Sudahi! Kita Gak Mirip


Sudahi! Kita Gak Mirip
Sumber Foto: scientiarum.com

Sore itu aku sedang duduk di tepian sungai sembari memandang bocah-bocah  seloyoran mondar mandir ala ala perenang handal. Aku rekam mereka, lalu aku apload via story WhatsApp “betapa enaknya menjadi bocah kembali. Suka cita seloroyan di sungai tanpa sedikitpun rasa duka”
Setelahnya. Kuperhatikan satu persatu story yang muncul di beranda WhatsApp. Ada yang pamer puluhan buku. Ada yang pasang poto kaki yang lebam merah “perih tadi sore kecium knalpot” Ada yang promosi  barang dagangan. Ada yang membagikan quotes “aku mencintaimu karena Tuhan mengizinkannya, bukan karena alasan apapun” Ntah quotes itu keluar darinya langsung atau perkataan orang lain, aku tak peduli. Aku baca lagi, lagi dan kuulangi berkali-kali sambil kuresapi, kurenungi “andai saja tuhan juga mengizinkanmu untuk mencintaiku? Tanpa alasan apapun.”

Story selanjutnya tak kunjung  terbuka karena data jaringan buruk. Tak sampai satu menit, jaringan lancar kembali dan kulihat story teman yang pamer poto wisuda bersama pasangannya. Si laki memegang bunga dan si perempuan memeluk boneka. Terlihat wajah mereka begitu ceria dan sangat bahagia. Sontak aku tertegun. Poto wisuda itu membuat renunganku semakin berkalut. Menuntutku untuk segera menyelesaikan skripsi! Dan kubayangkan bisa membagikan poto wisuda seperti mereka. Di WhatsApp. Facebook. Twitter. Di Instagram.!

Tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri. Mata berbinar terlihat dari pantulan gambar di Handphone. Aku pandangi story-mu. Kuperhatikan baju gamis warna kuning dengan kerudung cream yang kamu pakai. Sungguh terlihat anggun. Kamu terlihat cantik. Atau bahkan sangat cantik. Kau tersenyum manis membuatku tak sadar membalasnya. Tapi sayang, kau tak melihatku. Ibumu terlihat sangat menyayangi anaknya, merangkulmu dengan ceria. Bapakmu terlihat gagah dengan kaos polo warna biru muda dengan kacamata hitam necis. Pemandangan di sekitarmu itu sangat indah. Tergambar kawah putih yang mengeluarkan asap. Aku tahu kau sedang berlibur di kota Bandung bersama keluargamu. Hmm.. ”Andai aku bisa berbagi kebahagiaan bersamamu, bersama keluargamu”

***
                                             
Ngiung..Wuush..

Suara desing pesawat mengalihkan pandanganku. Kuperhatikan pesawat itu terbang sampai hilang ditelan awan. “Andai aku bisa pergi liburan. Naik pesawat bersamamu.”

Tak lama berselang diseberang sungai kereta api berjalan pelan menuju stasiun pemberhentian terahir.

“Dulu aku sempat berjanji mengajakmu ke jogja. Naik kereta api. Andai saja itu bisa tercapai” Gumamku.

Seketika aku teringat, dan ntah kenapa kenangan itu muncul. Memaksaku untuk menceritakan itu pada aliran sungai yang mengalir. Udara yang menggoyangkan daun kelapa. Kuceritakan itu kepada diriku sendiri. Saat senja memancarkan cahaya orange atau warna apa itu. Sungguh indah seolah awan-awan itu menyala. Ingatanku mengalir begitu saja untuk bercerita.

Ketika awal perjumpaanku denganmu. Saat itu kau jalan melewati warung dekat SMA 2, biasa aku nongkrong bersama teman-teman selepas jam pelajaran usai. Waktu kami sedang asik bercanda, membahas kejadian konyol yang terjadi hari itu, tubuhku terlempar keluar sampai hampir melabrakmu. Temanku tak sengaja menyenggol karena tertawa terpingkal-pingkal. Kau terkejut dan sedikit menghentakkan badanmu untuk menghindar.

“Maaf mba”

“Iya. Ndak apa-apa”

 “Cie.. Cie..” Celetuk teman-teman.

Semenjak itu aku selalu teringat wajahmu. Aku terbayang saat kau menimpali permintaan maafku, kau menjawabnya dengan nada yang kalem dan senyum yang manis. Hari itu pertamakali aku melihat senyummu. Dan membuatku ingin terus melihatnya. Mungkin perasaan seperti ini yang dikatakan banyak orang tentang cinta pada pandangan pertama. Membuat hati terlena berbuai asmara.
Tak lama aku mencari informasi semua tentangmu. Pada ahirnya kudapatkan nomor HP-mu dari yang katanya teman akrabmu.

Hari-hari selanjutnya kita saling berbalas pesan. Saling bertanya aktifitas. Mengingatkan makan. Tidur. Menanyakan sedang dimana . sama siapa. Mengingatkan solat pas adzan tiba. Dan Hal-hal lain yang kita tertawakan setelah sudah menginjakkan kaki di bangku perkuliahan.   

“Hari minggu sibuk?”

“Enggak sih. Kenapa?

“Eh.. minggu ada acara di taman kota”

Belum sempat aku membalas kau sudah kirim kode. Sontak aku langsung mengajakmu. “hayu ke situ.”

***

Di taman itu. Saat kau sedang melihat pameran segala macam aksesoris. Aku menghampiri ibu-ibu penjual bunga. Kubeli satu tangkai bunga mawar segar. Aku terpikat karena sebelumnya melihat bocah mungil yang duduk di emperan air mancur sedang menghirup bunga mawar. Bunga itu sangat indah. Warnanya mempesona dan mungkin baunya-pun harum mewangi.

Malamnya. Aku duduk didepan meja belajar kamar, terdiam sambil menggenggam bunga mawar yang pagi itu aku beli. Awalnya aku berfikir untuk tidak merusak mawar yang indah itu. Tapi selama ini kepada siapa lagi aku meminta pendapat untuk kelanjutan hubunganku bersamanya. Mawar itulah yang menjadi solusi untuk menegaskan hatiku yang bimbang. Apakah aku harus menyatakan cinta padanya atau tidak. Ahirnya satu persatu ku petik bunga mawar itu. “Nyatakan..Tidak…” Dan seterusnya. Pada hitungan terahir mawar memberikan saran untuk ungkapkan kata cinta.

Rabu itu ada pengumuman dari ketua kelas bahwa  jam pelajaran hanya berjalan  setengah hari. Jam 10 sekolah membolehkan siswanya untuk pulang lebih cepat dari biasanya. “pas pulang nanti, aku ingin bertemu dengannya.” Gumamku.

Di taman belakang kelas setelah jam pulang tiba. Aku duduk. Gugup. Komat-komit mencari kata yang tepat untuk menyatakan apa yang sudah mawar sarankan untukku. Sempat ragu untuk menyatakan perasaan saat itu. Membaca kemungkinan apa yang akan dikatakan olehnya. Bahkan sudah terbesit untuk segera pulang. Khawatir ditolak! Tiba-iba saja kau menepuk pundakku dari belakang.

“Ngapain kamu duduk sendirian”

“Eh.. iya”

“Yeh. Ngelamun. Ayo pulang”

“Bentar. Aku mau ngomong”

Pada saat itu juga kuberanikan diri untuk berterus terang menyampaikan rasa yang sudah lama terpendam. Masa bodoh semisal apa yang aku rasakan samasekali tidak direspon atau bahkan dicampakkan. Aku sampaikan dengan lantang. Seketika kau terdiam. Aku cemas. Gemetar dag-dig-dug menunggu apa yang akan terlontar dari mulutmu.

“kenapa baru ngomong sekarang. Lima bulan aku menunggu. Aku-pun sama sepertimu”

 Aku tersipu. Seperti halnya seorang yang sedang menunggu undian dan kebetulan namanya disebut sebagai pemenang. Perasaanku amat gembira senang tiada tara. Aku samasekali tak menyangka bahwa sudah sekian lama pula kau memendam perasaan kepadaku. Aku tersenyum. Kamu  juga. Kita jadian waktu itu layaknya teman-temanku yang lainnya.

Kita jalani hubungan itu layaknya remaja awal puber lainnya. Jalan-jalan, makan bareng dan lain-lain. Sesekali kita berujar membayangkan masa hidup bersama nanti. Diawali dengan aku dan kamu duduk bersama dipelaminan. Tapi itu hanya terpengaruh oleh film-film mellow di TV. Atau cerita-cerita halu teman-teman sejawat. Yang pasti, saat itu, hanyalah kesenangan semu yang ingin dirasakan. Tanpa ada samasekali pikiran untuk menjalin hubungan serius. Atau bahkan mikir langkah apa yang harus ditempuh untuk mempersiapkan semua hal tentang membangun rumah tangga. Intinya pada saat itu kau senang dan akupun demikian.

***

Waktu cepat berlalu dan saat itu kita dipisahkan oleh jarak yang bisa dikata jauh. Dan pasti akan memakan waktu yang panjang karena kita sama-sama menjalani kehidupan baru sebagai mahasiswa. Empat tahun waktu yang normal untuk menyelesaikan studi. Aku sibuk dan kaupun demikian.
Pada awalnya komunikasi via HP berjalan lancar. Sekedar menanya kabar. Telponan ngobrol ngalor-ngidul.

Aku sempat menerka kemungkinan apa yang akan terjadi dari LDR. Terlepas dari itu, akupun mulai memikirkan langkah apa kedepan yang akan ditempuh. Aku amat mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu. Tapi mungkinkan itu terwujud? Pertanyaan sekaligus kekhawatiran akan kemungkinan terburuk dari hubungan itu selalu menghantuiku.

Ditengah malam, udara terasa begitu senyap. Seolah tak ada angin yang berhembus. Aku duduk dikursi depan kos-kosan. Kebetulan kamarku berada di lantai dua langsung berhadapan dengan langit yang dihiasi oleh bintang-bintang dan bulan yang begitu terang. Sesekali aku lihat story WA, Instagram dan Facebook. Kubuka dan kututup begitu seterusnya. Aku liat sorotan story di Instagrammu, kau begitu bahagia bisa berlibur keliling kota bahkan ke luar negeri. Selanjutnya aku lihat bapakmu mendapat penghargaan sebagai kepala sekolah teladan. Begitu seterusnya kuliat satu persatu seluruh aktivitasmu. “Andai aku bisa sepertimu” Gumamku.

Tut.. Tut..
Tiba-tiba saja HP-ku bergetar datang telepon darimu.

“Sudahi saja hubungan ini. Ini akan lebih baik buatku dan buatmu.”
 
Tanpa basa-basi terlontar kalimat yang menyeramkan itu darimu. Sontak aku terdiam semakin termangu. Hatiku tercabik-cabik. Tergilas. Remuk!

 ***

Waktu itu aku pernah bercerita bahwa kuliahku cuti. Aku harus bekerja karena orang tuaku sudah tak sanggup lagi membiayaiku hidup ditanah rantau. Bagaimanapun aku harus mandiri.
Saat aku ceritakan itu kepadamu kau menanggapinya dengan datar. “Hmm..”

***

Saat liburan tiba, kita sempat bertemu di taman kota atas permintaanku. Malam itu tak  banyak orang berlalu lalang. Hanya ada beberapa orang yang menyempatkan mampir untuk membeli jajanan yang berjejer di pinggiran taman. Kita duduk dikursi dekat air mancur yang dulu ditempati oleh ibu-ibu penjual bunga. Tampak wajahmu terlihat begitu berbeda. Kau terus menatapku. Lama kita terdiam saling bertatap muka. Suara air gemericik keluar dari lubang-lubang paralon yang dipasang mengelilingi kolam air itu.

“kita gak mirip”

“Apanya?” Aku Tanya.
  
“pokoknya kita gak mirip”

“Permisi mas, mba. Sudah jam Sembilan” Penjaga taman mengingatkan kita untuk segera pulang karena sudah hampir larut malam.

Kita berdua pulang tanpa ada sepatah katapun untuk mengahiri perjumpaan malam itu. Tanpa ada penjelasan lanjutan dari apa yang kamu katakan. Aku antar kerumahmu. Kau sampaikan hati-hati dijalan. Aku pulang dengan memikirkan apa maksud dari kalimat itu.

***

“mas.. mass..”

“Eh. Iya de”

Bocah-bocah kecil itu menegurku. Mereka sudah selesai bermain di sungai.

Suara adzan magrib berkumandang. Memanggilku untuk lekas pulang dan bersiap-siap menghadap-Nya.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel