I Love You, Isyana

I Love You, Isyana
Sumber Foto: gstatic.com

Saya suka banget Queen karena lagu-lagunya yang glamor, mewah, tapi tetap maskulin. Walaupun itu band berskuad empat orang, tapi mewahnya gak kalah sama orkestra yang berlini puluhan orang.

Apa rahasia di balik mewahnya musik Queen? Jawabannya adalah opera. Opera merupakan musik lawas barat yang biasanya ditampilkan dengan narasi cerita dan dibawakan di panggung-panggung teater. Kebutuhan story telling dalam teater yang mengisahkan kompleksitas kehidupan membuat opera mesti memiliki banyak plot layaknya drama. Faktor itulah yang membuat opera memiliki kesan mewah karena isinya yang kaya akan kisah.


Walau begitu, opera adalah barang lawas. Bagi masyarakat barat, opera setara dengan “Bubuy Bulan” atau “Suwe Ora Jamu”-nya Indonesia, kuno dan lagu lama. Itulah sebabnya mengapa musik tradisionalan Wong Londo itu gak banyak disukai sama kebanyakan cabe-cabean di sana. Di tangan Queen, kekunoan itu justru menjadi kekinian. Ya, walaupun itu terjadi puluhan tahun lalu.

Materi dalam beberapa lagu-lagu Queen kebanyakan terdiri dari kombinasi musik opera plus rock kontemporer. “Bohemian Rhapsody”, contohnya. Tembang berusia 44 tahun itu merupakan tembang Queen paling hits dan tersohor se-alam dunia--terutama pasca rilisnya biopik Freddy Mercury berjudul persis, Bohemian Rhapsody.

Hingga kini, lagu berdurasi enam menit itu telah berhasil meraih lebih dari 1 miliar penonton di Youtube sejak diunggah pada 2008 silam. Ketenaran “Bohemian Rhapsody” menjadi bukti keberhasilan kombinasi musik lawas opera dengan musik rock kontemporer.

Larutan selera musik lintas generasi ini mengingatkan saya pada apa yang dilakukan oleh The Father of Broken Heart, Didi Kempot. Alunan musik tradisional Jawa, yang juga berisi lirik berbahasa Jawa, dapat rukun dan hidup berdampingan dengan musik pop kekinian.


Perdamaian musik dari dua lintas generasi inilah yang membawa Queen ke panggung popularitas. Selain “Bohemian Rhapsody”, jejak kawin silang antara opera dan rock yang dilakukan Queen dapat juga ditemui dalam “Radio Ga Ga” dan “Somebody to Love”.

Bagi saya, jenis kreasi macam ini benar-benar ciamik. Musik yang dihasilkan tetap terdengar cadas walau mengangkat budaya lama. Kalau begitu, melihat betapa karya-karya Queen banyak bermateri irama lawas, tapi tetap hebat, bisalah kita sebut musiknya Queen sebagai musik campursari ala barat.

Baik. Itu Queen. Produk barat. Tahu, gak? Ternyata, di Indonesia ada juga campursarier opera yang juga tak kalah cadas. Siapa ia? Jawabannya ialah Isyana Sarasvati!

Mengapa begitu?

Bukan karena Isyana suka bertingkah konyol dengan sering ngomong belepotan macam “Bener, dong,” jadi “Beneng, dor." Melainkan karena dara manis yang bercita-cita jadi Tukul Arwana itu telah merilis album kawin silang antara rock dan opera dengan tajuk LEXICON pada akhir tahun lalu.


LEXICON sendiri, menurut Isyana, bermakna kamus. Kata ini diserap dari bahasa Yunani. Isyana memang hendak membuka dirinya kepada orang lain. Dan album inilah yang menjadi “kamus kehidupan”-nya.

Album ini saya pikir adalah album yang selain mantap, juga berani. Lah, wong saat zaman Queen masih belum jadi mbah-mbah seperti sekarang saja, opera sudah terhitung kuno, kok. Apalagi kalau dipasarkan masa kini.

Belum lagi ditambah dengan sasaran pasar dalam negeri  yang sama musik tradisionalnya sendiri saja ogah-ogahan. Kan, jelas akan muncul pernyataan, "Berani-beraninya si Isyana itu! Apa ia tidak tahu betapa liberalnya industri musik negeri ini? Pasti gak akan laku tuh albumnya.”

Dugaan itu benar saja terjadi. Sejak dirilis pada akhir tahun lalu hingga Januari ini, kolom trending Youtube tak kunjung menampakkan wajah Isyana. Youtube malah ramai oleh cerita Garaga, Panji Sang Penakluk, dan kelahiran Tiger Wong--anaknya Baim Wong.

Single pembukanya yang berjudul “Sikap Duniawi” pun tak dapat bicara banyak. Video liriknya, yang diunggah di kanal Youtube Isyana Sarasvati, butuh waktu lama untuk sampai pada angka lima ribuan penonton.

Lebih parah lagi video klipnya yang hanya mampu meraih sebanyak 400an ribu penonton. Jumlah itu tentu saja kalah sengit dari konten tahi macam prank ojol atau drama “polisi serba benar 86” yang bisa mencapai 800 ribu sampai sejutaan penonton.

Padahal, “Sikap Duniawi” bagi saya bukan hanya sekadar lagu. Ia tak menganut struktur lagu konvensional macam intro, verse, chorus, dan outro, melainkan benar-benar berkiblat pada kekuatan cerita dan plot yang diciptakan. Plot-plot itulah yang membuat akor “Sikap Duniawi” menjadi variatif.

Mendengar lagu ini, saya merasa turut serta dalam jalan cerita yang dibuat Isyana. Tokoh “Aku” dalam lagu tersebut benar-benar memperlihatkan kompleksitas dalam diri manusia yang tidak serba hitam dan putih. Kompleksitas kemanusiaan itulah yang menjadikan “Sikap Duniawi” memiliki nyawa. Maka, tak berlebihan bila album ini kadang disebut sebagai "kamus hidup Isyana".

Jika Anda mendengarkan dendang tersebut, saya yakin Anda akan membolak-balik perasaan. Anda akan tertawa, marah, sedih, dan berpikir keras jika mendengarkannya. "Sikap Duniawi" bukan hanya lagu sedih, lagu senang, atau lagu galau. Ia murni lagu bertema siklus kehidupan.

“Aku tahu kamu 'kan bertamu.
Selamat datang padaku yang baru.”

Namun sayang, kenyataan bahwa album ini adalah album mahakarya yang paling dahsyat tak berbanding lurus dengan respons publik yang gak dahsyat-dahsyat amat. Publik seperti tak acuh terhadap peristiwa lahirnya mahakarya ini.

Bebasnya corak dan tema yang dibahas dalam LEXICON memperlihatkan bahwa Isyana tak mudah disetir oleh taipan-taipan industri musik. Akibatnya, LEXICON berjalan bersimpangan dengan tren yang selama ini telah dibangun oleh industrialisme musik, yakni lagu cinta dan perasaan yang mendayu-dayu. Maka, tak ayal jika publik merasa bahwa lagu-lagu dalam album ini adalah aneh dan sulit dinikmati.

Atau, mungkin saja publik tak menemukan cara untuk ho 'a ho 'e saat mendengar lagu-lagu rock opera sebagaimana yang mereka lakukan saat mendengar musik campursari.

Memangnya bisa, ketika Isyana menyanyi, penonton menjawab serentak melalui koor dadakan di depan panggung?

“Bila memang harus berpisah.”

((“Berpisah piyeee…?”))

“Aku akan tetap setia.”

((“Mesakke…”))

Kan, ora umum!

Seperti konsekuensi dari sebuah realitas yang berbeda, LEXICON akhirnya tidak viral dan trending. Seperti itulah hukumnya menjadi minoritas, terkucilkan dan sulit mendapat perhatian.

Namun, seorang musisi betulan tak akan mundur hanya karena musiknya berbeda dan terkucilkan. Justru itulah yang harus dilakukan. Seorang musisi tentu tak akan mengikuti apa yang sudah tercipta, melainkan mencipta. Namanya juga kreator, jelas mesti menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Kreator, lho, bo. Bukan pengekor.

Terlepas dari viral atau tidaknya, LEXICON telah menjadi bukti bahwa Isyana memang benar-benar mampu menjadi musisi yang berhasil memberikan impresi berbeda terhadap dinamika sejarah permusikan Tanah Air. Ini sudah cukup membuktikan bahwa ia adalah musisi beneran yang gak mata duitan.

Terimakasih, Isyana, atas album kerennya. “Sikap Duniawi", "untuk hati yang terluka", "Pendekar Cahaya", "LEXICON", "ragu Semesta", "Lagu Malam Hari", "biarkan aku tertidur", dan "Terimakasih" telah menjadi paket suplemen paling sehat yang pernah dan akan terus saya minum.

Soal viral tak viral, tidak perlu dirisaukan. Jangan salahkan diri sendiri, karena memang bukan salahmu. Sekadar penghibur, silakan baca dan resapi sepenggal komentar netizen di kanal Youtube-mu:

“Jika Anda melihat lagu berkualitas, tapi tidak trending, berarti Anda sedang berada di Indonesia.”

Benar, kan? Kamu tidak salah, syan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel