Memandang Manusia Sebagai Manusia, Bukan "Kera"


Memandang Manusia Sebagai Manusia, Bukan "Kera"
Sumber Foto: gatra.com

Penulis: Muhammad Sakur

"Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya."
(KH. Abdurrahman Wahid, [Gus Dur])

Kita, sebagai manusia yang punya kesadaran sosial dalam bermasyarakat, sudah selayaknya memiliki keinginan menjaga kedamaian, dan menghindarkan masyarakat dari permusuhan. Baik itu karena kebencian,yang melahirkan konflik, atau mungkin yang lebih parahnya lagi adalah sebuah peperangan.

Namun, terkadang tanpa disadari, kita malah dengan sengaja menyulut sumbu-sumbu konflik itu. Dengan seenaknya melontarkan kata tak bertanggung jawab, lalu menghujat tanpa tahu batasan. Sekarang ini, sangat mudah kita temui, orang-orang yang mencibir dengan nyinyir atau melempar hoax lantas bersembunyi tangan.

Perpecahan diameteral semakin nampak di depan kita. Rasa saling tak percaya sebagai saudara mulai muncul. Saling curiga dan dendam, seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari kita. Hal inilah yang harus kita sadari bersama, bahwa realitas bermasyarakat kita terkadang masih dekat dengan hal yang sifatnya etnosentrisme (merasa lebih baik dari yang lain).

Mungkin jika yang ditentang atau kritik itu hal yang bersifat gagasan, ide, atau semisal wacana itu adalah hal yang wajar. Akan tetapi, jika itu lebih mengarah ke hal yang bersifat fisik,ciri khas atau hal yang melekat pada diri seseorang, itu yang menjadi masalah. Karena, menyangkut suku, ras dan agama, adalah hal yang sangat sensitif dibicarakan. Dan sejatinya perbedaan suku, ras dan agama adalah anugerah.

Firman Allah SWT:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Demikianlah terjemahan dari surat Al Hujurot ayat 13. Sudah jelas bahwa, yang diambil dari hikmah penciptaan makhluk, ialah karena perbedaannya.  Baik itu berbeda karena bentuknya, rasnya, budayanya ataupun agamanya. Segala sesuatu yang identik pada diri makhluk, bukanlah hal yang sepatutnya kita kotak-kotakan menjadi pemisah antar umat manusia. Sudah sepatutnya kita menyadari betul akan pentingnya hal tersebut.

Perbedaan di antara kita, bukanlah celah yang bisa kita manfaatkan untuk jadi jurang pemisah, antara mana yang lebih baik atau buruk, yang perlu dihormati atau yang tidak perlu dihormati, semua sama dimata sang pencipta. Begitu juga seharusnya manusia memandang itu semua. Bukan atas dasar bangsa, suku, ras dan agama. Karena perbedaan itu adalah kehendak Tuhan, mempertentangkan perbedaan, sama halnya mempertentangkan Tuhan.

Dalam berpikir, jangkauan pikiran umat manusia seharusnya mampu untuk memahami sesuatu hal dengan dinamis, egaliter dan fleksibel. Jangan kaku, jangan pula jumud.

Berabad-abad yang lalu, nenek moyang kita sudah menancapkan tombak pemersatu dengan kalimat “Bhineka Tunggal Ika.” Lah, kenapa sekarang kita malah seperti terasing dengan itu semua? Kita seolah tidak pernah belajar tentang bagaimana menyikapi sesuatu hal yang berbeda. Sebagai bangsa yang tak pernah belajar—atau sudah belajar namun sengaja dilupakan—kita seakan tak mampu menjaga peninggalan intelektualitas nenek moyang kita—atau jangan-jangan, kita yang berlagak lupa bahwa kita memiliki itu semua?

Rasisme Di Luar Negeri

Belum pudar kiranya ingatan kita tentang beberapa kasus rasisme di luar sana. Mungkin yang paling terngiang di ingatan kita adalah kasus-kasus di dunia sepak bola. Seperti yang menimpa Mario Baloteli dan Dani Alves. Mungkin masih ada yang menganggap hal tersebut adalah hal yang remeh. Namun, penghinaan yang dilakukan di atas lapangan, seakan menjadi perilaku yang kampungan,tak bermoral, tak tahu etika, dan bahkan tak manusiawi.

Di atas lapangan hijau, harusnya bisa steril dari segala urusan, kecuali urusan yang berkaitan dengan permainan bola bundar. Akan tetapi, realitas yang terjadi malah dikotori dengan hal tercela berupa tindakan rasis.

Selanjutnya, mungkin masih terlintas di ingatan kita tentang kekecewaan Muhammad Ali, ketika membuang medalinya ke dasar salah satu sungai di Ohaio. Hal tersebut, tentu punya alasan tersendiri. Clasius Clay (Muhammad Ali), sangat kecewa terhadap perlakuan warga kulit putih Amerika, yang sering bersikap rasial kepadanya. Puncak emosionalnya, ketika dia pulang membawa medali emas olimpiade, tetap saja masih ada yang mengolok-olok dirinya karena berkulit hitam.

Menilik juga ke Afrika Selatan, di mana isu warna kulit juga menjadi alasan pertikaian di sana. Dengan dibungkus politik Apartheid yang membuat masalah ini sulit diurai, pada akhirnya menyadarkan kita semua tentang perjuangan seorang Nelson Mandela. Nelson Mandela adalah orang yang berusaha menghilangkan akar permasalahan rasisme di sana. Hasil perjuangannya baru bisa dirasakan setelah tak ada lagi pertikain yang bersumber dari perbedaan warna kulit.

Rasisme Di Indonesia

Mengingat sejarah bangsa ini, dahulu ketika zaman orde baru, masyakarat kita seperti phobia terhadap Cina. Mulai dari individunya, budayanya, atau hal lain yang meliputi seputar kehidupannya. Sampai akhirnya, Gus Dur mengeluarkan kebijakan untuk mengakui warga keturunan tionghoa.

Menurut Gus Dur, mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia, dan mereka bebas menjalankan keyakinan yang dianutnya. Gus Dur, membuka ruang sebebas-bebasnya untuk mereka menjalani hidup. Tak ada lagi kekangan ataupun kucing kucingan. Semua telah dijamin haknya untuk melakukan apa yang mereka inginkan.

Namun, akhir akhir ini, mencuat isu soal Papua. Yang kemunculannya membuat ramai di media sosial kita. Narasi berita yang destruktif dan provokatif, ikut menyebabkan amarah warga semakin naik. Hingga memantik berbagai aksi demonstrasi, yang menyebabkan pemerintah membatasi jaringan internet Indonesia.

Dua kejadian di atas, semua bersumber dari satu hal yang sama, yaitu isu rasisme di antara kita. Membaca lebih jauh, arti kata ras sebenarnya sudah dipakai pada saat zaman kolonialisme. Di mana kata ras ini sengaja digunakan membuat sekat perbedaan abadi—antara penjajah (bangsa pendatang) yang merasa lebih unggul, dengan pribumi sebagai tuan rumahnya.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, salah satu semangat imperalisme dan kolonialisme saat itu juga dipengaruhi dari teori evolusi. Di mana bangsa kulit putih—merasa dan menganggap—sebagai produk evolusi paling sempurna. Itu juga merupakan salah satu yang menyebabkan bangsa Eropa—dalam hal ini ras Arya—punya semangat menaklukan bangsa lain, atas dasar kebanggan dirinya sebagai makhluk yang mulia.

Pada intinya, kita harus sadar betul akan nilai-nilai perbedaan. Yang seharusnya menjadi kekuatan, dan bukan malah penghalang dari kemajuan. Apalagi menjadi penyebab pertikaian. Yang mayoritas, seharusnya bisa melindungi yang minoritas, dan yang kuat seharusnya melindungi yang lemah.
Kader PMII Rayon Pondok Syahadat (RPS)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel