AKA: Pelopor Rock Jedag-Jedug Tanah Air Era 70an

AKA: Pelopor Rock Jedag-Jedug Tanah Air Era 70an
Sumber Foto: gstatic.com

Penyanyi kribo itu mendapati tubuhnya terikat di tiang panggung, saat dentuman drum menghentak telinga sekitar seribu orang penonton yang hadir malam itu. Tak hanya mengikat panggung, sang penyanyi mulai gila seiring naiknya tempo dan hentakan musik: ia minum darah hewan mentah-mentah!
Bukan pertunjukan sulap apalagi debus, aksi itu merupakan bagian dari koreografi panggung yang diperagakan oleh seorang vokalis grup musik rock di sebuah konser besar berskala nasional. Ialah Ucok AKA Harahap, pentolan AKA--grup musik rock legendaris Tanah Air era 70-an, yang memeragakan adegan menyengkak itu.
Walau kerap menyorong aksi mengerikan sepanjang konser, AKA tak hanya pandai menjual gimik. Musikalitas rock yang mereka usung adalah barang baru bagi masyarakat Bumi Persada. AKA tak memperdagangkan rock 60s yang sudah kadung dikuasai Koes Plus/Bersaudara, apalagi meperdagangkan dangdut yang sudah dirajai Rhoma Irama, mereka memperdagangkan barang yang sama sekali baru di kancah permusikan sebuah negeri, yang sebelumnya tak banyak kenal musik jedag-jedug: rock.
Sang Pelopor
Di Tanah Air, musik rock memang telah lama berdentang seiring Koes Bersaudara mulai bernyanyi untuk pertama kali. Maklum, grup musik yang dimotori Tonny Koeswoyo itu menggarap semua genre, termasuk rock. Namun, AKA menawarkan resep baru dalam racikannya. Mengecap rock-nya Koes Plus/Bersaudara tentunya akan lain rasa dengan “rasanya” AKA.
Dalam Antara Rock, Wanita, dan Keruntuhan: Ucok AKA Harahap karya Siti Nasyi'ah, Remy Sylado mengatakan kalau AKA adalah, “Pelopor musik rock di Tanah Air.” Tidak berlebihan menurut saya apa yang dikatakan Remy Sylado. God Bless saja lahir lima tahun setelah AKA. Ahmad Albar yang mengatakannya sendiri. Ia tak menampik kalau ia dan band-nya bisa lahir karena terinspirasi dari popularitas AKA.
Berbeda dengan Koes Plus/Bersaudara yang menyadur-utuh style rock The Beatles, AKA melakukan kombinasi yang saat itu terbilang radikal. Ucok dkk. tak hanya mengisi aransemennya dengan nuansa rock kebarat-baratan. Seringkali mereka sisipkan scale melodi Jawa dalam dendangannya. Lemah lembutnya nada Jawa, walau dikawinkan dengan kerasnya musik rock, tetap terdengar harmoni dan enak didengar di tangan mereka.
AKA banyak terinspirasi dari band-band rock kenamaan dunia macam Led Zepellin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Bee Gees.
Bicara nama, Ucok mengatakan kalau AKA adalah singkatan dari Apotik Kaliasin, apotik milik papi-nya di Surabaya (Siti Nasyi'ah, 2013). Nama itu ia gunakan karena hampir setiap karya-karyanya lahir dari bilik apotik sang papi. Setelah berulangkali rombak personel, Ucok bersama Syech Abidin, Soenata Tanjung, dan Arthur Kaunang, melahirkan AKA di tahun 1968.
Kehidupannya di dunia musik terbilang sangat sukses. Ucok dan AKA bersulih menjadi legenda. Sudah banyak album yang mereka lahirkan. Setiap generasi tentu mengenal Badai Bulan Desember, misalnya. Atau kalau Anda mau kenal lebih dekat dengan lagu-lagunya, carilah di internet, maka saya yakin Anda tak akan menyangka kalau Crazy Joe, Skip Away, Shake Me, dan Do What You Like adalah lagu-lagu asli buatan arek-arek Suroboyo itu.
Popularitas AKA juga kian mengerek nama Ucok AKA Harahap ke dunia perfilman. Anda pasti tahu film Darah Muda-nya Rhoma Irama, bukan? Ucok lah lawan main si raja dangdut dalam film itu. Selain Darah Muda (1977), ada pula Dikejar Dosa (1974), Bing Slamet Koboi Cengeng (1974), Jeritan Si Buyung (1977), Gadis Penakluk (1980), Ratu Pantai Selatan (1980), dan tentu saja Duo Kribo (1977). Film yang disebutkan terakhir itu adalah yang terhebat menurut saya, karena pemeran utamanya adalah dua orang legenda musik tanah air, Ucok dan Ahmad Albar.
Kisah Keruntuhan
Sayang, seperti sudah menjadi kutukan bagi setiap grup musik di dunia, tercerai-berai adalah keniscayaan yang bukannya ditampik mentah-mentah, melainkan mesti disambut dengan hangat. AKA mengalami itu.
Ceritanya begini. AKA mengalami surut kreativitas dan kehilangan ide. Akibat itu, grup memanas dan terjadilah saling tuding antar personel. Seperti melengkapi situasi yang sama sekali tak mengenakkan itu, Ucok alih fokus. Konsentrasinya tidak lagi didedikasikan pada AKA, melainkan pada kekasihnya, Farida, yang ia culik dari kediamannya ke Jakarta.
Farida adalah putri dari seorang pejabat militer Orde Baru yang Ucok bawa kawin-lari ke Ibukota. Cerita kawin-lari itu dimulai sejak si pejabat militer menggelar konser AKA secara terbatas di rumahnya. Pada konser tersebut, Farida mencuri perhatian Ucok. Seperti kebanyakan plot dalam kisah fairy tale klise, Ucok jatuh cinta. Sayang, si pejabat tak setuju karena ia tak suka kepribadian para rocker yang liar dan tak beraturan. Singkat cerita, diculiklah Farida dari kediamannya oleh sang vokalis untuk menikah dengannya. Tak dinyana, ternyata Farida mau, maka terekamlah adegan kawin lari itu dalam pita sejarah hidup Ucok.
Akibat dari penculikan itu, Ucok mesti sembunyi dari hingar-bingar dunia hiburan Tanah Air agar tak diburu ayah Farida. Berita infotainment belum semasif sekarang. AKA memang terkenal. Namun, wajah personel-personelnya tak banyak diingat masyarakat bahkan oleh para penikmatnya sendiri. Musik-musiknya saja lebih banyak didengar lewat pita kaset ketimbang televisi. Mereka lebih sering didengar daripada ditonton. Akibatnya, tak ada satupun orang yang mengetahui keberadaan mereka. Atau, jikapun ada, pasti mereka tak ngeh kalau yang dijumpainya adalah rockstar. Keduanya pun lenyap ditelan waktu. Seiring hilangnya Ucok dari pandangan mata setiap orang, lenyap pulalah popularitas AKA.
Kini, AKA hadir melalui ingatan, sedikit buku, dan segelintir file audio beberapa lagunya yang kualitasnya begitu menyedihkan di platform digital. Tak ada royalti untuk Ucok dkk. Barangkali, jejak sejarah AKA hanya mampu kita temukan di selingkungan penggemar-penggemarnya yang terbatas. Ya ampun, betapa boroknya ketersambungan sejarah musik populer negeri kita. Apapun itu, AKA tetaplah legenda musik rock yang harusnya tak luput dari ingatan masyarakat musik Tanah Air.
Mari kita ingat. Mari kita dengar.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel