Edin Dzeko: Peran Besar Sang Ayah Bagi Karir Sepak Bolanya


Edin Dzeko: Peran Besar Sang Ayah Bagi Karir Sepak Bolanya
Sumber: Liputan6.com

Kebanyakan orang selalu berpandangan bahwa ayah adalah orang yang super sibuk. Sebagai kepala keluarga, seluruh waktunya dihabiskan untuk mencari nafkah. Kesibukan itu yang membuat seorang ayah tidak ada waktu lebih untuk sekedar bermain atau mendampingi aktivitas sang anak.

Beda halnya dengan Edin Dzeko, pemain bola profesional yang saat ini menjadi ujung tombak AS Roma itu punya cerita lain. Baginya, ayah adalah orang pertama yang sangat berpengaruh bagi hidupnya sekaligus suksesor karirnya sebagai pesepakbola.

Dzeko lahir 33 tahun yang lalu, di Sarajevo daerah yang dulu menjadi bagian dari Yogoslavia. Dzeko kecil, seperti anak umur 6 tahun lainnya tak begitu paham dengan kondisi dan situasi bahaya yang terjadi. Ia hanya tahu bahwa sedang terjadi perang saudara, selayaknya seorang anak-anak, ia tak berpikir terlalu panjang tentang apa yang akan menimpanya.

Selama perang saudara, Dzeko merasa menderita ketika negerinya hancur. Saat itu, sirine perang dibunyikan dan Dzeko harus berhenti bermain bola di jalanan, itu-pun karena perintah sang ayah yang menyuruhnya untuk berhenti. "Orang tua saya yang selalu khawatir. Tanpa mereka, mungkin saya tak di sini seperti sekarang." Ucap striker AS Roma kelahiran Maret 1986 itu, dilansir dari asroma.com.

Empat tahun kemudian, perang saudara itu berakhir, Dzeko yang berumur 10 tahun menemui masalah baru. Ada cerita saat Dzeko pergi bersama ayahnya menuju lapangan tempat klub Zeljeznicar berlatih. Sesampainya disana, ia bersama ayahnya tak menemukan lagi lapangan yang layak untuk berlatih. Semuanya sudah hancur, padahal saat itu ia harus menempuh jarak yang cukup jauh, Dzeko bersama ayahnya harus bergonta-ganti bus dan kereta untuk sampai di tempat itu.

"Kami berlatih di lapangan sekolah karena stadion kecil klub tersebut telah hancur," ujar Dzeko, dilansir dari asroma.com.

Ayahnya, Midhat, adalah orang yang selalu memberikan semangat di-setiap momen penting di kehidupan Dzeko. Ketika Dzeko sedang berlatih, ayahnya selalu membawakan pisang. Bahkan, pada saat-saat terburuk pun ayahnya selalu berusaha melakukan hal terbaik demi anak lelakinya itu. Midhat selalu ada di setiap langkah, setiap usai latihan saat perang, dan selalu menemani kemanapun Dzeko pergi.

Hasil dari perjuangan sang ayah yang tak kenal lelah itu, membawa Dzeko menembus tim senior Zeljeznicar pada tahun 2003. Kabar gembira itu langsung ia sampaikan kepada sang ayah. Menurutnya, momen memberi kabar sang ayah bahwa dirinya akan segera menjadi pemain profesional, adalah momen spesial yang tak akan pernah terlupakan.

Zeljeznicar adalah klub pertama Edin Dzeko memulai karirnya sebagai pesepakbola. Setelahnya, Dzeko banyak malang melintang di klub-klub besar Eropa. Ia pernah merumput di Jerman bersama Vfl Wolsburg, kemudian direkrut klub raksasa Inggris Manchester City, dan di tahun 2016 ia menjadi mesin pencetak gol utama bagi AS Roma sampai sekarang.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel