Anarkontolisme

Anarkontolisme
Judul tulisan ini, terinspirasi dari judul tulisan mas Reza D. Zea di blog pribadinya, yang berjudul “Anarkontol.” Tulisan mas Reza ini, ditulis 4 tahun yang lalu. Ternyata, dalam waktu 4 tahun kemudian, ada sebuah momentum yang mengharuskan saya menulis dengan mengadopsi judul tulisannya mas Reza tersebut.

Tulisan mas Reza, menyoal tentang manusia usang yang berbangga hati, karena merasa sudah menjadi manusia seutuhnya. Perasaan berbangga hati itu, menurut mas Reza, lahir dari pengalaman sebagai seorang aktivis. Masalahnya, aktivis yang dimaksud adalah aktivis yang bermodal gincu, dan sering pencitraan belaka.

Selayaknya seorang aktivis, aksi-aksi di jalanan dijadikan simbol bahwa manusia usang tadi pernah melakukan sebuah perjuangan. Manusia usang semacam ini, adalah bukti konkret bahwa heroisme seringkali menjadikan seorang aktivis menjadi sombong.

Bedanya dari tulisan mas Reza tersebut, tulisan saya akan menyoal tentang kasus kekerasan seksual, yang menjadi penyakit abadi di negara kita ini. Yang membuat saya tambah geram, oknum yang melakukan kejahatan ini, sama sekali tidak mencerminkan identitasnya. Sembari menyeduh kopi dan makan kacang kulit, saya persilahkan bersantai dan nikmati banyolan dari saya ini.

Di awal tahun 2020, dan di akhir bulan Januari kemarin, terdapat dua pemberitaan kasus kekerasan seksual yang terjadi di daerah Jawa Timur. Satu kasus yang sebenarnya sudah terjadi dari tahun lalu, dan satu kasus lagi yang sudah lebih lama terjadi. Sekitar tiga tahunan yang lalu.

Dua kasus ini, punya kemiripan dalam hal oknum pelakunya dan letak kejadian. Dua kasus kekerasan seksual ini, sama-sama terjadi di pondok pesantren. Tempat yang seharusnya jauh dari hal-hal semacam itu. Namun, sebaik-baiknya pesantren, memang tidak menutup kemungkinan bahwa kejahatan semacam ini juga bisa terjadi di sana.

Kasus pertama datang dari daerah Jombang. Pelakunya adalah seorang anak kiai terpandang di daerah itu. Kasus ini sudah dilaporkan sejak Oktober tahun lalu. Namun, perkembangannya sampai hari ini masih belum jelas. Korban belum mendapat perlindungan dan pertanggungjawaban yang sesuai. Sedangkan pelaku masih bebas dan bisa bersantai, sembari menunggu calon korban selanjutnya.

Kasus kedua, datang dari wilayah Kediri. Oknum pelakunya lebih wah dari yang pertama: seorang pimpinan pondok pesantren. Aksi kejahatannya ini sudah dilakukan kepada korban sejak 3 tahun lalu, sewaktu korbannya masih duduk di kelas 3 SD.

Melihat dua kasus ini, seakan mengkonfirmasi kepada kita semua, bahwa kejahatan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak memandang identitas dan latar belakangnya.

Tentu kita sangat menyayangkan kasus yang mencoreng nama baik pesantren ini. Tidak hanya karena menyangkut institusi yang dibawa oleh pelakunya, namun juga kepada korban kekerasan seksual yang terus bertambah.

Dengan terumbarnya dua kasus ini ke hadapan publik, apa langkah serius kita untuk mengantisipasi agar kasus kekerasan seksual tidak terjadi lagi? Jawabannya, tidak ada! Kita masih saja bersantai, dan menganggap bahwa kasus semacam ini adalah hal yang biasa. Toh pun, kalau pelakunya seorang yang dianggap alim serta saleh, kita hanya bisa menyebut kalau itu adalah perbuatan khilaf.

Dari sisi viralnya, kasus yang terjadi di Jombang lebih menjadi sorotan publik. Entah karena apa sebabnya. Namun, kasus yang terjadi di Kediri juga tidak bisa kita anggap sebagai hal yang sepele. Dua kasus ini adalah sama, kasus yang mencoreng nama kemanusiaan, dan lebih mirip jika kita menyebut, kasus ini adalah kasus kebinatangan.

Kenapa bisa saya sebut sebagai kasus kebinatangan? Pasalnya, korban dari si pelaku masih ada yang dibawah umur. Manusia, untuk menyalurkan hasratnya, biasanya juga akan memilih bagaimana hasrat tersebut bisa disalurkan. Lain halnya dengan binatang. Biasanya, binatang tidak akan pandang umur lawan jenisnya, jika ingin melakukan kegiatan untuk menyalurkan hasratnya.

Apa yang dilakukan oleh dua oknum di atas, sama-sama menyebalkan dan masih saja ada dalih pembelaan terhadapnya. Baik itu dari pihak yang mendukung pelaku, dan media kita yang masih saja tidak sepenuhnya adil terhadap korban.

Sebagai sesama lelaki (bagi para lelaki lainnya), tentu sangat paham soal hasrat kelelakiannya. Dengan alat kelamin berupa kontol, mayoritas lelaki akan merasa lebih superior ketimbang perempuan. Alam pikiran lelaki kebanyakan masih seperti itu. Bahkan, tidak jarang perempuan kita anggap sebagai makhluk yang harus menuruti kemauan kita.

Bukan hal yang aneh, jika identitas lelaki terus dikategorikan sebagai simbol kekuatan. Memang sudah seharusnya, jika lelaki merasa lebih superior, takdir lelaki adalah melindungi perempuan. Bukan malah mengancamnya, dan melakukan pemaksaan yang ujungnya adalah tindakan kekerasan.

Mari kita akui saja, tidak ada yang lebih baik karena identitasnya. Sama halnya dengan oknum kekerasan yang dibela oleh pendukungnya. Statusmu tidak akan berharga jika tidak mencerminkan sikap, perilaku, dan adabmu pada orang lain. Setinggi apa pun derajat atau strata sosialmu, tidak lebih karena itu adalah sebuah warisan. Kecuali, jika terbukti perbuatan baik yang pernah kau lakukan.

Hai para pemilik kontol sedunia, segera lah sadar. Tidak ada lagi yang perlu jadi korban selanjutnya dari kontolmu. Coba untuk  mulai menekan hasrat seksualmu itu. Karena itu sejatinya adalah sebuah keinginan. Di mana pun, keinginan bisa ditekan dan dikendalikan. Tidak terkecuali hasrat seksual dari kontolmu yang ngacengan itu!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel