aku masuk,
Dan begitulah sesungguhnya awal
Tak tertangkap bayangan harapan-harapan
Akankah cerita pada akhir meredakan biru?
Yang melelapkanku di pelukan bulan.
Akankah? Tersesat,
Karena untuk mengenalmu, aku harus terperangkap dingin.
20 September 2014


Bulan yang Lain

Cerita pengantar mimpi malam ini,
Adalah angin yang merona.
Namun, sebelumnya ia menangisi hati
Merutuk, menggenggam benci.
Setiap pandangan hanya berisi air mata.
Tidak pernah tumpah membasahi hari
Karena langkahnya berbaik hati menemani
Berbisik menandai betapa langit biru
Menyimpan berjuta rasa untuknya pada akhir cerita
Dan malam tujuh belas itu menyapa
Sebagian bahagia memeluk cahaya
Senyuman mungkin,
Putri angin tidak pernah tahu,
Bulan yang lain tak seindah purnama
Menangkap beberapa bait puisi
Dan tak pernah berhenti menatap hembusannya
Putri angin tidak pernah tahu,
Bulan yang lain selalu mengirimkan tawa,
Hanya untuknya.

Saat malam terlelap oleh cerita.
Tulisan pun lelah menggores,
Sepotong putih hati putri angin...
18 September 2014


Pandangan Menilai

Mendatangi pintu tuk bertemu tulisan
Tinta biru yang dipinjam hari itu
Ternyata kursi menemaninya sendiri
Langit di belakang terduduk mimpi
Oh... kau di sana
Tatapanmu sungguh melukiskan kata
Suara di sekeliling hari ini begitu sunyi
Serta pertanyaan-pertanyaan yang terlontar,
Tak ku pahami lagi bahasanya
Ada apa dengan waktu?
Hitam dan putih menghiasi pemberhentian
Dingin sedikit melawan pandangan pada pintu
Yang bernilai lebih banyak detik terbuang
Hanya untuk berdiam dalam satu dunia
Bolehkah bertanya?
Sampai kapan  langit akan runtuh oleh mata?
19 September 2014

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel