Belajar dari Masa Lalu untuk Membangun Masa Depan

Belajar dari Masa Lalu untuk Membangun Masa Depan
Sumber Foto: IG Marjin Kiri
Judul Buku : Kisah Lama Tutur Baru
Penulis : Lu Xun
Penerjemah : Tonny Mustika
Halaman : vi+170 hlm, 14x20,3 cm
ISBN : 978-979-1260-84-8
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : Februari 2019
Bila melihat sebuah cover buku dan membaca judulnya, biasanya akan timbul dorongan pada setiap calon pembaca untuk segera menebak isi buku dan menilai, apakah buku itu layak segera dibeli atau tidak. Buku Lu Xun: Kisah Lama Tutur Baru pun tidak lepas dari kesan tersebut.
Cover buku yang bergambar seekor naga dengan badan terpisah, memberi sebuah kesan yang multitafsir. Naga, sebagai sebuah mitologi atau sejarah selalu digambarkan satu-kesatuan. Dengan terpisahnya badan naga ini, secara tidak langsung memberi isyarat kepada para calon pembaca yang ada.
Buku setebal 170 halaman ini, merupakan hasil refleksi dan perenungan panjang Lu Xun terhadap kondisi bangsa dan rakyat China yang mengalami kesusahan berkepanjangan. Hal itu bisa dilihat dari beberapa cerita yang mampu mengeksplorasi kondisi rakyat China yang mengalami tekanan dari pihak penguasa.
Ia mengawali dengan cerpen “Menambal Langit”, yang dari judulnya saja, cerpen ini akan langsung menimbulkan rasa penasaran bagi pembaca. Cerpen ini begitu menarik setidaknya karena beberapa hal; latar tempat, dialog yang berlangsung, dan motif Dewi Nuwa (sebagai tokoh utama) yang ingin menambal langit.
Sebagaimana layaknya pembuka, cerpen itu mempunyai daya tarik tersendiri. Walau kesan di awal lebih mirip dongeng kebanyakan, pada akhir cerita kita akan menemukan sebuah kesan bahwa cerpen tersebut bisa diartikan sebagai sebuah cerita yang menggambarkan penguasa kala itu. Yang rela bahkan dengan sengaja mengorbankan dan membunuh rakyat agar bisa mengurangi beban negara.
Tujuh cerpen berikutnya adalah kumpulan keindahan. Buah dari kepiawaian Lu xun menggambarkan kejadian yang menjadi bagian dari pengalamannya. Saya banyak membaca karya sastra—khususnya sastra realis penulis Indonesia—tapi  karya Lu Xun ini berbeda. Lu Xun mampu menghidupkan semua tokoh yang ada dalam cerpen-cerpennya. Berbeda sekali dengan penulis Indonesia kebanyakan, yang terkadang menitikberatkan penokohan kepada tokoh-tokoh tertentu.
Dalam cerpen “Terbang ke Bulan”—sebuah cerpen yang mengingatkan saya kepada kisah Hamura Otsutsuki dalam film serial Naruto Shippuden—ada gerutuan menarik soal kesombongan. “Aih,’’ desaunya. “Nyatanya akulah yang terlampau lihai dalam memanah,” katanya. “Itulah sebabnya seluruh tempat kini sudah bersih. Siapa sangka kalau yang tersisa buat kita sekarang hanyalah burung gagak belaka?” (hlm 23).
Sementara cerpen “Menolak Kekerasan” menyiratkan hal yang menggelikan dan sangat relevan dengan saat ini. ...”Kecerdasan manusia harus memiliki manfaat praktis; semua yang tidak demikian hanya buang-buang waktu belaka. “Cukup melakukan hal yang benar dan kau akan memiliki kecerdesan dan banyak  lagi selain itu; dunia akan menjadi milikmu” (hlm 147).
Buku karya Lu Xun alias Zhou Shuren ini termasuk sebuah karya yang membutuhkan waktu cukup lama untuk ukuran sebuah kumcer. Karena dibuat dalam rentang waktu tiga belas tahun. Dalam rentang waktu yang cukup lama tersebut, menjadikan buku ini bukan hanya sebuah kumcer biasa. Bahkan, buku ini bisa disebut sebagai simbol perjuangan rakyat China waktu itu. Ketika sedang menghadapi kondisi semifeodal dan kolonialisme yang menyengsarakan rakyat.
“Memetik Pakis” mengisahkan dua orang pangeran yang lebih memilih meninggalkan kerajaan, dan mencari perlindungan di bawah kekuasaan kerajaan lain. Para pangeran ini lebih memilih pergi ketimbang harus diributkan oleh masalah pembagian kekuasaan dan penetapan ahli waris tahta kerajaan.
Ada kisah menarik di akhir cerpen itu, lantaran akhirnya kedua pangeran lebih memilih menjadi gelandangan karena terlalu memusingkan komentar orang-orang yang tidak senang dengan kehadiran mereka.
“Membangkitkan yang Mati” menceritakan soal pertapa atau dukun kerajaan yang punya niat baik tapi hasilnya tidak bermanfaat. Dukun kerajaan ini membangkitkan orang yang sudah mati beratus-ratus tahun yang lalu. Pada akhirnya orang mati tersebut malah menuduh dukun kerajaan tadi berniat jahat kepadanya, dan terjadi cek-cok antara mereka berdua. Sementara “Menempa Pedang” bercerita soal pemakaman raja yang mati dengan kepala terpenggal. Kekocakan dalam cerpen ini, bahkan seorang raja bisa dikuburkan dengan tiga kepala sekaligus!
Membaca setiap cerpen dalam buku ini mengundang rasa penasaran saya. Kompleksitas cerita yang disajikan menepis semua anggapan mustahil dalam imajinasi kita. Secara umum soal potret kehidupan masa lalu, dan khususnya potret zaman kerajaan.
Apa yang Lu Xun lakukan, bisa disebut satir yang mengadopsi filosofi masa lalu atau masa lalu itu sendiri yang disatirkan olehnya. Dalam dunia sastra, Lu Xun sendiri termasuk salah satu pelopor dan tokoh sastrawan realis pertama di China. Tulisannya merupakan pencerminan tulus perjuangan revolusi bangsa China.
Lu Xun juga menolak keras cara pandang yang menganggap sastra hanya untuk sastra atau sekedar dinikmati. Lu Xun punya cita-cita besar dan berkeinginan kuat, untuk menolong bangsanya dari kesusasahan yang berkepanjangan. Selain itu, ialah penulis yang membuka jalan bagi sastra realis sosialis China.
Cerpen-cerpen dalam buku ini, seperti memberitahu kepada pembaca, sebagaimana perkataan Nietzsche; “Siapa yang memiliki alasan (why) akan sanggup mengatasi persoalan hidup dengan cara (how) apapun. Buku ini selain luar biasa karena pesan tersiratnya, juga mengajarkan kepada kita untuk selalu berani mendorong batas, dan melampaui setiap kekurangan yang ada.
Buku ini sangat relevan dibaca dengan kondisi sekarang ini. Di mana kekuasaan yang kian hari semakin mengerdilkan rakyat, dan kritik secara terang-terangan akan selalu dibungkam, maka sastra dan khususnya satir adalah solusinya. Demikianlah angkasa Lu Xun Kisah Lama Tutur Baru mengajarkan: “Setiap sesuatu yang hidup karena suatu alasan, akan menjadi alasan bagi sesuatu lain yang hidup.”

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel