Sebersit Senyum dan Sekumpulan Puisi Lainnya [Puisi]


Sebersit Senyum dan Sekumpulan Puisi Lainnya [Puisi]
Sumber Foto: fineartamerica.com


Pemenang Pertama

Suatu pagi hari itu menjadi sejarah
Awal jumpa, sapa nama
Tapi pendengaranku tak acuh
Hanya memikirkan sebuah sosok yang di sana
Namun ia memaksa,
Membuatku memandang di tengah cahaya

Aku bercerita,
Membacakan kisah siangku pada dunia
Dan ia pun begitu peduli
Peduli pada saat di mana lantai dua menjadi saksi
Tangga-tangga adalah pengukir lara
Naungan pohon meriuhkan lekukan angin
Aku hanya inginkan sinar waktunya memandang
Jauh melewati batas impian
Tapi tak sampai pula senyumku padanya.
Katakan saja, wahai nafas…
Berlari, temukan genggamanku di sana.
Kau tahu, aku menunggu dengan tangisan.
Selamat telah jadi pemenang pertama
Yang begitu pandai berkisah,
Seakan tak ada cerita ramah
Padaku dan pada dunia
Tapi, tetaplah menjadi pemenang pertama.
Sekalipun tidak,
Tulus senyumku menggenggam mimpimu

27 November 2013



Di Ujung Tangga

Di ujung tangga hari pertama,
Langit mendung berawan wajahnya.
Dan lantai dua tetap sedingin tatapan udara pagi
Tidak peduli,
Tapi orbit tangga memaksa.
Menjauhkanku dari genggaman langkah
Dia pun begitu,
Betapa lucu saat mengedipkan keluhnya
Dan ketika terbang berlalu
Adalah awal kali menengadah kata-kata
Melambai, mengenang kembali
Sang wajah familiar di ujung tangga.
 
06 Desember 2013



 Sebersit Senyum

Matahari di siangmu begitu cerah
Bekecipuk riangnya membelah langkah
Aku menjemput harapan
Di sana, saat mantap jejakku mengarah
Sebentar saja berbasa-basi
Jalan kata-kata, semoga ada.
Dan ternyata
Lelahku menatap sebersit senyum
Di seberang jalan yang basah
Bersuara, melengkingkan nada.
Betapa bahagia..
Saling menyapa kemudian melambai
Sebersit senyum yang sedetik itu
Menambahkan segenggam kehangatan,
Tiada henti terdengar
Ingin sekali tetap di sana
Tetapi waktu menjerit tuk terus berdetak
Dan aku tak sanggup menolak
Merelakannya tentang bersama sebersit senyum

22 November 2013



Yang Terakhir

Ayah…. Papa
Aku adalah orang terakhir,
Yang akan mengucapkan selamat ulang tahun,
Tidak lewat ucapan atau nyanyian
Suara sampai pun tidak
Aku ingin engkau tahu
Aku menulis ini pada 15 menit sebelum tengah malam
Di mana detik-detik terakhir salah satu dari hari bahagiamu,
Termakan habis oleh malam

Ayah…. Papa
Aku harap engkau tahu,
Bahwa aku telah memesan tart pada langit,
Minggu pagi akan kuambil,
Karena mentari yang mengantar pesananku,
Berhias bintang dan berembun malam,
Betapa indah bukan?
Sahabat-sahabatku itulah yang memberiku senyuman saat aku memandang,

Ayah… papa
15 menit ini akan segera habis
Semoga detik-detik tetap memberimu banyak tawa
Dan putaran jam membawakan kecupan sayangku
Pada setiap langkahnya.
Sangat manis.
Mengingatmu akan bahagia…
Selamat ulang tahun, papa…

07 November 2013 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel