Bawalah Aku Menuju Hari Senin Dalam Hidupmu dan Puisi Lainnya


Bawalah Aku Menuju Hari Senin Dalam Hidupmu dan Puisi Lainnya
Penulis: Bani Kamhar
Episode Cinta yang Klise

Pada si buta yang tak bisa melihat apa-apa
Kacamata telah kehilangan fungsinya
Mata si buta tak butuh kacamata
Tetapi kacamata itu tak bisa dipisah darinya

Bagi sepasang kekasih, telepon genggam adalah niscaya
Padahal bagi telepon genggam, sepasang kekasih itu
Hanyalah berupa digit angka dan huruf mati yang diolah
Dalam kepala masing-masing dari mereka berdua

Andaisaja si buta dan telepon genggam adalah cinta
Betapa tandatanya keberadaannya dalam diri manusia
Tetapi cinta sangat sederhana
Kau bisa masuk kapan saja dalam rumahku
Tanpa aba-aba
Tanpa curiga

Yogyakarta, 2019
  

Bagaimana Aku Mampu

Bagaimana aku mampu membangunkan matamu
Sedangkan ia lelap tertidur di mataku
Bagaimana aku mampu melupakan senyumanmu
Sedangkan ia rahim dari senyumanku
Bagaimana aku mampu menepis julur batang lidah di mulutmu
Sedangkan kenangan itu telah menjalar dan mengikat cintaku padamu
Bagaimana aku mampu mengatakan aku mencintaimu
Sedangkan kata-kata itu telah membaur dalam ruang kosong puisi-puisiku

Dan puisi, kekasih
Tak pernah menuntut bunyi
Ia hanya butuh sunyi, dari
Hirukpikuk seorang akademisi

Yogyakarta, 2019



Bawalah Aku Menuju Hari Senin Dalam Hidupmu

Bawalah aku menuju hari senin dalam hidupmu
Menyiapkan segala kesibukan masa depan, dan
Menyimpan rapi kenangan yang telah berlalu
Pada hari sabtu dan minggu

Angkatlah aku dari tubir kamar tidurku
Yang gelap, agar napasku kembali normal setelah nyawaku
Tinggal seperempat, sebab berkejaran dengan angka-angka dan
Huruf-huruf yang terpendam di dalamnya

Kali ini aku ingin bersamamu
Bukan pada hari libur yang selalu sisakan kenangan
Tetapi pada hari kerja yang selalu segarkan ingatan;
Berpagi-pagi menuju kantor, dengan pakaian terbaik,
Wangi parfum, dan sebaris ucapan semangat pada telepon genggam

Yogyakarta, 2019


Beberapa Tawaran sebelum Kematian

Bagian mana paling kau suka dariku, oh perempuan?
Dada yang sanggup menyimpan sejuta luka dari sepasang mata
Kedua pasang mata yang pasrah menampung airmata sebab luka
Kedua pasang kaki yang siap melangkah kemana pun kau pinta
Tangan yang tiap hari gerilya berperang melawan kata-kata
Kening yang dapat kau kenang kapan saja setelah kecup pertama dari bibirmu mendarat di permukaannya
Atau kepala yang telah jadi ruang istirahatmu sejak kenangan itu bermula?

Oh perempuan, sekarang kau bebas memilih
Bagian mana yang paling kau suka dan taksuka dariku
Dan hanya satu yang ku mau, jangan dulu mati tanpa membawa namaku

Yogyakarta, 2019


Ketika Cinta Disajikan

Dalam puisi ini aku adalah ruang yang disusun sedemikian rupa
Untuk seorang perempuan agar dapat menunaikan tugasnya sebagai ibu
Menyiapkan bekal bagi anak kecil sebelum berangkat sekolah
Pada seluruh pagi-pagi yang gigil

Dendamnya kepada laki-laki dituntaskan kepada
Segepok daging sapi, atau daging kambing, atau barangkali daging ayam
Yang diiris-iris dan dicincang dengan pisau warisan mertuanya

Pada bagian lainnya, aroma bawang yang dibaringkan di atas wajan
Lebih dahulu sampai pada kenyang sebelum daging-daging itu dihidangkan
Dan lalu masuk goa panjang dalam mulut manusia kelaparan

Untuk kekasihku, di ruang ini ia dapat meracik apa saja dengan bumbu cinta
Mungkin dengan teknik tertentu dari olahan film-film korea
Mungkin juga teknik lainnya, meskipun kemungkinan itu terkadang
Amatsangat menjijikkan

Bagian lain dari racikan kekasihku itu adalah
Aroma cintanya telah sampai padaku
Sebelum dihidangkan di meja keningku

Yogyakarta, 2019


Bukan penyair, bukan mahasiswa, bukan penikmat kopi, dan bukan yang lainnya. Karena penulis memang bukan siapa-siapa, cukup sekedar teman katanya. Biaaaahhhh!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel