Pendidikan Profetik: Sebuah Ikhtiar Membebaskan Manusia


Pendidikan Profetik: Sebuah Ikhtiar Membebaskan Manusia
Sumber Foto: facebook Reza D. Zea


Kamis, 12 Desember 2019, kawan-kawan dari Sisters In Islam berkunjung ke kampung Karangdawa. Sisters In Islam, SIS-red, adalah organisasi sosial non pemerintah yang berkantor pusat di Malaysia. Lembaga ini, bergerak di seputar isu Hak-hak perempuan dan keluarga dalam kerangka paradigmatik Islam dan Hak Asasi Manusia.

Dalam lawatannya yang pertama ini, 14 Member of SIS, hadir dalam rangka menyambangi Sekolah Alam Wangsakerta. Mereka hendak mengetahui lebih dalam terkait profil SA Wangsakerta; termasuk di dalamnya bagaimana kami beraktivitas, dan cara kami belajar sehari-hari.

Pertemuan informal tersebut, dimulai dengan saling memperkenalkan diri masing-masing. Berurutan mulai Member of SIS, para guru dan relawan, hingga murid-murid SA Wangsakerta. Di saat obrolan tengah berlangsung, berbagai kudapan lokal tersaji di altar perjamuan.

Selesai sesi perkenalan, acara berlanjut ke sesi dialog interaktif. Satu pertanyaan dari Member of SIS, mengenai bagaimana cara kami menyusun kurikulum pendidikan SA Wangsakerta, segera dijawab oleh Pak Wakhit, Pendiri sekaligus Penggerak dari Yayasan Wangsakerta.

Menurut Pak Wakhit, pendidikan di sekolah kami sangat berbeda dengan model pendidikan konvensional. Sistem pendidikan di SA Wangsakerta, menggunakan konsep pendidikan hadap-masalah.

Sistem ini, memposisikan guru dan murid dalam relasi yang setara. Sama-sama sebagai subjek pembelajar. Belajar memetakan, menguraikan, sekaligus memahami segala persoalan yang ada di sekelilingnya. Harapannya, masing-masing dari subjek pembelajar tadi dapat menjadi problem solving bagi dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya.

Di SA Wangsakerta, tak ada mata pelajaran khusus, seperti Matematika, IPA atau Sains, IPS, dan Bahasa seperti di sekolah konvensional pada umumnya. Kami, belajar per-proyek. Learning by project and issue. Namun, dari proyek tersebut kita juga bisa sambil belajar Matematika, IPA, dan IPS.

Begini penjelasannya; Berkebun, beternak, serta mengolah dan memilah sampah, adalah proyek yang sedang digarap oleh teman-teman dari SA Wangsakerta saat ini. Dari kegiatan tersebut, kita belajar menghitung volume sampah, mengenal struktur tanah, jenis dan PH tanah, biota tanah, mengamati pertumbuhan unggas, memperbaiki unsur hara yang semuanya itu tidak mungkin dilakukan, tanpa melalui pendekatan Matematika dan Sains terapan.

Pendek kata, ini semua tentang strategi pembelajaran. Strategi menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus memanusiakan. Tak seperti pendidikan konvensional yang tak pernah sadar bahwa manusia itu unik. Kami di sini, belajar memahami sekaligus memfasilitasi peserta didik, sesuai dengan minat dan potensi masing-masing. Mereka dibebaskan untuk memilih dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.

Kaitannya dengan pendidikan, ada dua kisah yang ingin saya bagi disini. Pertama, kisah dari Nabi Adam AS. Saat itu untuk pertama kalinya berlangsung proses pendidikan yang tentu saja bukan di muka bumi melainkan di surga sana, kala Allah, sang pemilik ilmu, mengajarkan nama-nama benda kepada Nabi Adam, murid pertamanya.

Ada transfer pengetahuan di sana. Pengetahuan yang membuat malaikat melakukan sujud penghormatan terhadap Nabi Adam. Penghormatan yang menabalkan derajat ketinggian orang-orang yang berilmu sesudahnya.

Dari kisah tersebut, saya menangkap pesan yang kuat, terutama saat Allah mengajarkan nama-nama benda kepada Nabi Adam. Menamai di sini, bukan sekedar memberikan gelar atau label, melainkan kata kerja aktif.

Menamai berarti mengidentifikasi, memahami, sekaligus membedakan antara satu dengan lainnya. Sebuah nama, menjadi demarkasi paling tegas diantara gelap dan terang. Menjadi tanda di antara yang terpetakan dan belum terpetakan.

Jauh sebelum Nabi Adam diciptakan, Allah sudah mengisyaratkan akan menciptakan makhluk dari jenis manusia, sebagai wakilnya di muka bumi. Oleh sebab itu, Allah mengajarkan segala sesuatunya kepada Nabi Adam, agar dapat bertugas sebaik mungkin sebagai khalifahnya di muka bumi.

Hal ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Abbas, pakar tafsir Islam pertama, bahwa nama-nama benda yang terdapat di dalam Q.S Al baqarah: 31 adalah seluruh nama benda yang ada di muka bumi tanpa terkecuali, berikut tugas dan fungsinya masing-masing.

Dari kisah Nabi Adam di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, kerja pendidikan sejatinya mengakrabkan manusia terhadap realitas atas ruang hidupnya. Tujuannya pengetahuan akan pemahaman realitas tersebut, dapat dijadikan kompas di dalam mengarungi kehidupannya.

Selanjutnya, kisah kedua datang saat Malaikat Jibril turun membawakan wahyu untuk pertama kalinya kepada Nabi Muhammad SAW, yang saat itu sedang bertahannuts di Gua Hira. Sebuah proses mendisiplinkan diri lewat perenungan dan penghayatan atas Zeitgeist, dalam upayanya memperoleh pencerahan akal budi, agar dapat menuju dan menyibak kebenaran sejati.

“Bacalah Ya, Muhammad” kata Malaikat Jibril. “Saya tidak dapat membaca” kata Nabi Muhammad. Dialog perintah untuk membaca itu berulang sampai tiga kali hingga Nabi Muhammad berkata “apa yang harus saya baca?” lalu turunlah Wahyu yang pertama Q.S Al Alaq: 1-5.

Terang saja, Nabi Muhammad bingung tentang apa yang harus ia baca. Boleh jadi kita semua akan melakukan hal yang sama, saat sesuatu yang asing datang dan menyuruh kita untuk membaca, sedang ditangannya tak terlihat sesuatu seperti buku atau semacamnya.
Tentu saja "baca” yang diperintahkan Malaikat Jibril bukan membaca teks, melainkan membaca kondisi zaman. Melalui Malaikat Jibril, Allah memerintahkan kepada Nabi 
Muhammad untuk membaca kondisi sosial Mekah saat itu.

Sebagai bagian dari proses pendidikan, membaca berarti berusaha memahami, menguraikan, sekaligus melakukan satu tindakan perubahan. Dan bersamaan dengan turunnya perintah “membaca”, Nabi Muhammad resmi mengemban misi kenabian yang menurut Ali Syariati, tugas para Nabi bukan cuma mengajak umat manusia kembali mengingat Tuhan, melainkan juga membebaskan manusia dari belenggu penindasan.

Dari kisah tersebut, kami berkeyakinan bahwa pendidikan bisa memberikan jalan bagi pembebasan manusia dari realitas sosial yang menindas. Memanusiakan kembali manusia yang terasing atas ruang hidupnya akibat kooptasi dari kuasa ekonomi, politik, maupun budaya.

Bagi kami, pendidikan dan perubahan sosial adalah dua konsep yang tak dapat dipisahkan. Orientasi pendidikan harus sinergis dengan nilai dan visi dari transformasi sosial. Itulah mengapa, membangun mental dan karakter manusia adalah hal yang pertama kali dilakukan saat melakukan kerja-kerja perubahan.

Seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”. Seperti Soekarno lewat konsep Nation Character Building dimasa kepemimpinannya. Namun sayang, konsep membangun karakter manusia Indonesia itu, oleh Harto diganti membangun gedung dan pabrik.

SA Wangsakerta, adalah ikhtiar kecil dari kami dalam membangun mental dan karakter manusia. Mengembangkan kembali potensi-potensi kemanusiaan, termasuk di dalamnya daya cipta dan nalar kritis manusia, yang selama ini dibungkam oleh struktur sosial yang hegemonik.

Misjani, murid dari SA Wangsakerta mengutarakan kegembiraannya saat ditanya bagaimana perasaannya selama bersekolah di sini. Sebelum adanya Sekolah Alam, Ia mengaku tak mempunyai imajinasi akan proyeksi hidup kedepannya. Hingga ia diajak Aisyah, kawan sepermainannya untuk mengikuti kegiatan belajar, yang saat itu masih menyewa di salah satu rumah milik warga setempat.

Tak hanya Aisyah dan Misjani, pemuda usia belasan tahun lainnya, juga mengikuti kegiatan belajar. Dalam perjalanannya dua tahun ini, tercatat hanya sekitar 15 murid yang bertahan dan terlibat aktif dalam sekolah rintisan ini.

Masih jauh dari harapan memang. Namun tak mengapa, bukankah tak ada perubahan sosial yang berjalan secara cepat. Kalaupun ada biasanya banyak darah yang tercecer di sana. Sekali lagi tak mengapa. Apalagi mengingat lilin yang kami nyalakan belum berjalan begitu lama, dibanding parade obor yang dilakukan oleh guru-guru kami.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel