Nata dan Imajinasinya

Nata dan Imajinasinya
Sumber: @satu_cangkir

Sekali waktu, malam terang di langit Jogja. Nata tengah mengantri di barisan depan meja kasir. Selang tak berapa lama, Nata mendapat gilirannya untuk memesan menu kesukaannya. Lebih dahulu Nata menyapa si kasir yang berjaga, kemudian melihat list menu yang terpapar di meja kasir. Sambil membaca menu, Nata menganggu-angguk, ia rasa sudah menemukan nama menu makanan dan minuman yang ingin dipesannya: kopi tabrak cangkir dan nasi pecel kadal.

“Seperti biasa. Total 18.000 rupiah” Ujar si Kasir pada pelanggan tetapnya itu.

***

Si Kasir memberi Nata sebuah balok berwana merah dengan nomor 8 di tengahnya. Setelah Nata berjalan menuju meja tempat biasa ia ngopi. Si kasir menoleh ke belakang tempat duduknya—yang merupakan dapur—di mana makanan dan minuman dibuat.

“Kopi cangkir tabrakk, nasi pecel kadal!” Dan si Kasir menekan bel bulat di hadapan mukanya

“Ting..!”

“Asyap..!” Jawab kompak tiga karyawan di dapur. Dino Dino Isuk, karyawan yang bertugas membuat minuman malam itu, segera mengambil cangkir di rak yang tertata rapih di bawah meja-besi. Dengan cekatan Dino meracik kopi pesanan Nata; pertama, ia ambil satu sendok setengah kopi, lalu gula satu sendok makan. Setelah dua bahan itu dimasukan ke dalam cangkir, Dino Dino Isuk menimang-nimang serta memerhatikan dengan teliti komposisi gula-kopi dalam cangkir. Tentu, Dino Dino Isuk tak mau jika rasa kopi yang dibuatnya kemanisan, kepahitan,atau malah tak jelas rasanya.

Sementara dua orang lainnya; Sahrul Becek dan Sadam Jembut tengah sibuk membuat nasi pecel kadal, yang merupakan menu andalan Warung Bdongngopay. Sekaligus menu kesukaan Nata. Sahrul Becek kebagian menyiapkan nasi, sedang Sadam Jembut menggoreng tempe, yang telah diiris-irisnya lebih dulu.

***

Sambil menunggu pesanannya datang, Nata, yang duduk di pojok warung kopi, berdekatan dengan kolam ikan; berisi dua ekor kura-kura yang bernama Andras Nangkarak dan Kimoth Jengkang serta beberapa ikan sapu-sapu. Nata, mengambil pakan di plastik berwarna biru, di samping meja-kursi tempatnya duduk. Nata merauk pakan itu sebanyak satu genggaman lalu ditaburkannya ke kolam ikan.

“Ayo Andras Nangkarak, Kimoth Jengkang, elu-elu juga sapu-sapu. Makan nih” Seru Nata sambil menabur pakan di tangannya ke kolam ikan. Seakan sudah mengerti dengan panggilan Nata, Andras Nangkarak, Kimoth Jengkang, dan beberapa ikan sapu-sapu, yang menurut Nata masuk kelompok hewan-hewan penganut paham binatangisme sebagaimana—setiap binatang-binatang—dalam novel karangannya George Orwell; Animal Farm, yang sempat ia baca. Mereka merecoki pakan yang ditaburkan Nata. Andras Nangkarak dan Kimoth Jengkang turut ikut makan, setelah sebelumnya sembunyi dibalik tempurung.

“Nomor 8!”

“Sini, mas.” Nata mengacungkan balok nomor yang didapatnya dari si kasir.

“Silakan, Mas Nata.” Shaolin Kribo, Juru antar pesanan, menaruh pesanan Nata, dari nampan yang dibawanya. “Pesanannya sudah semua, Mas Nata?”

“Sudah. Asalele..ihaaa..wadidau!”

“Kalau begitu nomornya saya ambil.” Shaolin Kribo dengan senyum yang dipaksakan, mengambil balok nomor di meja Nata. Dan berlalu mengantar pesanan ke meja pemesan lainnya.

***

Tanpa menunggu lama Nata menyantap nasi pecel kadal kesukaannya dengan lahap. Hanya sekitar tiga menit, nasi pecel kadal yang semula tersaji di piring, habis tanpa sebutir nasi pun tersisa.

Ngeunah pisan.. Mantapanjing! Ooo..” Teriak Nata keenakan tanpa mempedulikan orang-orang yang di sekitarnya, yang melihat tingkah aneh Nata.

Bar mangan ora udud; paru-paru ora semel, gumam Nata menirukan perkataan teman-teman Jawanya. Nata menyomot sebatang kretek Djarum dari bungkus di mejanya; menyulutnya, menyesap, lalu menghembuskannya ke udara. Tentu saja, sebagaimana millenilall pada umumnya; gawai tak luput dari genggaman Nata.

Namun, bukan media sosial yang dilihat-lihat oleh Nata. Melainkan berita-berita terbaru di media daring yang biasa diaksesnya.

“Anjiang.. Apaan nich? Taglinenya: MUNCRAT EMPITYIE. Jaman edan, sejak kapan Pentagon didirikan di Bendung Island, PBB didirikan di Bendung Island, juga? Setiap kota di Indonesia harus mendaftar ulang ke MUNCRAT EMPITYIE, kalau enggak bakal di-gang-bang hingga porakporanda?”  Nata terkekeh membaca berita di gawainya—tak sadar—hingga menggebrak-gebrak meja.

“Kampret! Suara apaan tuh?” Selidik Sadam Jembut dari dalam dapur.

“Biasa, Nata, Pelanggan setia kita, yang agak gila itu. Noh, di sana.” Jawab Dino Dino Isuk tanpa bergeming.

Untuk kesekian kalinya Nata tak menghiraukan mata orang-orang di sekitarnya yang sejak semula sudah menatap Nata dengan tatapan aneh. Sebaliknya, Nata semakin sibuk mencari informasi lengkap seputar Muncrat Empiytie di gawainya. Dengan seksama Nata fokus pada layar gawainya; membaca kata demi kata berita yang muncul. Dan untuk kesekian kalinya, satu berita yang tak kalah dahsyat, membuat Nata menggebrak-gebrak Meja. Kini ia juga berjingkrak-jingkrak bak monyet sange menemukan betinanya.

“Wadidau, Asyuuu.. Celeng. Ini gak kalah gendheng: KRATON AGENG SAJEMBUT! Puji Tuhan, kok bisa.”

Usut punya usut, Jenglot Khan Teko Lungo, supervisor yang bertugas jaga malam itu. Memerhatikan Nata sejak semula ia tiba di Warung Bdongngopay. Dua bola mata Jenglot Khan Teko Lungo menyelia Nata, tak ubahnya telik sandi yang tengah memata-matai target incarannya.

“Jancok! Ancur tuh meja. Bajila! Asyu! Suog! Sekali lagi gebrak-gebrak meja, ta seret masuk dapur, kamu. Ta bikin tahu cocol, baru tahu rasa koe, Nat.” Gumam Jenglot Khan Teko Lungo seraya menyelia Nata.

***

Untuk sesaat Nata sempat terhenti, kemudian menyudahi membaca berita di gawainya. Sibuk dengan gawainya, ia nyaris melupakan kopi tabrak kesukaannya. Kopi itu sudah mulai rada anget. “Tapi tak mengapa; biar panas kek, dingin kek, beku kek. Tetap ku suka.” Nata mencecap-cecap kopi yang disodorkan ke mulutnya, sesekali, diselingi menghisap kretek di jepitan jarinya.

Syrupp..!

“Anjay, mantap!” ucap Nata sesaat setelah mencecap Kopi tabrak di tanganya. Bagian lain dari kopi,  yang disukai Nata, selain air kopinya yang biasa ia minum, atau ampasnya yang biasa ia pakai buat nyete. Tentu saja, memerhatikan bulir-bulir kopi di dalam secangkir kopi yang masih utuh. Sekilas tidak ada yang istimewa dengan hal tersebut. Akan tetapi tidak buat Nata.

Setidaknya, kebiasaan memerhatikan bulir-bulir dalam secangkir kopi, ia tiru dari sebuah adegan dalam seri film dokumenter Albert Einstein besutan National Geoghraphic. Satu episode (yang Nata sendiri sudah lupa episode berapa) menampilkan Einstein muda yang tengah bergelut dengan kerangka teori yang dipikirkannya. Alih-alih mendapat jawaban atas rumus-rumus yang sedang dikerjakan, Einstein malah muak sebab buntu tak menemukan pencerahan. Secara tidak sengaja Einstein yang tengah mumet, terpaku pada partikel-partikel kopi dalam gelas yang berada di meja kerjanya. Dari partikel-partikel kopi itu, Einstein terbayang cara kerja teorinya, ia seperti tercerahkan. Adegan tersebut menjadi potongan inspirasi bagi Einstein muda dalam membakukan teori relativitasnya, yang kelak menggemparkan jagat per-fisika-an dunia.

Tentu saja, Nata bukan bermaksud mencoba membuka kemungkinan untuk secerdas Einstein—dengan ketidaksengajaanya memerhatikan partikel dalam secangkir kopi. Lagipula Nata sadar diri; otak dibalik batok kepalanya tak berbanding lurus dengan ukuran perawakannya yang tambun. Tetapi, menurut Nata, jika Einstein mampu menemukan inspirasi dari partikel-partikel dibalik secangkir kopi, mestinya ia juga bisa. Sekalipun Nata (sangat) sadar kesimpulan yang didapat jelas-jelas akan berbeda; ia takkan menemukan penemuan sebrilian Einstein.

***

Dengan fokus tingkat dewa, Nata memerhatikan partikel-partikel kopi di mejanya, lebih jeli, lebih dalam. Kini, tatapan Nata persis seperti seseorang yang tengah mengintip sesuatu melalui lobang pintu; kelopak matanya kian menyipit. Suasana di Warung Bdongopay yang padahal sedang ramai-ramainya. Senyap Seketika.

Nata menoleh kanan-kirinya, orang-orang terhenti dari geraknya. Tidak! Waktu yang berhenti, pikir Nata. Ia coba meyakinkan dirinya, kalau ia tidak sedang berhalusinasi.

Ia mulai mengingat-ingat makanan atau minuman yang sempat ia konsumsi. Pertama, ingatan pagi hari, sejak ia bangun; seingat Nata, dirinya belum makan apa-apa. Kedua, ingatan dari pagi hari hingga sore; juga sama, ia belum makan apa-apa, kecuali setengah botol tuak cap Curut Edan, yang didapatnya dari Oteng Ibnu Kafir Salawase (juru parkir/Staf ahli tatakelola kendaraan), saat Nata tiba di parkiran Warung Bdongopay.

Nata coba mengulik-ulik  detail ingatannya; ketika itu Oteng Ibnu Kafir Salawase sempat menjelaskan, jika tuak cap Curut Edan yang diberikannya pada Nata, telah terlebih dahulu dioplos air bekas permentasi tape pemberian Sahrul Becek. Hingga rasa tuak cap Curut Edan itu tak karu-karuan.

“Ah, gak mungkin, Cuma setengah botol kecil,” Ucap Nata menanggapi pikirannya sendiri.

Tiba-tiba Nata teringat obrolannya tempo hari dengan Abid Cicabulita, seorang teman Jawanya. Ketika itu Abid Cicabulita, menerangkan soal kesaktian orang-orang Jawa (tertentu) yang konon katanya bisa moksa; lenyapnya jiwa seseorang menuju dimensi nun jauh tak terjangkau. Itu ditandai dengan waktu terhenti untuk beberapa saat.

“Ah, tapi masa Iya. Bodo amat,” Gumam Nata.

***

Akhirnya ia samasekali tidak ambil pusing dengan waktu yang terhenti, tuak cap Curut Edan pemberian Oteng Ibnu Kafir Salawase, yang sempat ditenggaknya, ataupun cerita Abid Cicabulita soal moksa. 

Nata memilih menghanyutkan pikirannya untuk menindaklanjuti kelucuan-kelucuan di tempat lain—yang sempat ia baca melalui berita di gawainya—macam Muncrat Empiyitie dan Keraton Ageng Sajembut, ini nampak lebih menyenangkan, pikir Nata.

***

Ie terkekeh, mengebrak-gebrak meja sejadi-jadinya; sebab membaca berita berulang kali di gawainya tanpa bosan. Nata sempat menoleh kanan-kirinya, ia senyam-senyum sendiri, melihat orang-orang di sekitarnya diam tak bergerak.

 “Ada gunanya juga waktu terhenti.”kini takkan ada yang mendelik, atau memprotesnya.
Dalam suasana hening. Nata kembali memerhatikan partikel-partikel kopi dalam cangkir di hadapannya.

Suuuut....

sekonyong-konyong. Nata hanyut melayang dalam imajinasinya. Ada semacam dorongan aneh dalam dadanya, kehendak untuk meletakan diri pada tempat dan posisi layaknya orang-orang inisiator Muncrat Empiyitie dan Keraton Ageng Sajembut. Ya, Nata ingin seperti mereka.

***

Nata membayangkan Jika ia tengah berada di posisi yang hampir sama persis dengan  yang diimajinasikan orang-orang gila di berita yang dibacanya. Bahkan mungkin lebih hebat.

Kini ia benar-benar hanyut dalam imajinasinya. Duduk dengan tatapan kosong, akan tetapi bibirnya terkekeh-kekeh.

“Bukan Warung Bdongopay, sebagaimana orang tahu; tempat minum ngopi dan kongkow. Melainkan lembaga satu-satunya, yang punya otoritas tunggal untuk mengatur transaksi jual beli perkopian se-Jogja,” Jelas Nata, sesuai imajinasi di kepalanya.

Imajinasi Nata terus berlanjut dengan jernih dan lancarnya. Hingga ia mampu membayangkannya secara detail dan menentukan alur imajinasinya. Begini:

Pertama-tama, Nata akan mengubah nama ‘Warung Bdongopay’ ke nama lain, yang menurutnya lebih cocok dan enak didengar: ‘Bjongopi Empire’ . Selanjutnya, Nata akan mendaulat dirinya menjadi Bijak Bestari, yang paham ilmu pengetahuan seputar per-kopian, termasuk membikin filosofi tentang kopi, dengan begitu tak ada orang yang betul-betul paham cara memperlakukan kopi selain dirinya; mulai dari menanam, memanen, menggiling, hingga meracik dan menyajikannya.

Bahkan untuk urusan meminumnyapun, Nata akan menciptakan teknik dan seni mengicip-icip kopi, agar orang yang mengaku-ngaku pecinta kopi, padahal baru kenal kopi sachetan sehari saja, tidak serta merta sok-sok-an dalam meminum kopi.

Di luar dirinya sebagai bijak bestari, Nata akan memilih orang  terdekatnya sebagai murid, yaitu Unyil Mixmek, untuk kemudian ia ajari segala pengetahuannya soal kopi. Unyil Mixmek bakal Nata baiat sebagai pemimpin Bjongopi Empire—sebagai satu-satunya orang yang mengatur sirkulasi keluar-masuknya kopi ke Jogja. Termasuk, sekaligus menjadikan Bjongopi Empire sebagai sentral perwarung-kopian, yang memberi lisensi bagi warung-warung kopi lainnya untuk dapat beroperasi. khususnya warkop-warkop di sepanjang wilayah Nologaten Island. Misal, Kafe Bisabisa, warkop Dirajam, Warkop Bentol. Tentu saja, mesti ikut cara main Bjong Empire.

Ini juga berlaku bagi warkop-warkop lain di luar wilayah Nologaten Island, misal, warkop Blindingan, warkop Mata dll. Bila ada warkop yang menolak tunduk, tidak mau ikut aturan main, maka Bjongopi Empire bakal menyetop suplai kopi ke warkop tersebut.

***

Merasa selesai dengan urusan nama serta soal kepemimpin Bjong Empire. Kini ia membayangkan, yang akan dilakukan berikutnya, adalah menjejalkan pikiran-pikirannya, yang ia klaim sebagai pikiran humanis-progresif—Nata yakin corak berpikirnya bertolak dari realitas objektif pekerja warung kopi se-Jogja, khusunya para pekerja warung kopi di wilayah Island—kepada Unyil Mixmek, selaku pemimpin Bjongopi Empire. 

Tentu saja, dalam hal ini pemimpin Bjongopi Empire mustahil menolak, sebab Nata sebagai bijak bestari juga selaku soko guru bagi pemimpin Bjongopi Empire.  

Misi pertama Nata, berdasarkan renungan serta proses pemikirannya yang panjang, ialah mempersatukan para pekerja warung kopi se-jogja. Tentu bukan hal yang mudah. Perlu persiapan yang matang, nafas yang panjang, serta energi yang terjaga.

Kondisi di pihak para pekerja warung kopi pun mesti Nata perhatikan dengan baik, mereka tak boleh terpecah belah atau bahkan malah saling bersaing satu sama lain.  Sebaliknya dalam istilah lain Nata menyebutnya ‘solidaritas organik’ dalam tubuh para pekerja warung kopi.

Maka beberapa hal Nata persiapkan demi terciptanya persatuan para pekerja warung kopi se-Jogja.
Nata berniat membuat buku saku, ya, buku saku untuk panduan para pekerja warung kopi di wilayah Nologaten island. Ide membuat buku saku, Nata dapatkan dari bacaanya tentang perjuangan buruh dari berbagai belahan dunia berbeda; timur dan barat.

Dari timur, Nata terisnpirasi dari perjuangan kaum kuminis Cina, di mana orang-orang kuminis di sana, dalam perjuangannya melawan invasi Jepang atas Cina, sekaligus berjuang melawan kalangan nasionalis Cina (Kuomintang), selalu berpegang teguh pada sabdanya pemimpin besar kuminis Cina, Mao Zedong. Yang di mana Pemimpin Mao menuliskan pemikirannya—mungkin tidak semua isi pikiranya—dalam sebuah buku kecil Little Red Book, buku ini wajib di bawa orang-orang kuminis selama berlangsungnya perjuangan fisik mau pun setelah Cina resmi berdaulat menjadi negeri Kuminis.

Sedangkan  inspirasi dari belahan dunia barat, Nata terinspirasi sekaligus terpukau dengan karya Friedrich Engels yang menyoal kondisi buruh inggris pada tahun pertengahan abad ke-18, yaitu The Conditions of the Working Class in England. Nata pengin membuat buku semacam itu. Tentu untuk membuka kesadaran para pekerja warung kopi di wilayah Nologaten Island.

Nata sudah terbayang judulnya, The Conditions of the Working Class in Nologaten Island: Study On Bdongopay. Bahasan isi bukunya pun sudah Nata persiapkan dengan amat matang. Tentu tidak jauh-jauh dari kondisi buruh atau pekerja warung kopi di Bdongopay, berdasarkan observasi mendalam yang dilakukannya setiap malam, sembari ngopi tentunya.

Poin-poin penting dalam buku saku nantinya, diantaranya, meliputi (1) Bagaimana pekerja-pekerja di dalamya diupah murah tidak sebanding dengan beban kerja (bak binatang). (2) Sistem kontrak yang mengikat menjadi buah simalakama bagi para pekerjawarug kopi, sebab bila para pekerja menemui titik jenuh, dan memilih untuk berhenti sebelum kontrak berakir. Mereka masih harus dikenai denda  (tentu ini berangkat dari pembacaan Nata ditambah pula dengan teori alieniasinya KH. Marx, yang sudah Nata kunyah-kunyah hingga mendarah daging, bahkan meresap hingga ke dalam ia punya tulang).

Selain buku saku yang hendak ia ciptakan—sebagai pegangan wajib para pekerja warung kopi—Nata juga mencipta semacam jargon yang ia pinjam dari adagium Marx: “Buruh sedunia bersatulah!” menjadi “Pekerja warung kopi se-Jogja bersatulah!”

***

Jenglot Khan Teko Lungo mulai benar-benar berang melihat Nata, yang jongkok di atas meja sembari senyam-senyum. Belum lagi, dalam keadaan jongkok itu, celana Nata sedikit melorot hingga belahan pantatnya sedikit terbuka, lurus membelakangi muka Jenglot Khan Teko Lungo. Meski sebetulnya jarak Nata tidak terlalu dekat, dengan tempat Jenglot Khan Teko Lungo duduk. Namun tetap saja, jongkok di atas meja dan belahan pantat yang membelakangi muka, bagi Jenglot Khan Teko Lungo adalah perbuatan keparat yang tak bisa dimaafkan.

“Jancok! Gak gebrak-gebrak meja. Malah jongkok di atas meja. Tuh bocah pasti teler, kalau enggak, pasti lagi sange berat. Kali ini mampus kon!”

Jenglot Khan Teko Lungo beranjak dari tempat duduknya, melenggang menuju Nata yang terus terkekeh.

***

Di tempat parkir, Oteng Ibnu Kafir Salawase tengah kalap mencari-cari obat , yang beberapa menit lalu lenyap dari saku celananya. Ia rogoh saku celananya, saku samping maupun belakang. Tidak ada. Obat yang ia cari, sebetulnya ia peroleh dari temannya yang bekerja sebagai apoteker.

Sekali waktu, Oteng Ibnu Kafir Salawase menagih utang pada salah seorang temannya. Saat ditagih si teman kebetulan tak punya uang sepeserpun. Hingga akhirnya Oteng Ibnu Kafir salawase, bersikukuh pada si teman untuk segera melunasi utangnya, dan  jika tidak dengan uang, dengan apapun yag ia punya. Si teman yang ketika itu cuma punya sebutir pil, yang biasa dipakai untuk mengebiri kambing, sapi, anjing, dan monyet. Akhirnya jadilah pil itu  sebagai alat pelunas utang.

“Sumpah demi babi bunting! Siapa yang makan tuh pil pasti lagi ngeplay. Ancok! Siapa lagi orangnya”

“Kan, tadi elu masukin ke cangkirnya Nata” Timpali Goza Berang Berang—Juru parkir cadangan Bdongopay—yang setengah mabuk. Namun masih cukup sadar, untuk mengingat ketika Oteng Ibnu Kafir Salawase memasukan sebuah pil ke dalam cangkir kecil, kemudian mengisi cangkir kecil itu dengan tuak cap Curut Edan kerkali-kali.

***

Shaolin Kribo sempat menyaksikan Jenglot Khan Teko Lungo melenggang dengan muka merah padam. Segera memanggil Sahrul Becek dan Sadam Jembut. Mereka berdua memenuhi panggilan Shaolin Kribo.

“Tuh, lihat, bakal ada pertunjukan seru.” Tunjuk Shaolin Kribo ke Jenglot Khan Teko Lungo.

“Emang AC Milan sekarang main? Lawan apa? Madura United?” Tanya Sadam Jembut.

“But.. Jembut. Picek! Bukan cuk, Nata tuh, lihat,” Jawab Sahrul Becek.

“Oasyuuu. Ee, kok di meja” Ujar Sadam Jembut.

“Duh, Gusti Pangeran, Kalau Nata Kau hendaki baku hantam dengan mas Jenglot Khan Teko Lungo; menangkanlah Nata.” Dino Dino Isuk menjatkan do’a sembari berdiri. Meski do’a yang dipanjatkan berisi permintaan buruk. Dino Dino Isuk merasa ketulusan bercampur kesyahduan, ia yakin itu merupakan do’a tertulus yang pernah ia panjatkan sepanjang ia  bertuhan. Do’a Dino Dino Isuk yang terdengar sampai kuping tiga karyawan lainnya, segera diamini.

***

Setiap pemilik warung kopi diwajibkan memerhatikan kesejahteraan para pekerja di warung kopi mereka. Upah para pekerja warung kopi haruslah betul-betul layak, sesuai UMK. Jika ada warung kopi yang bermain curang, tentu Nata, melalui Unyil Mixmek akan menyanksi si pemilikwarung kopi: dirajam, qishas, atau bahkan untuk pelanggar tingkat tinggi hukuman bisa berubah; di-gang-bang selama tujuh hari tujuh malam non-stop. Bayang Nata.

***

Bruk..!

“Uh, Celeng!” Jenglot Khan Teko Lungo menendang kaki Meja di mana Nata jongkok di atasnya. Nata terjungkir. Kini ia terbujur di lantai sambil terkekeh;  menunjuk-nunjuk wajah Jenglot Khan Teko Lungo.

“Uh, Bajila! Iseh iso ngguyu. Modiar Koe su!” Jenglot Khan menjambak kerah baju bagian belakang Nata, menggeretnya menuju dapur. Orang-orang memerhatikan Jenglot Khan Teko Lungo. Sementara, meski digeret Nata masih bisa terkekeh.

***

Sahrul Becek, Shaolin Kribo, dan Sadam Jembut. Segera menyingkir dari ambang pintu dapur. Prediksi mereka, tak lama lagi akan ada kegaduhan terjadi di dapur. Sedang, Dino Dino Isuk seolah tak terima dengan perlakuan Jenglot Khan Teko Lungo  pada Nata. Di sisi lain ia masih percaya pada kekuatan do’anya. Jadi, ia putuskan untuk berdo’a lebih bersungguh-sungguh. Kini Dino Dino Isuk bersimpuh, berdo’a; agar kesialan menimpa Jenglot Khan Teko Lungo.

***

“Teng, Teng, Oteng. Jawab, cuk!”

“Iya, taik. Apa?”

“Sebetulnya tadi itu Pil apaan?”

“Kata temenku, itu pil anjing, pil monyet. Sama babi juga, mungkin. Dipake kalau tuh hewan mau dikebiri.”

“Kalau orang yang minumnya, gimana?”

“Imajinasinya serasa nyata! Tapi gak lama, cuma berapa menit gitu, nanti sadar lagi”

  ***

“Bjongopi Empire! Uwuwu..,” Teriak Nata seraya mengepalkan satu tangannya. Masih dalam keadaan digeret.

Meneng, Su!

***

Sudah sejak lama Dino Dino Isuk memendam jengkel pada Jenglot Khan Teko Lungo. Tentunya Dino Dino Isuk yakin, kalu ia bukan satu-satunya karyawan yang tidak suka terhadap Jenglot Khan Teko Lungo. Sadam jembut, Sahrul Becek, dan Shaolin Kribo. Juga karyawan lainnya yang sedang tidak masuk, mungkin punya perasaan yang sama.

Menurut cerita yang didapat dari karyawan-karyawan terdahulu, konon, Jenglot Khan Teko Lungo adalah biang dari ketidakbetahan setiap karyawan yang bekerja di Bdongopay. Sehingga tidak sedikit karyawan yang memutuskan keluar sebelum masa kontrak kerja berakhir.

Jenglot Khan Teko Lungo biasa melaporkan apa-apa yang dilakukan karyawan pada pemilik warung Bdongopay, termasuk kesalahan kecil sekali pun. Dan karyawan tak suka itu. Tak, jarang Jenglot Khan Teko Lungo memarahi karyawan langsung di tempat. Menyebalkan. Berbeda dengan supervisor lainnya, yang lebih memaklumi karyawan, jika terjadi kesalahan dalam bekerja.

***

Ia tak mau menyia-nyiakannya. Sekarang atau tidak samasekali, gumamnya. Setelah sekian lama berharap akan datangnya kesempatan untuk meluapkan kejengkelan dan emosinya yang ia pelihara setiap hari.

Jika do’a tak bekerja, pastilah karena tidak dibarengi usaha, pikir Dino Dino Isuk. Ia mengambil gayung besi yang biasa dipakai untuk menuangkan air panas dari panci. Kemudian bersembunyi dibalik daun pintu. Menunggu kesempatan Jenglot Khan Teko Lungo melewati ambang pintu.

***

Bayang-bayang dalam kepalanya perlahan memudar, pandangannya berkunang-kunang. Kini ia di ambang pintu, merasakan lehernya ditarik sesuatu. Dengan kepala puyeng, ia coba berdiri sesigap mungkin
.
“Apaan nich?” Nata menepis tangan Jenglot Khan Lungo Teko dari kerah bajunya.

Dari belakang Jenglot Khan Teko Lungo, Dino Dino Isuk mengayunkan gayung besi di genggamannya, mendarat tepat di kening Jenglot Teko Lungo.

“Ass..uu!” Laung Jenglot Khan Teko Lungo.

“Masih belum!” Sahrul Becek memasangkan ember—berukuran besar—ke kepala Jenglot Khan Teko Lungo. Disusul Sadam jembut menekel kaki Jenglot Khan Teko Lungo, hingga Jenglot Teko lungo ambruk, berguling ke kanan-kiri; berusaha melepas ember yang menutup setengah badannya.

Tung..!

Tung..!

“O, Mampus koe.” Dino Dino Isuk memukul ember berisi kepala Jenglot Khan Teko Lungo berulang kali.

“O, kentir! Lepas, cuk! Awas, ta laporin kalian biar di..”

Tung..!

Tung..!

Tung..!

“Oo..biar apa? Di, di apa? Masih ngancem. Lagi? E, Lagi?”

***

Goza Berang Berang memijit-mijit tengkuk Oteng Ibnu Kafir Salawase. Sejak tuak cap Curut Edan ditenggak berulang-ulang, setelahnya lambung Oteng Ibnu Kafir salawase dibuat perih, mual, dan berhasil membuat makanan diperut Oteng Ibnu Kafir Salawase keluar secara paksa.

“Oekk.. oek..Uooork”

“U, Teng. Udah kaya orang bunting aja”

“Iya, Za. Bunting sama babi. Uoork..”

“Oasu.. mau mabuk, mau enggak. Ngertimu babi tok, babi..babi”

“Za.. Goza..Uoork”

“Apa, cuk!?”

“Gendong sih, pengin ee”

“O, sekarang jadi babi beneran. Asu..asu”

***

Ting..!

Ting..!

Jumbo, kasir warung Bdongopay, terkesiap menyaksikan seseorang yang ia tahu itu siapa, tengah diemberi setengah badannya, dan dipentung Dino Dino Isuk berkali-kali.

“Bel dipencet-pencet. Ngopo toh, Jumbo?” Tanya Sahrul Becek dari dalam dapur, sambil berjongkok dengan kedua tangannya sibuk memegangi kedua kaki Jenglot Khan Teko Lungo, yang semula terus menendang ke segala arah.

“Ini ada pesanan: roti bakar, dua; tempe cocol, dua;  pisang bakar coklat keju, satu,” Jawab Jumbo.

“Habis. Bilang aja ke pelanggannya; habis.  Malam ini kita gak jualan, dilanjut besok” Ujar Sadam Jembut.

“Tapi..”

“Eits, Jumbo.. Jumbo. Lihat sini dong, yakin mau melewatkan kesempatan langka ini? Gak mau ikutan? Ga bakal nyesel, nih? Aku aja yang pelanggan ikut. Masa kamu yang karyawan gak mau ikutan sih,” Jelas Nata, sambil menduduki pinggang Jenglot Khan Teko Lungo.

“O, Jumbo kalau gak ikut, ta kempesin kamu. Rene melu.” Seru Dino Dino Isuk sekaligus mengancam, seraya mengacungkan gayung besi digengamannya ke arah muka Jumbo. Jumbo mulai merasa tidak enak hati dengan pelanggan yang mengantri. Namun, di satu sisi, ia akan lebih merasa tidak enak hati, jika tak turut berpartisipasi dengan tema-teman sesama karyawan.

Jumbo menimang-nimang antara ikut atau tidak. Ia mulai merasa dilematis; pelanggan yang mengantri, teman-temannya yang tengah asyik mementungi Jenglot Khan Teko Lungo. Aku mesti ikut mana? Jumbo membatin.

Ojo kesuwen, ojo kakean mikir, cuk!” Seru Sadam Jembut untuk kedua kalinya.
Jumbo tersentak, ia segera mengambil pilihan; memasang plang CLOSE ORDER di meja kasir, dan pada para pelanggan ia mengatakan “Maaf, mas, mbak. Sudah tutup, sebab semua bahan makanan, minuman. Baru saja dirampok tikus. Sila datang lagi besok.” Jumbo segera beranjak dari kursinya, berjalan ke dapur. Lalu menawarkan diri pada teman-temannya “Ada yang bisa dibantu?”

***

Meski jarak parkiran ke kamar madi tak begitu jauh. Goza Berang Berang mesti mati-matian menggendong Oteng Ibnu Kafir Salawase. Belum lagi, ia seperti hilang tenaga, setelah minum tuak cap Curut Edan, sewaktu menjaga motor-motor pelanggan. Tiba di muka meja kasir, ia mendapati pelanggan mengantri lumayan panjang. Itu jelas akan menyulitkannya untuk menghantarkan Oteng Ibnu Kafir Salawase ke kamar madi. Maka timbulah ide di kepalanya, agar antrian itu bubar secepat mungkin.

Goza Berang Berang menguatkan gendongannya, menarik nafas sejenak.

“Awas! Awas! Mingir!” Teriak Goza Berang Berang dan berhasil menarik perhatian para pelanggan. “Ada babi bunting mau lewat!”

***

“Smekdon! Ya, dismekdon. Itulah bakat terpendam badan besarmu selama ini, Jumbo” Ujar Sahrul Becek.

“Bentar. Tunggu, aku keluar dulu.” Shaolin Kribo segera keluar dari dapur. Saat ia keluar itulah ia mendengar ‘babi bunting mau lewat’ dan Oteng Ibnu Kafir Salawase dipunggung Goza Berang Berang. Shaolin Kribo langsung menyetop Goza Berang Berang.

 “Minggir babi bunting mau lewat!” Bentak Goza Berang Berang, tepat di depan muka Shaolin Kribo.

“Babi bunting, babi bunting. Eleh..eleh si anying paingan, marabok ning. Koplok.

“Uorkk..” Oteng Ibnu Kafir Salawase, kembali muntah dan muntahan itu jatuh tepat di kaki Shaolin Kribo. “Maaf, ya, Kribo. Hehe. U, aing macan.”

Shaolin Kribo menatap tajam Oteng Ibnu Kafir Salawase. Kini, ia menarik Oteng Ibnu Kafir Salawase menuju dapur.

***

Jumbo mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang. Sahrul Becek segera melepas kaki Jenglot Khan Teko Lungo. Jumbo melangkah, kemudian melocat.

“Smekdon!” teriak Jumbo.

“Modiar, koe, cuk!” Teriak Sadam Jembut.

“Sakit celeng!” teriak Nata.

Jumbo mendarat di badan Nata, yang tak sempat menghindar. “Mbo, Mbo. Kamu salah sasaran.

***

Dari luar dapur, Shaolin Kribo menarik Oteng Ibnu Kafir Salawase yang sempoyongan. Oteng Ibnu Kafir Salawase memerhatikan Nata yang yang di atasnya Jumbo terlentang bebas. “O, Babi bunting sesungguhnya. Hehe..”

Sementara, Jenglot Khan Teko Lungo dengan kepala diemberi, menyalak kesakitan. Sahrul Becek segera menarik ember yang menutupi kepala Jenglot Khan Teko Lungo. Dengan begitu, Jenglot Khan Teko Lungo mampu bernafas dengan bebas. Dino Dino Isuk nampak mengernyitkan dahinya, ia tak sepakat kalau cuma ini yang di dapat Jenglot Khan Teko Lungo. Dino Dino Isuk hendak mementung kepala Jenglot Khan Teko Lungo lagi. Namun Sadam Jembut menahannya.

“Embernya udah dilepas. Digetok lagi, bisa-bisa batok kepalanya pecah beneran.” Ujar Sadam Jembut, mengingatkan Dino Dino Isuk.

***

Sambil menahan tubuh Oteng Ibnu Kafir Salawase, Shaolin Kribo berkata “Teng, jangan sia-siakan kesempatan yang dikasih Tuhan. Besok gak bakal ada kesempatan buat nyiksa lagi.” Oteng Ibnu Kafir Salawase terkekeh lalu berjalan mendekati Jenglot Khan Teko Lungo.

“Cek.. Becek. Sahrul Becek, buka mulut manusia kampret ini” Titah Oteng Ibnu Kafir Salawase. Meskipun tak mengerti tujuan Oteng Ibnu Kafir Salawase, Sahrul Becek menuruti perintah Oteng Ibnu Kafir salawase.

Saat kedua tangan Sahrul Becek membuka paksa mulut Jenglot Khan Teko Lungo. Oteng Ibnu Kasir merogoh saku jaket yang dikenakannya. Ia menemukan dua butir pil kecil berwarna putih. Ia menyomotnya sebutir, dan saat mulut Jenglot Khan sedikit terbuka, dengan cepat, Oteng Ibnu Kafir menyentil pil itu hingga langsung masuk ke tenggorokan Jenglot Khan Teko Lungo.

Semua mata di tempat itu, menyaksikan bagaimana pil itu masuk ke leher Jenglot Khan Teko Lungo. Dan mereka semua bertanya pada Oteng Ibnu Kafir Salawase. Buat apa pil berwarna putih itu?

“Kata temenku, itu pil anjing, pil monyet. Sama babi juga, mungkin. Dipake kalau tuh hewan mau dikebiri”

“lha, kalau orang yang minumnya, gimana?” Tanya Nata.

“Imajinasinya serasa nyata! Tapi gak lama, cuma berapa menit gitu, nanti sadar lagi” Ujar Goza Berang Berang dari ambang pintu.

“Ah masa, sih?” Shaolin Kribo penasaran.

“Coba aja ditanyai” Jawab Oteng Ibnu Kafir Salawase, sambil tersenyum.

“Siapa namamu?!” Tanya Dino Dino Isuk dengan nada menyentak, tak lupa gayung besi ditangannya, ia acungkan ke muka Jenglot Khan Teko Lungo.

Aing Macan!” Jawab Jenglot Khan Teko Lungo.

“Oh, Jadi selama ini, mas Jenglot kepingin jadi macan” Tanggap sahrul Becek.

“Besok tanggal satu, gaji naik ga?” Tanya Sadam Jembut.

“Naik!”

“Naik Berapa?” Tanya Jumbo dengan antusiasnya.

Sakarepmu!”

“Oasu, ta pentung lagi.” Dino Dino Isuk menyerobot. Namun dihentikan Oteng Ibnu Kafir Salawase. “Namanya orang teler. Hehe.. Harap dimaklum.”

“Kasbon bebas berapapun!”

Spontan semua karyawan di dapur menanggapi “Ngapusi!

“Bjongopi Empire. Uwuwu!”

“Lho?”

“Kok kayak Nata”

lha kok iso?


*Untuk kawan-kawan sesama pekerja warung Bjongopi.


Bjongopi, 28 Januari 2020.





Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel