Belajar Dari Mbah Wahab Chasbullah: Seorang Inisiator dan Organisatoris

Belajar Dari Mbah Wahab Chasbullah: Seorang Inisiator dan Organisatoris
Sumber Foto: bangkitmedia.com
Penulis: Tata Mutaba'ah

Berbicara organisasi kepemudaan di Indonesia, tentunya sangat beragam. Baik itu bentukan dari pemerintah, maupun yang non pemerintah. Ada yang sifatnya murni independen, ada pula yang di bawah naungan organisasi induk. Contohnya  PMII, Ansor dan IPNU-IPPNU. Ketiganya itu berada di bawah organisasi induk bernama Nahdlatul Ulama. 

Dalam setiap organisasi kepemudaan, terdapat ciri khas pada isu yang mereka garap. Terdapat organisasi yang hanya fokus pada satu isu. Namun ada juga yang menggarap lebih dari satu isu. Misal menggabungkan isu agama, sosial, politik dan wirausaha secara berbarengan. Yang kemudian menjadi sebuah garapan besar.
Keunikan dalam sebuah organisasi semacam ini adalah, walaupun terdapat kesamaan isu, tidak menutup kemungkinan, dalam satu organisasi antara pihak satu dengan yang lain, mempunyai tujuan dan ranah gerakan yang berbeda.
Mengupas soal ranah gerakan pada organisasi kepemudaan, tidak bisa terlepas dari seorang sosok atau tokoh yang menjadi pelopor, maupun pembaharu. Peran dari sosok dan tokoh inilah, biasanya yang membuat sebuah organisasi tetap eksis dan substansif, sesuai dengan arah gerakan organisasi tersebut.
Di sini, penulis sangat tertarik mengupas seorang tokoh organisatoris yang nasionalis dan agamis. Beliau, di usia mudanya merupakan seorang inisiator berdirinya organisasi agama yang menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. Beliau adalah almaghfurllah K.H. Abdul Wahab Chasbullah.
Sang inisiator ini lahir di Tambakberas Jombang. Untuk hari, tanggal, bulan dan tahun tidak ada sumber yang dapat menjelaskan pastinya. Dikarenakan waktu itu belum adanya sistem akta kelahiran. Namun, ada salah satu sumber yang memperkirakan beliau lahir pada bulan maret 1888 Masehi.
K.H. Abdul Wahab Chasbullah atau yang biasa disebut dengan Mbah Wahab, adalah ulama pejuang lintas batas. Pergaulannya tidak hanya terbatas di lingkungan kiai saja, tetapi menjamah ke kelompok atau komunitas yang beragama. Kiai Wahab juga bersentuhan dengan kaum nasionalis, tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan, dan pejuang kemerdekaan. Seperti Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, K.H. Ahmad Dahlan, Ir. Soekarno, Dr. Douwes Dekker dan masih banyak lagi.
Masa mudanya mbah Wahab berada di era penjajahan kolonial Belanda, sampai ketika Jepang berkuasa di Indonesia. Menguak pemikiran mbah Wahab, ternyata beliau tidak hanya seorang inisiator organisasi besar NU. Namun sebelum itu pada tahun 1916, ketika beliau berusia 28 tahun, mbah Wahab mendirikan sebuah sekolah bernama Nahdlatul Wathan. Yang artinya kebangkitan tanah air.
Sekolah tersebut didirikan karena dirasa perlunya sebuah wadah pendidikan yang bisa mengakomodir pejuang-pejuang muda saat itu. Yang tentunya ditujukan kepada orang-orang yang paham atas agama dan cinta pada tanah air.
Slogan mbah Wahab yang paling fenomenal ialah Hubbul Wathan Minal Iman, Cinta tanah air adalah bagian dari iman. Siapapun muslim, yang mencintai agamanya harus mencintai tanah airnya. Karena tanah air merupakan bagian dari iman seorang muslim.
Lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan, bisa dianalogikan seperti sekolah tingkat dasar dan menengah kalau sekarang. Memiliki jam operasional dari pukul 08.00- 12.00 WIB. Dan waktu sore digunakan mbah Wahab untuk membuka kursus bagi murid yang berusia 15-25 tahun. Kursus yang diberikan ialah soal pendidikan agama. Dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, dipersiapkan menjadi kiai muda, pejuang agama dan memiliki jiwa yang nasionalis.
Mbah Wahab, bersama K.H Mas Mansur beserta teman-temannya, membuat kurikulum sendiri tanpa mengadopsi dari kurikulum bikinan Belanda. Mbah Wahab, sebelumnya memang sudah merancang lembaga pendidikan, yang nantinya mengajarkan murid-muridnya menjadi patriot-patriot bangsa.
Berdirinya lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan, merupakan implementasi dari slogan beliau “cinta tanah air adalah bagian dari iman.” Selain itu, mbah Wahab juga mempunyai visi dan misi dalam Nahdatul Wathan. Visi dan misi tersebut dituangkan dalam bentuk syair berbahasa arab, dan dinyanyikan setiap kegiatan belajar mengajar akan dimulai. Baik di sekolah Nahdlatul Wathan, maupun ketika kursus akan dimulai. Jika diterjemahkan bunyi syairnya adalah sebagai berikut:
“Hai patriot bangsa, hai patriot bangsa
Cinta tanah itu bagian dari iman
Cintailah tanah airmu, wahai patriot bangsa
Janganlah kalian menjadi bangsa terjajah
Sungguh kemuliaan itu hanya bisa dicapai dengan tindakan
Bukan hanya dengan kata-kata
Maka berbuatlah untuk menggapai cita-cita
Dan janganlah cuma berbicara
Duniamu bukan tempat untuk menetap
Tapi cuma tempat buat berlabuh
Maka berbuatlah sesuai yang Dia perintahkan
Jangan mau jadi sapi perahan
Kalian tak tahu siapa pemutar balik fakta
Kalian tak pikirkan apa yang telah berubah
Di mana perjalanan akan berakhir
Bagaimana peristiwa bisa berakhir
Atau mereka memberimu minum
Juga kepada ternakmu
Atau mereka melepaskanmu dari beban
Ataukah menenggelamkanmu dalam beban
Hai, pemilik pikiran yang jernih
Hai, pemilik hati yang lembut
Jadilah orang yang tinggi cita-cita
Jangan jadi ternak gembala!”
Syair Nahdlatul Wathan tersebut, jika kita baca dengan seksama, dari liriknya saja sudah bisa menggambarkan sekilas bagaimana sosok mbah Wahab. Syair tersebut mengkonfirmasi kalau mbah Wahab adalah seorang kiai yang tidak hanya memikirkan seputar agama saja. Namun beliau juga adalah kiai pejuang, seorang organisatoris muda, dan menjadi inisiator lembaga pendidikan yang peduli terhadap nasib anak-anak muda bangsa Indonesia.
Syair Nahdlatul Wathan, pernah menjadi syair patriotisme yang digaungkan di berbagai pondok pesantren yang ada di Jawa Timur. Syair ini menjadi semacam tambahan semangat bagi bangsa kita secara keseluruhan. Yang kondisinya waktu itu, masih menjadi bangsa terjajah oleh Belanda.
Dalam memperjuangkan bangsa dan negara kita, mbah Wahab tidak pernah menggunakan unsur kebencian. Hal tersebut juga berlaku ketika beliau memperjuangkan Islam. Beliau tidak membawa ajaran Islam dengan mengadopsi Islam yang berada di  tanah Arab, india atau Pakistan.
Bukti cinta tanah air adalah bagian dari iman, dibuktikan mbah Wahab melalui pendidikan Islam dengan kearifan lokal. Cinta tanah air, adalah mencintai budaya warisan bangsa dan menjaganya, tanpa menghapus dan membawa budaya yang tidak bisa disesuaikan dengan konteks budaya lokal. Sama halnya dengan Islam Nusantara. Islam yang menusantara, adalah Islam yang ramah terhadap budaya bangsa Indonesia.
Penggemblengan yang dilakukan mbah Wahab terhadap murid-muridnya di sekolah Nahdlatul Wathan memang gencar dilakukan. Karena penjajah bangsa waktu itu, tidak hanya kaum imperialis Belanda saja. Namun juga kelompok-kelompok Islam pembaharu yang menghantam praktik-praktik keagamaan yang selama ini dilakukan, dan diajarkan para kiai di pesantren.
Kelompok ini dipelopori oleh Jamaluddin al Afghani, Muhammad abduh dan Rasyid Ridha. Kelompok ini mengkampanyekan dan mengajak kembali kepada Al-Qur’an dan hadist secara murni. Selain itu, barisan ini juga berargumen bahwa tahlil, ziarah kubur dan ajaran budaya lokal lainnya adalah bid’ah.
Kondisi tersebut bertepatan pada tahun 1918 Masehi. Bersamaan dengan usia sekolah Nahdlatul Wathan yang masuk dua tahun. Mbah Wahab bersama K.H. Ahmad Dahlan, dan kiai-kiai pengikut madzhab di beberapa pesantren, serta tokoh-tokoh organisasi Boedi Oetomo, berdiskusi mengenai situasi terkini. Dari pembahasan tersebut, akhirnya terbentuklah perhimpunan Tashwirul Afkar.
Perhimpunan Tashwirul Afkar, mendapat dukungan dari beberapa jaringan kiai serta tokoh masyarakat berupa legalitas perhimpunan yang berbadan hukum. Perhimpunan ini, menjadi wadah diskusi para kiai dan tokoh masyarakat, untuk mengantisipasi gempuran-gempuran kaum modernis, reformis atau yang kemudian popular dengan sebutan wahabi.
Keseriusan mbah Wahab dalam membaca fenomena bangsa, tidak hanya membaca penjajah yang jelas terlihat oleh mata. Penjajah terselubung yang akan menambah kehancuran bangsa pun sudah dapat dianalisa oleh mbah Wahab. Kemudian, mbah Wahab membuktikan syairnya beliau: “Bahwa perjuangan tidak hanya cukup dengan kata-kata saja, tapi harus dengan tindakan.” Hal ini yang menjadi catatan tebal untuk kaum muda saat ini.
Sangat banyak hal yang bisa kita pelajari dari sosok luar biasa, bernama mbah Wahab ini. Di usianya yang belum sampai 30 tahun, beliau sudah menjadi seorang inisiator yang luar biasa. Kepiawainnya berjejaring dengan berbagai kelompok, baik elite maupun tradisional adalah buktinya. Selain itu, pisau analisa mbah Wahab sangat luar biasa. Di luar rutinitas kesibukannya sebagai pengajar di sekolah yang ia dirikan, beliau juga dapat menganalisa serangan waktu itu yang sifatnya masih terselubung.
Mbah Wahab, bisa dibilang memberikan pesan-pesan nasionalisme di setiap hembusan nafas pemuda Indonesia. “Pemuda adalah tonggak yang dapat memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Seorang pemuda, jangan mau dijadikan budak di negara sendiri. Karena seorang pemuda dibekali pikiran yang jernih, dan hati yang lembut, serta harus memupuk cita-cita yang luhur untuk kemaslahatan bangsa.
Jika ada yang berkomentar, bahwa mbah Wahab hanya aktivis sosial yang berjuang di lingkungan agama, sosial dan politik, hal tersebut tidaklah benar. Pada tahun yang sama dengan berdirinya perhimpunan Tashwirul Afkar, mbah Wahab juga menginisiasi berdirinya lembaga yang fokus kepada pembangunan sektor ekonomi.
Di tahun 1918, mbah Wahab menghubungi teman-temannya yang ada di Jombang, Kediri dan Surabaya, yang berprofesi sebagai pedangang waktu itu. Mbah Wahab mengajak untuk sama-sama mendirikan lembaga yang dapat menolong pedagang-pedagang kecil. Yang pada masa itu, selalu kalah saing dengan pedagang kaya dari luar, seperti Arab, China dan India.
Mbah Wahab, berharap pedagang pribumi bisa dapat mendapatkan perlakuan yang adil di pasar. Akhirnya, untuk memenuhi harapan tersebut, didirikanlah organisasi Nahdlatut Tujjar. Bisa dikatakan, Nahdlatut Tujjar ini seperti koperasi, yang di dalamnya terdapat anggota-anggotanya.
Nahdlatut Tujjar, menggunakan iuran awal dari anggotanya sebagai modal usaha. Selanjutnya, penghasilan yang didapat akan dibagi rata terhadap para anggotanya. Orientasi organisasi ini ditujukan pada badan usaha jual beli yang mempunyai perputaran pada kelompok pedagang kecil.
Tak akan ada habisnya jika ingin mengulik kecerdasan serta ide-ide brilian dari sang inisiator ini.. Meskipun beliau berasal keluarga kiai, dengan segala privilege yang umumnya dimiliki oleh anak seorang kiai, bisa saja jika beliau lebih memilih makan enak, duduk manis dan mengajar di pesantren abahnya.
Namun seorang mbah Wahab muda tidaklah demikian. Torehan prestasi yang tidak ada sertifikat maupun pialanya, menjadikan beliau seorang pahlawan yang bisa menjadi inspirasi anak muda saat ini. Mungkin kalau majalah Forbes sudah ada sejak jaman mbah Wahab muda, beliau adalah pemuda yang terpilih paling menginspirasi, karena sudah mendirikan tiga organisasi sekaligus dengan isu yang beragam di bawah usia 30 tahun.
Yaa, menjadi anak muda jaman sekarang dengan anak muda jaman dulu memang berbeda. Tantangan yang dihadapi tentunya juga berbeda. Akan tetapi, untuk membangun bangsa yang lebih kokoh, kita perlu belajar dari sejarah tokoh besar masa lalu. Baik  itu sebagai sebuah motivasi, atau menggabungkan ide-ide untuk masa depan nantinya.
Sebagai anak muda, kita perlu mencontoh rasa nasionalisme dan jiwa yang konsisten dari mbah Wahab. Kecerdasan dan kerja keras bisa dilatih tiap hari, namun jiwa yang konsisten dan komitmen patriotisme harus dibentuk sejak dini.
 
Kita memasuki era digital yang semua serba mudah untuk dijangkau. Pendidikan karakter tidak lagi cukup diikrarkan melalui kata-kata saja. Pendidikan karakter juga harus dengan tindakan. Maka kita harus membentuk diri kita, diri anak muda yang mempunyai komitmen kuat untuk menjaga negara kesatuan republik Indonesia, dengan asasnya Pancasila dan menghormati para pahlawan kita, pendiri bangsa kita tercinta. Indonesia.

*Penulis adalah perempuan berkerudung sorban.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel