Seksualitas, Kecabulan Masa Kini dan Moralisme Publik


Seksualitas, Kecabulan Masa Kini dan Moralisme Publik
Sumber Foto: IG Marjin Kiri


Identitas Buku
Judul: C*bul: Perbincangan Serius tentang Seksualitas Kontemporer

Penulis: Hendri Yulius

Penerbit: Marjin Kiri

Cetakan: Agustus, 2019

Tebal: i-viii+271

ISBN: 978-979-1260-90-9

Berbicara persoalan seks dan perjuangan gender seperti tidak ada habisnya. Wacana tentang seks dan  perjuangan  gender, seringkali beririsan dan tidak bisa jauh dengan yang namanya moralitas publik. Seks yang awalnya adalah aktivitas privat, dewasa ini terbawa ke dalam urusan yang publik. Titik ekstrimnya, kecendrungan publik hari ini, seakan ingin mencampuri dan menjadi hakim yang menentukan idealnya seksualitas dari seorang individu. Hingga muncul sebuah pertanyaan; “apa yang menarik dari seksualitas hingga penting diurus oleh publik?”

Seksualitas tentu saja tidak bisa terlepas dengan yang namanya kekerasan seksual. Di Indonesia sendiri, kasus kekerasan seksual masih banyak kita temui sepanjang kurun waktu 2019. Bisa dikatakan, tidak satu daerah atau wilayah di Indonesia yang benar-benar bersih dari kasus kekerasan seksual. Kasus kekerasan seksusal pun pada akhirnya menjadi penting untuk diperbincangkan.

Antisipasi terhadap kekerasan seksual kiranya sudah banyak kita temui. Mulai dari berbagai kebijakan dan program yang dibuat pemerintah, sampai peran dari keluarga. Akan tetapi, apakah berbagai kebijakan dan program pemerintah serta peran keluarga sudah efektif dalam menanggulangi maraknya kekerasan seksual yang terjadi? Di sinilah kiranya akan menarik jika membahas buku C*bul karya Hendri Yulius. Terlebih jika dikaitkan dengan konteks permasalahan yang sudah saya singgung sebelumnya.

Untuk lebih mudah, mari kita mundur sejenak dan mengingat bagaimana kontroversialnya film Dua Garis Biru. Ketika peluncurannya, film tersebut menjadi bahan yang diperdebatkan oleh publik. Publik pun terbelah waktu itu. Di satu sisi, ada kelompok yang menolak film itu ditayangkan secara luas, dan berusaha agar film itu tidak ditayangkan. Di sisi lain, ada juga kelompok yang mengapresiasi film tersebut dan mendukung film tersebut untuk ditayangkan.

Alasan kelompok pertama, film Dua Garis Biru dianggap terlalu cabul untuk ditayangkan dan menjadi bahan tontonan publik. Sedangkan kelompok yang kedua, mendukung dengan alasan bahwa film tersebut layak ditayangkan karena menjadi bagian dalam pendidikan seks, yang di mana, di Indonesia sendiri pendidikan seks masih dianggap hal yang tabu.

Terlepas dari perdebatan tersebut, bisa kita asumsikan bahwa publik—dalam hal ini masyarakat Indonesia—belum cukup dewasa dan siap untuk memperbincangkan tentang seksualitas dan kecabulan, yang berimplikasi terhadap moralitas dan moralisme publik. Hal itu begitu kentara, ketika masing-masing kelompok yang berdebat tentang film Dua Garis Biru saling tuding, dan menganggap kelompok lain bertujuan merusak, baik yang menolak dan mendukung.

Belajar dari pengalaman yang dialami Film Dua Garis Biru, tampaknya juga menjadi bagian pengalaman Hendri Yulius selama proses penerbitan buku C*abul ini. Perasaan takut tentu saja ada, mengingat buku C*abul notabene mengangkat isu yang lebih sensitif dan ditabukan? Menonton film porno saja sudah dianggap tidak bermoral, apalagi membicarakannya secara terbuka (hlm 9).

Sekedar bicara tentang seks saja sudah bisa memantik kontroversi di mana-mana, apalagi bicara tentang pornografi . Padahal, jika mau dikaji lebih teliti, pornografi sudah sama tuanya dengan peradaban manusia.Menurut Hendri, pornografi dewasa ini harus dikaji selayaknya media seperti film, koran, TV, dan majalah yang membentuk cara berpikir kita.

Pada masa modern ini, perubahan yang terjadi pada pornografi juga sedikit-banyak dipengaruhi oleh yang namanya dunia maya. Aturan yang ada di dunia maya, pada akhirnya ikut mengontrol seksualitas kita. Dengan hadirnya buku ini, diumpamakan seperti dokter bedah yang berniat untuk mendedah anatomi sosial-budaya pornografi yang selama ini diselubungi ketabuan (hlm 11).

Selain mengupas tuntas soal pornografi, buku ini juga menyinggung kelompok yang memperjuangkan kesetaraan gender, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan kelompok feminis. Seringkali kita lihat kelompok feminis sangat mengecam eksploitasi dan objektivikasi terhadap tubuh perempuan. Tidak jarang, kelompok feminis mengutuk iklan yang terlalu bias gender, karena tubuh perempuan dipakai sedemikian rupa untuk menarik konsumen. Hal tersebut juga merambat ke industri pornografi yang sebagian besar daya tariknya terletak pada perempuan.

Dalam pornografi, dominasi terhadap perempuan begitu kentara. Hal itu lah yang nampaknya membuat kelompok feminis murka. Namun, klaim bahwa dalam indsutri pornografi tubuh perempuan yang selalu menjadi sasaran nampaknya harus segera dikoreksi. Hendri melalui penelitiannya menemukan bahwa tidak hanya perempuan yang mengalami degradasi, tetapi laki-laki juga tidak bisa lepas akan hal itu.

Dewasa ini, pasivitas perempuan dalam industri pornografi tidak lagi menjadi hal yang seksi. Seiring perkembangan waktu, antara pornografi dan erotika membuat seksualitas kita juga ikut berkembang. Tidak jarang kita menemukan film porno yang yang aktornya harus menghadapi dua perempuan atau lebih sekaligus. Dalam film porno yang bergenre sejenis, letak kenikmatan bisa dibilang bergeser.

"Fantasi yang hadir tidak lagi fokus terhadap perempuan, namun kepada laki-lakinya. Penonton laki-laki film porno yang bergenre tersebut pun tidak akan berfantasi terhadap tubuh perempuan, akan tetapi membayangkan bagaimana menjadi laki-laki yang ada di film tersebut."

Melihat paradoks yang terjadi, perjuangan gender pun pada akhirnya harus lebih teliti dan banyak mengoreksi sektor perjuangannya. Perjuangan gender untuk menolak pornografi yang bagi sebagian besar kelompok feminis menjadi biang keladi ketidaksetaraan gender, pada akhirnya harus menemukan jalan buntu. Kapitalisme global tidak lagi hanya memanfaatkan perempuan dan mensubordinasinya, akan tetapi laki-laki hari ini juga menjadi korban kapitalisme global yang bagi sebagian besar kelompok feminis ditentang.

Selanjutnya, kenapa pornografi dan seksualitas bisa berimplikasi terhadap moralitas serta moralisme publik? Walau belum ada data yang pasti, Indonesia bisa dikategorikan sebagai negara yang paling banyak dan sering mengakses situs porno. Dilansir dari beberapa berita dan penelitian, aktivitas mengakses situs-situs porno begitu tinggi di Indonesia. Hal ini lah yang kiranya membuat Indonesia  menjadi pangsa pasar  yang menjanjika bagai industri pornografi.

Suka atau tidak, pemerintah harus mengakui bahwa aktivitas untuk mengakses situs porno atau bokep tidak akan bisa lagi dihalangi dan dikontrol. Dengan tingkat kecerdikan yang bertambah, orang-orang Indonesia bisa menembus pemblokiran yang dilakukan pemerintah dengan biaya yang murah. Pornografi, pada akhirnya seperti menjadi konsumsi wajib bagi orang Indonesia.

Namun, ada anomali yang menyangkut pornografi ini. Publik atau netizen yang akrab kita kenal hari ini, akan sangat bising ketika ada insiden seksual yang sedang viral. Terlebih jika yang menjadi viral adalah tokoh publik karena akivitas seksualnya. Contohnya, jika ada akun twitter seorang tokoh publik yang ketika dilacak ternyata pernah menelusuri dan tidak sengaja memencet tombol like untuk akun atau postingan yang berbau pornografi. Publik tiba-tiba akan menjadi hakim yang bijak atau orang suci, jika sudah ada kasus yang mengumbar erotisme sepeti ini.

"Padahal, tolak ukur baik-benarnya seseorang tidak akan bisa diukur dari aktivitas seksualnya."

Hal ini lah yang kemudian membuktikan kita harus lebih dewasa ketika membicarakan tentang seksualitas, agar terkesan tidak menghakimi. Buku C*abul adalah upaya ringan untuk mulai membuka percakapan secara dewasa antara orang yang juga telah dewasa—baik secara usia dan pemikiran—untuk lebih melihat dan memahami isu seksualitas dengan lebih jujur dan kompleks. Selain itu, buku ini juga selayaknya kompas yang membantu kita agar tidak terjebak ketika menelusuri anomali yang terjadi pada pornografi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel