Apakah Mereka yang Terbuang Lebih Peduli?

Apakah Mereka yang Terbuang Lebih Peduli?
Sumber Foto: bandungdiary.id
Penulis : Adi Nugroho


Judul buku : Tanah Air yang Hilang

Penulis : Martin Aleida

Halaman : 325

Penerbit : Kompas

Cetakan pertama: 2017



Tulisan ini, merupakan sebuah pemahaman singkat penulis yang didapat dari buku Tanah Air Yang Hilang, karya Martin Aleida. Apa yang terlintas di fikiran kita saat membaca kalimat “Tanah Air yang Hilang? Atau apakah tanah air itu sendiri? Dan kenapa bisa dikatakan hilang?

Pertama, penulis akan mencoba mendeskripsikan apa itu tanah air. Tanah air adalah istilah yang digunakan Indonesia untuk menggambarkan seluruh bumi Indonesia, yang terdiri atas daratan dan lautan. Akan tetapi pada tulisan ini, tanah air bisa dideskripsikan sebagai negara asal, atau rumah bagi orang Indonesia. Di mana setiap warga negara tersebut, mempunyai rasa kepemilikan terhadap bumi Indonesia.

Lalu, mengapa hal yang sudah jelas adanya, bisa dikatakan menghilang? Bukankah Indonesia itu masih tetap ada hari ini? Kiranya memang Indonesia akan tetap ada, sekarang ataupun nanti. Namun yang hilang adalah hak untuk memiliki, atau mungkin hanya sekedar untuk mengakui, bahwa Indonesia adalah negara asal mereka. Tempat di mana mereka lahir, tempat mereka belajar pertama kali, dan mungkin tempat mereka mulai merangkai mimpi. 

Siapakah mereka yang disebut dalam buku ini? Mereka adalah orang-orang asli Indonesia, yang kehilangan kewarganegaraannya. Mengapa bisa seperti itu, dan apa penyebabnya? Pertanyaan selanjutnya, di mana mereka sekarang?

Mereka yang disebut dalam buku ini, sebagian besar adalah para pelajar. Yang kebetulan mendapat kesempatan malanjutkan studinya di luar negeri, pada saat zaman sebelum Orde Baru. Mereka-mereka ini dituntut presiden Soekarno waktu itu, untuk kembali ke Indonesia. Tujuaannya agar bisa berkontribusi untuk kemajuan Indonesia, sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Suatu tujuan yang sangat indah dan mulia. Akan tetapi, tidak ada yang menyangka bahwa hal buruk akan menimpa mereka selama di perantauan. 

Berawal dari peristiwa pemberontakan G30S/PKI, semua hal buruk yang menimpa mereka itu terjadi. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, peristiwa G30S/PKI dijadikan alasan untuk mulai berkuasanya pemerintahan orde baru, yang dikenal dengan gaya pemerintahan otoriter. Di peristiwa yang sama pula lah, seluruh orang yang memiliki keterkaitan dengan PKI atau bahkan yang hanya sekedar dugaan—para serdadu yang belum tau kebenarannya—dibantai sampai kepada anak keturunanya.

Hal ini yang selanjutnya juga dijadikan alasan, terlebih pada mereka yang tidak pro kepada pemerintah baik di dalam maupun di luar negeri, untuk menuruti kemauan dari pemerintahan orde baru. Tidak berhenti sampai di situ, para perantauan yang dikirim ke luar negeri oleh presiden Soekarno tadi, ikut merasakan imbasnya. Fasilitas dan kemudahan yang seharunya mereka dapat, dipersulit sampai mereka terbukti berpihak pada pemerintahan yang baru.

Bagi mereka yang berada di dalam negeri, banyak yang harus mengalami siksaan, atau bahkan dilenyapkan tanpa ada yang tahu dimana keberadaanya. Lalu mereka para eksil yang berada di luar negeri, mendapat ancaman tidak bisa pulang ke Indonesia dan kehilangan identitas kewarganegaraanya yang sah. Selain itu, mereka juga dianggap orang-orang tanpa kewarganegaraan (illegal).

Mereka, yang para eksil itu, hidup dengan mengemis suaka dari negara-negara di Eropa. Perjuangan tersebut, tidak banyak yang akhirnya bisa mendapatkan identitas di negara tempat mereka mencari suaka. Sangat jelas digambarkan oleh Pak Martin dalam buku ini, mereka harus berjalan kelayapan melewati berbagai negara secara sembunyi-sembunyi. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang terpaksa terlibat pada perang antara Vietnam dan AS. Banyak akhirnya dari mereka yang berada di pihak Vietnam, dan berlatih sebagai tentara Vietnam.

Setelah mendapatkan identitas sebagai warga negara di negara barunya, mereka memiliki kesempatan untuk “berkunjung” ke Indonesia. Ya, tapi hanya sekedar berkunjung. Bagi mereka, menggunakan paspor negara lain dan berkunjung ke Indonesia, punya rasa yang berbeda. Begitu terasa seperti masuk ke dunia yang lain.

“Pada sebentuk hati yang sudah berpuluh-puluh tahun kehilangan tanah air, tanpa paspor yang dulu dipegang ketika meninggalkan Indonesia, menginjakkan kaki lagi ke Indonesia adalah sesuatu yang heroik, meskipun hanya sekedar berkunjung.”

Ada kutipan dari Buku Tanah Air yang Hilang karya Martin Aleida yang membuat penulis merasa lebih miris lagi, dalam dialog salah satu eksil tersebut mengatakan, ”Betul, walau sebagai seorang yang terhalang pulang saya mendapat pengetahuan, bisa berbahasa Albania, bisa melihat dunia, tapi apa yang bisa saya sumbangkan untuk Indonesia? Itulah soalnya.”

Dalam keadaan hidup yang tidak menentu itu, saat negara tidak bisa menciptakan keadilan sosial bagi rakyatnya, masih terbesit di hati mereka sebuah rasa penyesalan. Karena tidak bisa menyumbangkan sesuatu untuk kemajuan Indonesia. Meskipun rezim kotor orde baru dengan sadar telah malanggar nilai-nilai kemanusiaan, dan menghilangkan banyak mimpi orang, mereka yang terbuang nyatanya tidak tinggal diam. Dari jauh, mereka masih mengawasi Indonesia, dan mengikuti perkembangan yang ada. 

Di sini penulis juga mulai berfikir, apakah rasa nasionalisme dan cinta tanah air itu akan lebih besar saat kita telah kehilangan tanah air? Apakah Indonesia harus hilang terlebih dahulu baru kita akan merasa peduli? Tapi entahlah dan persetan dengan itu semua. Belajar dari mereka, penulis menyimpulkan bahwa rasa cinta tanah air tak akan pernah mati, meskipun kita berada di daratan yang jauh. Mungkin layaknya anak di pangkuan sang ibu. Ia tak akan menyadari rasa cinta ibunya dan rasa cintanya, namun ketika jauh rasa rindu itu akan ada.


Mahasiswa MUBA Yogyakarta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel