Bahkan Soal Sastra dan Esai, Uanglah Segalanya

Bahkan Soal Sastra dan Esai, Uanglah Segalanya
Sumber Foto: InkIt Publishing

Kalau ada kegiatan yang “bukan-bukan” yang boleh--bahkan harus--dilakukan, ialah menulis esai. Kata Cak Nun dalam Muhidin M Dahlan (2016: 14), esai itu bukan cerpen, bukan puisi, bukan naskah teater, dan “bukan-bukan” yang lain-lain. Maka itu, Muhidin mengatakan kalau esai adalah tulisan yang “bukan-bukan”.

Muhidin menyitir kalimat Gus Dur soal Pancasila yang kata Try Sutrisno: “Bukan kapitalisme, bukan sosialisme, bukan komunisme,” begitu seterusnya dengan “bukan-bukan” lainnya. Menanggapi ungkapan dari jenderal kesayangan Suharto itu, Gus Dur menyindir: “Pancasila itu adalah ideologi yang bukan-bukan.”

Lalu, kalau ada kegiatan “coba-coba” yang boleh dilakukan, ialah juga menulis esai. Masih kata Muhidin, pada akhir abad 15, kata “esai” mulai digunakan oleh seorang penulis bernama Michel de Montaigne. Saat itu, Montaigne melahirkan tulisannya berjudul “Of the vanity of words”. Si penulis mendefinisikan esai sebagai “percobaan”, “coba-coba”.

Dua definisi nyeleneh tentang esai yang pernah saya baca dalam Inilah Esai (2016) karya Muhidin M Dahlan pada tahun kedua di kampus itu kembali saya dengar saat menghadiri launching sebuah portal esai dan sastra baru, yang digarap sekelompok pemuda newbie yang suka berkomentar tentang ini-itu, bernama Metamorfosa.co pada Sabtu (15/2) lalu.

Ah. Entahlah, apa yang dipikirkan sekelompok amatir itu saat membuat website ini. Apa mereka tak paham kalau pertarungan media saat ini betul-betul jauh lebih kompleks dan mengerikan?

Media-media juru kunci macam Metamorfosa ini, atau media-media indie nan alternatif saat ini tidak lagi bertarung dengan media mainstream macam Kompas, Tempo, atau stasiun-stasiun televisi besar di Jakarta sana. Kita semua, media konvensional yang ketinggalan zaman ini, sedang berhadap-hadapan dengan raksasa informasi baru bernama Google dan Facebook.

Coba bayangkan. Saat kedua raksasa penyedia informasi itu sedang getol-getolnya memperbaiki, dan terus memperbaiki, kekuatan informasi mereka, sekelompok amatir di pinggiran kota Yogyakarta ini menggebu-gebu hendak membangun sebuah website informasi tak berkelamin bernama Metamorfosa. Aduhai, bayangkan nekatnya mereka.

Baiklah, pusing saya memikirkannya. Lebih baik mari kita kembali ke perkara esai.

Kedua definisi nyeleneh tentang esai di atas tadi, yakni “coba-coba” dan “bukan-bukan”, kembali saya dengar dari mulut para narasumber diskusi, yakni Fairuz dan Suhairi.

Fairuz adalah redaktur Islami.co, yang kami culik dari kantor barunya di Yogyakarta agar mau membimbing adik-adik juniornya ini. Dan Suhairi, seorang pegiat literasi yang selama ini menjadi pelecut semangat bagi kawan dan juniornya dan tak bosan-bosannya mencemooh siapa saja yang berani-beraninya menulis dengan asal-asalan.

Kedua orang itu membicarakan banyak hal tentang esai, sastra, dan nasib keduanya di era digital. Memang, sih, bahasan ini rasa-rasanya sudah terlalu kuno dan ketinggalan zaman. Namun, apa salahnya membicarakan kembali tema itu karena memang sesuai dengan apa yang sedang Metamorfosa lalukan: menulis dan menyebarkannya lewat jaringan internet.

Jika tak salah ingat, saya menggarisbawahi beberapa bahasan pokok dalam diskusi tersebut. Di antaranya soal definisi esai yang sudah diutarakan di atas, soal bagaimana sastra dan esai hidup dan bervolusi, soal bagaimana kita “hidup” dari esai dan sastra. Untuk yang terakhir itu bukan ungkapan puitik, melainkan benar-benar literer: kita hidup dari menulis.

Persoalan “hidup dari menulis” itu saya nilai sebagai bahasan yang paling memancing perdebatan sengit dalam diskusi sore hari itu. Sebut saja Suhairi yang selalu menyisipkan istilah “uang jajan” yang menyusul kata “menulis”. Paradigma Suhairi itu dibabat oleh seorang penanya yang juga seniornya, Saifuddin, atau biasa kita panggil Bang Udin.

Dan, soal inilah yang hendak saya bahas.

Bang Udin bilang kalau uang tak bisa dijadikan titik pijak maupun capaian tertinggi dalam dunia kepenulisan. Saya menangkap maksud beliau yang disampaikan hingga adzan maghrib berkumandang itu, bahwa dalam menggapai mimpi, proseslah yang mestinya dibidik, alih-alih honor.

Namun, rasa-rasanya kali ini saya mesti sepakat dengan Suhairi. Mengapa begitu? Begini, di zaman neolib yang aduhai berbunga-bunga ini, uang itu jenderal. Apa-apa uang, segalanya uang. Tak ada uang, manusia mati gaya.

Soal idealisme, Suhairi melontarkan kutipan menarik. Katanya: “Jika idealisme itu tak bisa menghidupimu, buat apa? Ujung-ujungnya kita justru akan menjauhi idealisme itu.”

Dulu, saya adalah orang yang paling antipati soal ini. Saya kira, kerja-kerja yang melibatkan ilmu pengetahuan macam menulis ini benar-benar mesti diharamkan dari bayang-bayang uang. Jadi guru pun begitu, dosen juga. Semua yang melibatkan ilmu pengetahuan, harus jauh-jauh dari campur tangan uang. Karena kalau berpengetahuan dihitung nilai, maka sudah tak ada lagi namanya kesucian.

Itu dulu. Sekarang saya tak begitu. Dari mana asalnya?

Saya mengingat-ingat suatu kaidah yang pernah guru saya di pondok, KH. Musyfiq Amrullah, katakan. Katanya,  jika seseorang memberikan kita sesuatu, jangan menolak. Namun, juga dilarang meminta.

Kalau terus menerus pura-pura lupa bahwa uang telah menguasai manusia hingga ke relung-relung tubuhnya, maka kita akan mati gaya. Memang betul, mendapatkan honor dari menulis itu tak cukup untuk mengentaskan kemiskinan. Namun, setidaknya modal beli buku, jalan-jalan, beli kopi dan rokok untuk menulis, bisa kembali lagi ke perut kita. Sungguh, tak ada laba besar dalam perputaran uang macam itu.

Bayangkan, untuk sekali tulisan saja, saya sendiri membutuhkan barang sebungkus rokok dan dua gelas es teh yang totalnya bisa 20 hingga 25 ribuan. Belum dihitung buku dan sumber-sumber lainnya. Ini bukan hitung-hitungan modal macam tukang dagang yang kata Idrus dalam Surabaya (1947): “Pedagang sangatlah pandai berbohong. Sampai-sampai dirinya sendiri sulit membedakan, mana perkataan yang bohong, dan mana yang tidak berbohong.”

Lagipula, jarang sekali uang yang didapatkan itu melebihi modal yang dikeluarkan. Uang yang dibidik dan didapatkan dari hasil menulis itu, pada akhirnya akan kembali ke dalam bentuk buku, rokok, dan es teh yang semula dikeluarkan. Modal aslinya hanyalah pengetahuan itu sendiri. Sedangkan uangnya, hanya berputar-putar saja begitu. Mengharapkan atau membidik uang dari hasil tulisan hanyalah ungkapan responsif atas situasi yang sebegini neolibnya.

Dalam diskusi tersebut, Bang Udin juga bilang bahwa berjihad dalam menulis itu ada dua, yakni berjihad karena dapat honor kecil, dan berjihad karena proses belajar yang getir. Kedua-duanya itu, katanya, mesti kita pilih. Saya kira beliau agak keliru sedikit. Bukankah honor yang kecil itu adalah bagian dari proses yang getir?

Setiap orang akan memiliki goals yang berbeda-beda. Begitupun dalam menulis. Ada yang menaruh goal mahir menulis, ada pula yang menaruh goal honor (entah besar ataupun kecil). Kedua goals ini mestinya bisa kita pahami tergantung keadaan si penulis itu sendiri.

Orang-orang modern memang terbiasa membuat segalanya menjadi hitam dan putih, baik dan benar, semuanya serba dualistik. Namun, apa salahnya jika kita mendamaikan saja keduanya. Kita bidik media berhonor yang sekaligus punya proses filtering tulisannya ketat, misalnya. Media macam itu ada banyak, dan tentunya Metamorfosa belum menjadi salah satu bagiannya.

Atau, bisa juga dengan mendisiplinkan diri dalam menjaga kualitas tulisan dan senantiasa melakukan kritik-autokritik atas tulisan sendiri. Itu juga bisa. Kita tak harus serta-merta mengandalkan orang lain untuk menilai tulisan kita. Ya, walaupun itu juga sesekali mesti dilakukan.

Bagi saya, intinya hindari cepat merasa puas. Ini basic. Cepat merasa puas, apalagi karena pujian, akan menjebak kemampuan kita sendiri. Percayalah, hidup jauh dari pacar dan orang tua itu lebih baik daripada hidup jauh dari kritik.

Menjauhi kritik sama saja dengan joget-joget di aplikasi Tiktok tanpa tahu kalau kita itu cringe dan alay banget. Menulis dan terus menulis, melupakan fakta kalau kita adalah pemula dan perlu perbaikan, merupakan cara tercepat untuk menjerumuskan diri dalam kemunduruan.

Nah, bagi saya, mendamaikan perkara uang dan kualitas adalah juga bagian dari jihad yang getir. Mendamaikan keduanya adalah bagian dari proses belajar. Jika sudah terlatih demikian, kita tak akan lagi mata duitan. Percayalah, kalau sudah begitu, mendapatkan honor yang besar, tetapi dengan kualitas tulisan yang buruk, tak akan membuatmu bahagia.

Demikianlah apa yang saya tangkap dari diskusi dalam launching Metamorfosa beberapa waktu silam. Jika ada yang tak berkenan dengan esai ini, maklumlah, esai adalah coba-coba dan sesuatu yang bukan-bukan.

Tak sepakat? Balaslah tulisan ini. Di sini, di website ini. Jangan nyinyir di media sosial macam antek-antek Atta Halilintar atau haters-nya Lucinta Luna. Apalagi ghibah di warung kopi. Selain terlihat konyol, coba pikirkan, seberapa banyak audiens yang terjaring jika hanya berkomentar di warkop?

Begitulah.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel