Nasionalisme dan Sepak Bola!


Nasionalisme dan Sepak Bola!
Sumber Foto: geopolichinelle.com

Aroma dendam tercium kuat ketika Inggris bertemu Argentina di semifinal piala dunia 1986. Saat itu, Argentina baru saja menelan kekalahan melawan Britania Raya dalam perang Malvinas. Sebuah perang memperebutkan kepulauan Falkland yang kaya akan sumber daya minyak.

Tak pelak, jutaan rakyat Argentina menuntut tim Tango untuk menuntut balas atas Inggris, saat keduanya dipertemukan dalam momen Semifinal Piala Dunia 1986 di Meksiko. Sebab, kala itu, kemenangan atas Inggris dirasa cukup untuk memulihkan luka sekaligus harga diri bangsa yang remuk di kepulauan Falkland.

Kami seperti mengalahkan sebuah negara, bukan tim sepak bola. Walaupun sempat mengatakan tidak ada hubungan dengan perang Malvinas, kami menyadari ada banyak anak-anak meninggal di sana. ditumpas bagaikan burung-burung kecil. Inilah pembalasan kami. Tutur Maradona.

Dua gol dari Maradona membuat Inggris harus mengemasi kopernya lebih awal. Apalagi gol pertama yang bersarang ke gawang Inggris, berawal dari usaha Maradona mencuri bola lambung yang hendak ditangkap kiper Inggris.

Maradona, lalu meninju bola liar tersebut dengan tangan kirinya yang diletakkan tepat di depan jidatnya. Hingga, jika dilihat dari sudut yang tepat, akan terlihat seperti orang yang menanduk dengan kepalanya. Terlihat bersih dan tak ada kecurangan sama sekali.

Aksi teatrikal yang dilakukan Maradona tadi, seolah terlihat sebagai pesan kepada dunia. Bahwa mata dibalas dengan mata. Bahwa boleh jadi pencurian dan kehilangan akan sebuah daratan dan harga diri bangsa, harus dibalas dengan cara yang menyakitkan pula.

Ya, Inggris memang harus tersingkir oleh Argentina melalui gol “curang” yang kelak terkenal dengan sebutan “Hand of God”. Dan personifikasi Tuhan dalam diri Maradona seperti menegaskan, gusti mboten sare. Karma pasti berlaku.

Di samping mampu menghadirkan solidaritas dan kebanggaan terhadap bangsa, sepakbola juga mampu mencoreng muka sebuah negara.

29 Mei 1985 di Brussels, Belgia, berlangsung pertandingan Final Piala Champions yang mempertemukan Juventus melawan Liverpool di Stadion Heysel. Beberapa jam sebelum pertandingan dimulai, suporter dari kedua kubu sudah terlihat memenuhi seisi stadion.

Panasnya tensi pertandingan, membuat tifosi dari masing-masing kubu saling melempar hinaan dan cacian. Puncaknya satu jam sebelum kick off, keributan pun pecah. Berawal dari fans Liverpool coba merangsek pagar pembatas dan masuk ke area Suporter Juve.

Banyaknya hooligan yang menerebos dan melompat, membuat dinding pembatas di sektor tersebut runtuh dan menimpa orang-orang. Tercatat 39 orang tewas dan ratusan lainnya terluka.

Peristiwa yang dikenang sebagai tragedi Heysel tersebut, sampai membuat Margaret Thatcher yang menjabat Perdana Menteri Inggris kala itu, merasa perlu untuk turun tangan. Sang Madam mendesak FA, asosiasi sepak bolanya Inggris, untuk melarang klub-klub Inggris berlaga di pentas Internasional.

Pada isu yang lain, pembajakan kewarganegaraan seorang pemain kerap kali menjadi polemik. Hal ini sering terjadi ketika ada pemain berkualitas bagus, tapi tidak mendapat tempat dalam timnas negaranya, dan--kebetulan—dia sudah cukup lama bermain untuk klub di negara yang menginginkannya.

Jika keduanya sama-sama menginginkan, seragam timnas hanya persoalan waktu. Namun, hal ini bukannya tanpa tantangan, terutama dari orang-orang yang tidak suka rasnya tercampur seperti yang terjadi pada Odonkor, Camoranesi, maupun Deco. Bau rasisme memang masih menjadi persoalan dominan dalam dunia sepakbola.

Lantas, apa yang melatarbelakangi berbagai fenomena seperti yang sudah di sebutkan di atas? Tidak lain persoalan harga diri bangsa, nasionalime, sense of loyality. Ia, memang mampu menghadirkan solidaritas pada sebuah komunitas, tapi pemujaan yang berlebihan terhadap nasionalisme dapat mengakibatkan tumbuhnya paham ultra-nasionalisme, maupun chauvinisme yang dapat berujung tindakan rasial.


Sepak bola memang telah menjadi agama baru. Ia telah menjelma sebagai lingua franca bagi umat manusia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel