Collocalia Vestita

Collocalia Vestita
Sumber Foto: sampit.prokal.co
Yang diinginkan dari kami adalah sumber makanan dan sarang untuk berketurunan. Yang diinginkan manusia adalah sarang demi keuntungan.
Aku menetas saat musim penghujan tiba. Saat seluruh penghuni gedung tua ini baru saja melaksanakan ritual penyambutan musim penghujan. Biasanya, penghuni seisi gedung ramai-ramai terbang mengelilingi sekitaran udara kota. Berputar-putar sampai awan menjatuhkan butir demi butir air ke bumi, barulah mereka kembali ke sarang. Di dalam gedung, mereka melanjutkan ritual, menyambut kelahiranku. Di tembok sebelah barat gedung, mereka berbaris membentuk formasi segitiga. Dengan kompak, kepala mereka digerakkan kekiri dan kekanan, sayapnya dikibaskan mengikuti arah gerak kepala. Ketika kepala bergerak kekanan, maka sayap mereka di kibaskan kekiri, begitupun sebaiknya. Suara cecuitan mereka menjadi irama pengiring gerak, sungguh terlihat begitu indah. beberapa dari mereka memberi salam, menyentuh kepalaku dengan cucuknya. Seolah memberi isyarat bahwa aku terlahir tidak sendiri.

Dulu, kakekku dengan sangat perhatian, selalu mendampingi dan memberi makan kesukaanku. Ya. Tiap pagi aku selalu merengek untuk meminta dibawakan semut yang bersayap. Tanpa berucap keberatan kakek selalu mengiyakan. Hal itu ia lakukan karena merasa kasihan, karena tak lama setelah aku menetas, orangtuaku meninggal terkena racun dari kandungan pestisida yang ada didalam hama padi. Kata kakek, orangtuaku sangat senang,  dari tiga butir telur, hanya aku yang di beri kesempatan untuk mengarungi kehidupan. Mangkannya orangtuaku bekerja keras mencari makan supaya bisa memberi makanan lezat diawal kelahiranku. “Naas, kedua orangtuamu kepalang sial memakan serangga yang berterbangan diatas tanaman padi itu setelah petani menyemprotkan kimia pemberantas hama” begitulah cerita kakek.

Pernah suatu malam. Saat itu hujan turun deras, angin berhembus sangat kencang, terasa begitu dingin. Angin itu menyerang lewat celah jendela gedung yang tak lagi tertutup. Jendela kayu itu sudah lama keropos dimakan rayap. Dengan leluasa angin itu menerjang sarang tanpa tadang. Sadar akan diriku yang masih polos telanjang tak berbulu, kakek dengan tegar tak mengijinkan angin menerjang tubuhku. dengan erat ia mendekapku. Sesekali kakek menggigil. Selebihnya, dengan pongah kakek meyakinkanku bahwa tubuhnya sudah kebal “ini tak seberapa, kakek sudah terbiasa terbang melawan badai” tegasnya. Suasana malam semakin mencekam saat kilatan petir berkali-kali menghantam. Suaranya begitu kencang, beberapa kali, sinarnya berhasil menerangi ruang gedung yang puluhan tahun tak berpenghuni ini. Dari kejauhan, saat petir kembali menyambar terlihat seekor predator yang sedang siaga siap memangsa. memantau setiap jengkal ruang. Suara cecurutannya  terdengar menggema didalam gedung. Merasa terancam, kami segera berkumpul membentuk lingkaran dipojokan tepat di sarangku. Masing-masing saling menjaga memantau pergerakan tikus itu.

“Kita alihkan pergerakannya” Seru kakek.

“Apa yang harus kita lakukan.”

“Katanya, tikus itu kagetan. Biasanya ia langsung lari kebirit-birit kalau ada suara-suara gitu.”

Ahirnya semua sepakat untuk mendorong kerikil-kerikil yang ada di tempat kami berkumpul. Masing-masing bergantian berusaha untuk mendorong kerikil itu dengan kaki. Sesekali dengan cucuk. Dari sebelah kanan berhasil mendorong kerikil itu terlempar ke bawah. Dilanjutkan dari tengah dan kemudian dari sebelah kiri. Suara lontaran kerikil yang jatuh ke lantai gedung itu ternyata berhasil mengusir sang tikus. Ketika kilatan petir kembali menyambar, semuanya fokus memantau sekeliling gedung, kemanakah tikus itu bergerak. Taklama, masing-masing memastikan bahwa tikus itu sudah pergi dan tidak ada tanda-tanda untuk kembali. Ahirnya, semua kembali ke sarangnya.

Suasana malam seperti itu seringkali kami rasakan. Dan selama itupula kami terbiasa untuk berkerumun. Begitulah saat diriku masih belia, aku merasa terjaga dan terlindungi.

***

Saat aku sudah tumbuh dewasa dan mampu mencari makan sendiri. Tiap pagi menjelang, sebagaimana orang-orang terdahulu lakukan, aku terbang keluar lewat celah jendela kopong itu. Menyusuri udara, melihat kebawah ditengah rerumputan ilalang yang tumbuh dilahan kosong samping gedung tak bertuan ini. barangkali ada mangsa yang siap aku santap. Aku sangat suka semut bersayap, santapan terlejat. Karena mungkin serangga itu yang sejak kecil aku makan. Ada yang berbeda dari apa yang dulu orang ceritakan. Kini lahan ilalang itu kering, tidaklagi terlihat hijau. Beberapa ujung daunnya terlihat kecokelatan. Mungkin karena kurangnya air yang terkandung ditanahnya. Disebelah lahan kosong itu sudah berdiri cakar-cakar langit dan beberapa bahan material, pasir, batu, semen, gerigi, cangkul, molen dan lain-lain. “Ditempat kering seperti itu mana mungkin serangga bisa bersarang.”

Kakek pernah cerita, waktu aku terlahir didunia. Sebagai bentuk syukur, kakek mengajak seluruh walet yang ada digedung, mencari semut bersayap yang banyak bersarang di pohon duet. Pohonnya rindang, buahnya begitu segar berwarna biru atau keungu-unguan. Semacam jenis jambu air yang berukuran mini. Katanya, banyak semut bersayap disana. Teringat dengan cerita itu, akupun lekas mencari dimana pohon itu berada. 

 “Ayo kita pergi ke pohon duet, kita berburu semut bersayap” Ajakku.

“Dimana itu?´tanya kawan.

“Ikuti saja aku.”

Hari itu kita pergi menuju pohon duet yang setelah lama aku cari, ahirnya kutemukan pohon itu tak jauh dari gedung tua ini. Sekitar 500 meter. Di  belakang pondasi gedung yang baru dibangun.
“Ini dia pohonnya. Ayo kita berburu”

Kami bergerombol membentuk barisan, terbang mengelilingi duet. Di salah satu cabang pohonnya bergerombol semut bersayap di sarangnya. “nanti aku goyang sarangnya, sampai semut-semut itu berurai, bertebaran, barulah kita santap satu persatu. Kalian lakukan hal serupa. Memangsa semut itu langsung dari sarangnya, sama halnya kita menyerahkan nyawa. Mereka pasti akan berkeroyok merubungi tubuh kita”

Setiapkali dari kami yang berhasil menyantap semut itu. Masing-masing akan berseleberasi dengan terbang salto sebanyak tiga kali, lalu mengelilingi pohon duet itu sebanyak tiga kali pula. Dan seteresusnya, setiap hari, pohon duet itu menjadi taman yang asik dan menyenangkan.

Dikala sore menjelang, Setelah asik bermain dan mencari makan, kami akan segera kembali ke sarang. Tempat yang lembab adalah surga bagi kami. Gedung tua ini cukup menggantikan Goa yang dulu menjadi sarang kami. Walaupun kualitas kelembaban dan kesejukan jelas sangat jauh berbeda. Goa, sudah jarang kami temukan karena aktivitas makhluk yang berbadan tinggi, memiliki hidung, bermata dua, berambut hitam, memiliki tangan dua. Berjalan dengan dua kaki panjang. Kata kakek, makhluk itu bernama manusia. Aktivitas mereka menyebabkan goa banyak yang runtuh. Biasanya mereka membawa semacam alat besi batang panjang, ujungnya runcing.  Kemudian ditancap ke dinding-dinding goa dan dipalu dengan godam besar. Suaranya amat berisik. Semakin lama semakin habis goa-goa itu. Sudah banyak yang runtuh, rata dengan tanah. Begitulah cerita kakekku, kenapa kemudian sampai saat ini kami hijrah, bersarang di gedung-gedung tua tak berpenghuni.

*** 

Siang itu, saat aku bersama sekawanan walet yang lain terbang untuk mencari makan. Kami kebingungan mencari lokasi pohon duet itu berdiri. “Tidak salah, ini adalah ladang tempat pohon duet itu, tapi dimana duet itu” pikirku.  Kami berputar-putar selama kurang lebih lima belas menit. Kami susuri setiap sisi gedung yang sebentar lagi akan jadi itu. Semuanya tertegun ketika kebulan asap terbang dari pojok barat bangunan gedung. Kobaran api terlihat dari tungku yang diatasnya ditimpa tong berisi cairan berwarna hitam pekat. Mataku terarah pada ceceran serbuk kayu persis di sekeliling akar pohon yang tersisa kurang lebih sepangjang setengah meter. “Duet sudah tumbang” sesalku.

Kobaran api yang membakar tong itu adalah kayu dari pohon duet yang ditebang. Tak jauh dari sisa batang pohon duet itu, sudah menumpuk pasir dan bebatuan. Nampaknya, ladang itu akan dijadikan lahan parkir bagi gedung yang sebentar lagi akan jadi itu. “sungguh kejam manusia, merusak dan membunuh seisi makhluk yang ada di ladang itu demi untuk kelangsungan hidup mereka sendiri” pikirku.

Aku merasa sangat kehilangan, duet yang selama masa hidupku menjadi arena bermain dan menjadi sumber makanan bagi kelangsungan hidup kami.

Di gedung, tampat kami bersarang, setelah kami pulang. Suasana gaduh, walet seisi gedung berterbangan, berteriak cecuitan, ricuh. Dua manusia masuk kedalam gedung, terlihat membawa bambu panjang yang ujungnya terikat sekop berbentuk kotak.

“Apa yang akan dilakukan mereka,”  masing-masing berlontar tanya. Manusia itu berdiri ditengah gedung. Matanya melirik satu persatu dari tempat-tempat kami bersarang. Aku nangkring di kayu penyanggah atap gedung. Yang lain masih riuh panik berhamburan.

Dua manusia itu mulai bergerak, yang satu ke arah utara, satunya lagi melangkah ke barat gedung. Sejenak mereka berhenti. Menatap keatap, setelahnya mereka satu persatu mengeruk sarang kami. satu persatu sarang kami terjatuh ke lantai gedung. Mereka menumpuk sarang kami dimasukkan ke ember besar. Kemudian mereka menaruh tumpukan jerami di lantai, mereka menyiramnya dengan air. Lalu pergi begitu saja.





  

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel