Namanya Siti

Namanya Siti
Sumber: nggalek.co


Terakhir aku bertemu dengannya Dua Tahun lalu, seorang perempuan dengan paras memikat serta halus suaranya. Sikap dan perlakuannya begitu lembut dan mempesona.
Usianya sekitar delapan belas tahun. Dia bilang, dulunya ia hanya gadis kampung yang setiap pagi pergi ke sawah membantu sang bapak, tidak ada kesempatan baginya untuk mengenyam bangku sekolah 

“Di kampung saya sekolah itu bukan barang murah tuan, saya cuma anak petani miskin, bisa makan sehari sekali saja sudah syukur “ ungkapnya.

Seringkali Siti meringik dalam hati, ingin sekolah seperti teman-teman sebayanya, namun keinginannya itu sering ia pendam dalam-dalam, ia sadar betul keinginannya hanya akan membuat ibu dan bapaknya semakin merasa tak berguna. Namun siti tak pernah sekalipun mengutuk nasibnya yang terlahir dari orang tua miskin ataupun meminta bantuan pada orang-orang kaya di kampungnya. Malu, bukan alasannya , tapi pantang baginya meminta-minta.

Nasibnya yang miskin jualah yang menghantarkannya ke tempat ini, tempat di mana manusia dianggap nista oleh manusia lainnya, dari mereka yang beranggapan Tuhan juga ikut mengutuk manusia-manusia di tempat ini.

“Mari, silakan tuan” itu kalimat pertama yang ia ucapkan sebagai tanda awal pertemuanku dengannya.

Ia meraih tangganku lalu menuntunku ke dalam kamar. Ku kira ia akan sama dengan perempuan lainnya di komplek ini; mengajak setiap laki-laki yang lewat atau  biasa mereka sebut tamu, kemudian melakukan tawar menawar harga untuk sekali pelayanan.

Tingkahnya juga  tidak terlalu berlebihan, ia duduk membelakangiku tanpa banyak pertanyaan  ia lontarkan. Aku bisa melihat rambutnya yang menjuntai lurus serta pantulan mata polosnya dari cermin, yang barangkali merasa lelah.Suasana terhening begitu saja. Hanya tadi di depan kamar saja bibirnya berucap. Aku pun bukan tipikal orang yang mudah membuka obrolan, tapi keheningan lebih tidak kusukai lagi

“Siapa namanya?” tanyaku memberanikan diri.

“Siti, Tuan.” Ia baru merubah arah duduknya menghadap wajahku dengan kepala sedikit menunduk. Setiap laki-laki yang datang ke tempat ini tak punya niatan lain selain melampiaskan dorongan hasrat mereka melalui penjaja seks. Mungkin itu juga yang hinggap dipikiran Siti saat menjawab pertanyaanku, hingga ia enggan tegakkan kepalanya. Sepertinya ia lebih tertutup daripada diriku. Sekarang ia hanya diam.

Ku sodorkan sebungkus rokok dari sakuku, biasanya orang lebih mudah terbuka saat merokok, walaupun sebenarnya aku tahu umumnya itu hanya dilakukan laki-laki. Namun, ternyata Siti dengan agak sungkan mengambil sebatang rokok yang kusodorkan.

 ‘’Oh korek, sebentar’’ kurogoh saku kiriku, segera kupantik dan kuarahkan ke rokok ditangannya, ia tarik pelan rokok diapitan jarinya.

‘’Erkhh..ekhhh, maaf Tuan.’’

‘’Mbak, kalau tidak biasa merokok jangan dipaksakan’’

‘’Tuan, saya tidak tahu harus memulainya dari mana?’’

‘’Maksudmu?’’

‘’Maaf, Tuan, saya orang baru’’

Oh, sialan sekarang aku dibuat merasa bersalah. Ia pasti menyangka aku ingin segera tidur dengannya.

‘’Orang baru? Memangnya sudah berapa lama kamu disini?’’ Dua pertanyaan kulontarkan sekaligus, jujur saja aku heran dengannya, bagaimana ia bisa berada di tempat ini tanpa tahu apa yang ia harus lakukan.

‘’ Saya baru Seminggu Tuan’’

‘’Lantas bagaimana dengan setiap laki-laki yang datang kemari? Atau kamu?’’

‘’Tuan tamu pertama saya’’

‘’Jadi kamu belum pernah?’’

‘’Belum tuan, saya belum pernah tidur dengan seorang tamu pun,’’ Ucapnya dengan kepala semakin menunduk.

“Lalu bagaimana bisa kamu berada  ditempat ini?’’

“Apakah tuan marah? Maaf uan , saya takut.” Suaranya mulai terdengar berubah, isak tangis keluar dari kerongkongannya.

‘’Mengapa saya harus marah, dan takut, apa yang kamu takutkan?’’

Tiba-tiba ia berdiri” sebaiknya tuan segera pergi ‘’ seraya mendorongku ke arah pintu.

“Baik, saya bisa keluar sendiri.” Kutepis tanggannya yang mendorong pundakku.

Setelah itu aku tidak pernah datang ke tempat itu lagi. Pun itu terakhir kali aku bertemu dengan Siti. Walaupun masih ada rasa penasaran yang ku tujukan padanya. Hingga seminggu setelah itu aku tahu mengapa ia bersikeras mengusirku dari tempatnya.

***

Suatu pagi seseorang mengetuk pintu rumahku, sebelum kubuka pintu depan, kusingkap tirai jendela depan rumahku untuk melihat orang yang mengetuk pintu. Ternyata seorang perempuan dengan pakaian berwarna merah serta kerudung putih yang tak ia lingkarkan hanya dibiarkan menjuntai. Kubuka pintu rumahku, lalu.

“Mas Indra?” Perempuan itu menatapku lurus, dan tanpa basa-basi segera ku jawab.

“Iya betul”

“Bisa ngobrol sebentar mas?” Nampaknya perempuan itu mempunyai bahasan penting. Tapi aku tak mengenalnya, aneh sekali ia mengajakku ngobrol.

“Oh tentu, silakan masuk” kupersialahkan ia masuk, tidak enak juga kalau membiarkannya hanya berdiri di depan pintu.

“Silakan duduk.” Perempuan itu mengernyitkankan dahinya, kemudian sedikit tersenyum.

“Sebelumnya, maaf, mas, pagi-pagi menganggu.”

“Oh tidak apa-apa.”

“Eh..ini mas.” Perempuan itu mengulurkan sebuah kantong kresek berwarna hitam.

“Apa ini mbak?” Tanyaku.

“Eh..dibuka saja mas.”

Kubuka kresek itu, ternyata.

“Lho, kok bisa. Ini kan dompet saya”

“Iya, mas, seseorang berpesan pada saya untuk mengembalikan dompet itu.Ini mas, dia juga menitipkan ini.” Perempuan itu menjulurkan sebuah amplop berwarna coklat.

“Dari siapa?” Aku semakin heran. Pertama dompetku yang hilang ada padanya, lalu sebuah amplop.

“Dibaca saja mas,’’ Ujarnya. Ku buka amplop berwarna coklat itu.

Untuk tuan penolongku.

Tuan yang dengan penuh ketulusan, yang belum sempat saya tahu nama tuan.
Sudah lama saya ingin mengucapkan terima kasih pada tuan. Mungkin saat membaca surat ini tuan akan keheranan dan bertanya, berterima kasih untuk apa? kalau Tuan ingat perempuan yang pada suatu malam tuan pernah temui, itulah saya. Dan ingatkah tuan, itu bukan pertama kali kita bertemu. Dua Minggu, sebelum Tuan bertemu dengan saya di tempat di mana saya meminta tuan untuk pergi, kita pernah bertemu di Stasiun Kota.

Saat itu saya baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat yang teramat jauh dari kampung halaman saya. Saya, yang dalam keadaan lapar tanpa uang sepeserpun ditangan, berjam-jam duduk di stasiun, tanpa tahu harus kemana lagi. Maklum tuan, saya hanya orang kampung, miskin ,bodoh pula. Hal yang bisa dilakukan orang macam saya yang miskin dan bodoh ini hanya nekat semata, mungkin itu satu-satunya alasan yang saya punya, hingga saya bisa melangkah tanpa tahu arah.

Namun, saat itu Tuan hadir, tanpa Tuan tahu siapa Saya, Tuan menawarkan saya makanan. Sejujurnya, Saya sangat malu menerima pemberian Tuan, tapi makanan merupakan suatu yang berharga ketimbang emas bagi seseorang yang sedang kelaparan.

Sejak tuan menolong Saya, ketika itu juga Saya meyakini masih banyak orang baik di dunia ini yang perduli terhadap manusia lainnya. Apalagi di perkotaan,  Saya kira orang kota semuanya hidup tanpa kepedulian, ternyata Saya salah, dan dari sanalah keyakinan Saya untuk mengadu nasib di kota semakin besar, sikap dan pertolongan Tuanlah yang membuat itu.

Saya menyesal atas sikap saya malam itu telah mengusir Tuan. Tapi, percayalah Tuan itu demi kebaikan Tuan, sedikitpun tidak terbersit dalam benak saya, bahwa Tuan akan memperlakukan saya, sebagaimana setiap laki-laki yang datang ke komplek malam itu, yang hanya menilai perempuan dengan uang demi melampiaskan birahinya semata.

saya meyakini Tuan adalah orang baik, dan ternyata, benar saja setelah saya tanyakan pada ibu pemilik kamar, ia mengatakan bahwa tuan hanya seorang mahasiswa yang sedang mencari informasi tentang kehidupan para PSK.

Dan kalau memang benar itu niatan awal tuan datang ke komplek malam itu. Dengan senang hati saya bersedia memberikan informasi tentang kehidupan saya.

Nama saya Siti, usia saya delapan belas tahun. Saya lahir dari keluarga petani miskin dengan Tiga anak. Setiap pagi saya ikut ke sawah  dengan ambu dan abah, begitupun dengan Kedua adik saya. Walaupun, sebenarnya saya tahu mengapa ambu dan abah sering mengajak kami ke sawah, itu mereka lakukan agar saya dan adik-adik saya, tidak melihat saat teman-teman seusia kami pergi ke sekolah.

Tuan bisa bayangkan kalau itu terjadi, saya dan adik-adik saya bisa merengek-rengek minta buat disekolahkan. Mungkin tuan akan berpikir, apa salahnya minta untuk disekolahkan? Tentu tidak salah tuan, tapi, dikampung saya, sekolah itu bukan barang murah, saya cuma anak petani miskin, bisa makan sehari sekali saja sudah syukur.

Sekalipun saya ingin, saya sadar betul akan diri saya, dan jalan terbaik adalah mengubur dalam-dalam mimpi saya itu.

Kala sore tiba merupakan waktu yang saya tunggu-tunggu, di mana saat itulah saya baru bisa merasakan menyenangkannya belajar, itupun hanya pelajaran agama yang bisa saya dapatkan, tapi tak jarang saya meminta pada guru ngaji untuk diajarkan membaca dan menulis huruf latin, dan tidak mungkin saya merengek minta diajarkan pada orang tua saya, karena mereka buta huruf.

Pernah suatu kali saya memberanikan diri bertanya pada ambu, mengapa tidak meminjam uang padat tuan pembesar di kampung saja, untuk sekedar modal usaha, ambu hanya berkata:

“Jangan kau sekali-kali meminta bantuan pada mereka, sebagaimanapun keadaan kita, kita masih punya Tuhan untuk tempat meminta. Lagipula kerugian besar bagi siapapun yang meminta bantuan pada mereka, kau tahu Siti, mereka akan sangat merasa diuntungkan bukan hanya karena bunga yang mereka kenakan atas setiap uang yang mereka pinjamkan. Bukan itu saja alasannya, kalau mereka menadapati seseorang yang meminjam uang, dengan mudah mereka mengambil segalanya. Orang-orang dengan watak penghisap seperti mereka hanya senang memperbudak manusia lainnya. Bunga sengaja mereka kenakan, kau tahu agar apa? Agar kita ketergantungan dengan mereka. Ketergantungan itu yang nanti mereka jadikan alat untuk mengikat kita, memperbudak kita seperti binatang.”

Ketika malam itu, tuan sempat bertanya, bagaimana saya bisa sampai ditempat macam itu.
Seperti yang sudah saya tulis di awal, saya hanya punya Satu alasan, yaitu nekat. Beberapa tetangga pernah saya dengar, mereka membicarakan pengalaman mereka mengadu nasib di kota.

Saya yang bodoh ini tanpa berpikir dua kali, memberanikan diri, dengan harapan bisa menemukan tempat bagi saya untuk mengadu nasib seperti yang tetangga saya bilang. Namun, ketidaktahuan saya tentang kota menggiring saya ke tempat pelacuran. Seorang perempuan tua yang merasa iba melihat saya layaknya gelandangan di trotoar jalan, mengajak saya untuk tinggal sementara waktu ditempatnya. 

Sampai saya tahu ternyata perempuan itu banyak mempekerjakan perempuan seperti saya ditempatnya. Tapi sedikitpun saya tidak punya niatan untuk berontak. Karena ternyata di tempat macam itu saya bisa menemukan mereka, ya, mereka sesama orang miskin yang tidak punya kemampuan lebih. Tapi, tuan, percayalah, meskipun banyak orang memandang hina tempat itu bahkan dengan mengunakan dalil-dalil Tuhan sekalipun, justru merekalah yang buta tidak mampu melihat hadirnya kasih sayang Tuhan di tempat kami.

Bisa saja mereka yang merasa suci akan dirinya, memandang perempuan di tempat pelacuran, suka akan aktivitas yang dilakukannya. Tidak tuan, sedikitpun tidak, meski saya hanya baru beberapa hari dengan mereka, saya bisa merasakan jerit batin mereka, mana ada perempuan yang dengan rela begitu saja menjual dirinya, melayani setiap lelaki yang datang.

Saya temukan beberapa dari mereka adalah janda yang ditinggal pergi suaminya entah kemana, mereka menangis kala beranjak dari kamar, mereka menginsyafi akan perbuatannya itu penuh dosa. Namun mereka lebih merasa berdosa kalau tidak bisa memberi makan anak-anaknya.
                                                                                                                                                                                                                                                                       Siti.

***

“Ambu, maaf, aku tidak terlebih dahulu meminta restumu. Bukan berarti aku tidak mengormatimu atau tidak mau mendengarkan kata-katamu lagi.”

Biar derap langkah kakiku yang menuntunku pergi. Ternyata inilah wajah perkotaan yang disebut-sebut tetangga dikampung, ramai sekali. Ku lihat arah kanan-kiriku, semua orang berjalan dengan cepat, mungkin mereka semua harus mengejar waktu agar tak terlambat masuk kerja.

“Boleh numpang duduk mbak”

“Oh, silakan.” Seorang laki-laki muda berperawakan tinggi duduk disebelah kananku. Setelah kupersilakan, ia hanya memandang lurus ke arah rel kereta. Ku geser sedikit tas yang ku bawa dari rumah, ku rangkul dengan erat walaupun tidak ada barang berharga didalamnya.

"Baru turun, atau mau naik Mbak?” Tiba-tiba ia bertanya padaku.

"Eh, baru turun Mas,” jawabku.

"Dari jam berapa mbak?”

"Baru saja, jam enam"

"Sekarang sudah jam sebelas  lho mbak, tuh.” Telunjuknya menunjuk sebuah jam besar di dinding stasiun.

"Mbaknya sudah makan?’’ Lanjutnya.

"Sudah, sudah.." jawabku segera. Tapi mata laki-laki muda itu malah menatapku, seperti curiga akan suatu hal.

"Kebetulan saya tadi beli dua bungkus, sayangnya saya keburu kenyang.” Ia menyodorkan sebungkus nasi padaku.

"Tapi.."

"Duh.." Reflek ia melihat jam tangannya  “mbak saya duluan.” Ia beranjak dari posisi duduknya, berlari ke arah luar stasiun. Ku lihat bekas tempat duduknya.

"Tuan, dompetnya ketinggalan.."
***
"Jadi, ia perempuan di stasiun itu"

"Iya mas. Setelah malam itu mas pergi dari tempat saya, Siti menanyai saya tentang mas. Lalu meminta saya untuk menyampaikan amplop berisi surat itu.”

"Kalau saya boleh tahu, sebenarnya darimana asal Siti?"

"Ia pernah bercerita pada saya, ia berasal dari Subang"

"Eh.. mbak, bagaimana kalau sekarang saya menemuinya? Setidaknya saya juga harus berterima kasih atas dompet saya yang telah kembali"

"Tidak bisa mas"

"Lho, kenapa mbak?  Apa saya tidak boleh bertemu dengannya?"

"Bukan, bukan begitu maksud saya mas. Tapi.., Siti sudah meninggal"

"Meninggal..!’’



















Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel