Belajar dari Sokola Institute: Jangan Pikir Menjadi Relawan Cukup dengan Niat Baik!


Belajar dari Sokola Institute: Jangan Pikir Menjadi Relawan Cukup dengan Niat Baik!
Sumber Foto: IG butet_manurung

Penulis: Idha Nafiatul Aisyi

Sampai saat ini, saya masih mengingat betul perkataan salah satu kawan di Saka Wanabakti, Satuan Karya dalam gerakan pramuka terutama penegak dan pandega, untuk mendalami pengetahuan dan keterampilan khusus di bidang kehutanan dan lingkungan hidup. Kalau tidak salah, kala itu, kami semua sedang belajar soal pengenalan jenis pohon dan pengukuran kayu sebagai materi khusus dalam krida guna wana.

Materi semacam ini tidak pernah didapatkan di sekolah. Sehingga hampir semua anggota menunjukan antusiasme yang lumayan tinggi, selama proses belajar berlangsung.

Kegiatan berjalan seperti biasanya, hingga sampai di satu titik pertanyaan kritis itu muncul. Kurang lebih begini: “Kenapa kita tidak belajar pengukuran kayu sedari kecil? Toh, sepertinya ini lebih bermanfaat dibandingkan dengan belajar matematika yang bikin pusing itu. Sudah tahu Bumiayu pegunungan, banyak hutan, banyak sawah, tetapi baru saat masuk Wanabakti saya belajar kayak begini. Sekolah sepertinya enggak banyak berguna, katanya sambil tertawa.

Tiba-tiba saya diingatkan untuk kembali merefleksikan pertanyaan tersebut lewat kegiatan Bedah Buku dan Diskusi Pendidikan yang diadakan oleh Sokola Institute, di Warung Mojok Jogja, 4 Februari 2020. Para penulis buku yang berjudul Melawan Setan Bermata Runcing, menceritakan pengalamannya selama menjadi volunter bersama Orang Rimba di Bukit Dua Belas dan komunitas adat lainnya yang ada di Indonesia.

Sokola Institute adalah organisasi berbadan hukum yang aktif menyelenggarakan program pendidikan alternatif untuk kelompok-kelompok masyarakat adat yang tidak dapat mendapatkan akses pendidikan berupa sekolah formal karena alasan geografis dan kultural.

Sokola sudah ada sejak tahun 2003. Berawal dari tersingkirnya Orang Rimba dari hutan tempat mereka tinggal, lima orang eks-pendamping kelompok masyarakat mendirikan Sokola di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Mereka menyusun strategi pendidikan kontekstual yang berbasis persoalan dan kebutuhan komunitas.

Buku Melawan Setan Bermata Runcing tersebut sangat relate dengan pertanyaan kawan saya itu. Dalam buku tersebut, Butet dan kawan Sokola lainnya membuat gerakan pendidikan alternatif yang berkontribusi langsung pada kehidupan nyata. Teman-teman Sokola biasa menyebutnya school for life (Sekolah untuk kehidupan).

Kurikulum pendidikan yang formalistik dan memukul rata seperti sekarang ini, kenyataannya tidak banyak menguntungkan untuk masyarakat rimba. Buat apa mereka menghafal jarak bulan ke bumi, dapat menghitung algoritma, memahami peristiwa siang dan malam, tetapi mereka tetap tidak bisa menyelamatkan hutan mereka dari ancaman orang-orang luar.

Jika Paulo Freire menyebutkan bahwa guru-murid harus menjadi subjek, dan objeknya adalah ilmu pengetahuan, Sokola juga menempatkan guru-murid sebagai subjek, dan objeknya disini adalah ketertindasan yang ada.

Sokola menerapkan pendidikan yang kotekstual. Relawan tidak masalah jika harus belajar di sela-sela waktu peserta didiknya, berapapun lamanya. Sambil memburu, menjaga adik, menunaikan baktinya kepada keluarga, dan aktivitas keseharian anak-anak rimba lainnya.

Siapapun, organisasi/komunitas atau individu yang ingin menciptakan pendidikan alternatif serupa Sokola, agaknya bisa belajar atau mengadopsi metode yang diciptakan oleh mereka. Soal pendekatan dialogis, literasi dasar dan terapan, metode asesmen dan live in, hingga menyusun silabus dan tabel evaluasi telah banyak dijelaskan oleh kelima relawan dalam buku Melawan Setan Bermata Runcing. Langsung baca bukunya saja, ya

Bertahun-tahun belajar di bangku dan ruang kelas, saya juga merasa tidak benar-benar menikmati proses belajar yang ada. Saya hanya dipaksa untuk memilih pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah untuk disukai. Pilihan-pilihan tersebut juga belum tentu memenuhi kebutuhan saya yang sebenarnya.

Ah, saya jadi kembali ingat curhatan seorang teman yang bercerita soal mahalnya biaya pendidikan, sehingga membuat ia bekerja sore dan malam untuk membiayai kuliah dan biaya hidupnya di perantauan. Ia tidak punya waktu untuk berorganisasi dan belajar di luar kelas. Tak jarang ia kelelahan saat mendengarkan dosen menyampaikan materinya. Sampai di sini, saya merasa bahwa “kita terkadang tidak benar-benar merasakan nikmatnya bersekolah.”

Sekolah formal juga menyebabkan pintar dan bodoh jadi punya ukuran-ukuran. Orang disebut pintar ketika mampu menguasai pelajaran semacam matematika, bahasa inggris, bahasa indonesia, dan jenis pelajaran umum lainnya yang ada disekolah. Begitupun sebaliknya, orang bodoh adalah orang yang tidak mampu menguasai pelajaran-pelajaran di institusi pendidikan formal. Padahal, pintar dan bodoh itu relatif.

Jared Diamond, dalam bukunya Guns, Germ & Steel, menjelaskan kesannya bahwa orang Papua jauh lebih cerdas dibandingkan dengan anak-anak Eropa. Anak-anak Eropa bisa menghabiskan sekitar tujuh jam waktunya perhari dengan dihibur oleh televisi, radio dan bioskop. Sedangkan anak-anak Papua hampir tidak punya kesempatan untuk menikmati hiburan pasif seperti orang Eropa.

Sepanjang hari, mereka mengobrol dengan orang lain, bermain, dan melakukan aktivitas aktif lainnya tanpa henti. Kita semua tahu, bahwa aktivitas yang aktif seperti anak-anak Papua inilah yang bisa meningkatkan perkembangan mental.  

Tentang dunia kerelawanan, ada satu pernyataan dari seorang penulis buku Melawan Setan Bermata Runcing, Mbak Indit, yang sampai saat ini masih terus abadi mengendap di pikiran saya. Dia bilang bahwa niat baik saja tidak cukup untuk bisa menjadi seorang relawan. Akan ada banyak persoalan yang dihadapi di lapangan.

Dinamika komunitas, budaya masyarakat setempat, sampai membaca apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat tidak cukup terjawab hanya dengan punya niat baik ingin memberikan bantuan.

Saya akhirnya merefleksikan aktivitas saya di Paguyuban Pengajar Pinggir Sungai, P3S-Red. Setiap tahun, setiap kali open recruitment, pendaftar di P3S bisa sampai delapan puluhan, bahkan mencapai seratus. Tapi, pada kenyataannya tidak banyak yang bertahan dan dapat memahami persoalan yang ada, baik di organisasi maupun masyarakat setempat.

Soal konsistensi belajar, misalnya, tidak jarang kami kekurangan relawan untuk bisa belajar dengan adik-adik dijadwal yang sudah ditentukan. Dengan berbagai alasan seperti bekerja, padatnya aktivitas sebagai mahasiswa, dan keterbatasan relawan lainnya terkadang membuat kami kewalahan.

Atau, soal dinamika belejar dengan adik-adik. Saat anak-anak tidak ada di jam belajar yang sudah ditentukan, relawan biasanya harus menjemput satu-satu, berkeliling menyambangi rumah-rumah warga untuk mengajak mereka belajar. Belum lagi saat mereka datang dengan segudang pekerjaan sekolah yang harus dikumpulkan besok, dan relawan juga datang dengan kondisi yang kelelahan karena aktivitas keseharian.

Belajar dengan anak-anak tidak seperti belajar dengan orang dewasa. Mereka jujur dan apadanya. Sekali lagi, jangan harap menjadi relawan cukup bermodal niat baik dan keinginan memberikan bantuan. Hal tersebut tidak akan bisa menjawab permasalahan-permasalahan yang ditemukan di lapangan.

Apa yang dilakukan kami memang masih sangat terbatas, tetapi bukannya hal-hal besar selalu dimulai dari sesuatu yang kecil? Mengutip apa yang disampaikan oleh Romo Mangunwijaya, orang yang leih dulu membangun pendidikan alternatif di bantaran sungai Codhe, “Tokoh sejarah dan pahlawan sejati harus kita temukan kembali di antara kaum rakyat biasa yang sehari-hari, yang barangkali kecil dalam harta maupun kuasa, namun besar dalam kesetiaannya demi kehidupan.”

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel